Persiapan Menyambut Ramadan: Doa, Fisik, dan Batin
Menjelang datangnya bulan Ramadan 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari 2026, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri secara menyeluruh. Salah satu bentuk persiapan ini adalah dengan membaca doa menyambut Ramadan. Doa ini menjadi bentuk harapan agar Allah SWT memberikan umur panjang, kesehatan, serta kemampuan menjalankan ibadah secara optimal selama bulan suci.
Ramadan bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga momentum istimewa yang Allah SWT berikan untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, dan meraih ampunan-Nya. Karena itu, menyambut Ramadan dengan doa menunjukkan kesiapan hati seorang mukmin dalam menyambut “tamu agung” yang dinanti setiap tahun.
Doa Menyambut Ramadan
Dalam salah satu ceramahnya, Ustaz Ammi Nurbaits menjelaskan bahwa doa menyambut Ramadan diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, seorang ulama tabi’in. Doa tersebut diyakini sebagai doa yang biasa dipanjatkan oleh orang-orang saleh di masa awal Islam, bahkan memiliki kemungkinan berasal dari praktik para sahabat Rasulullah SAW.
Doa tersebut berbunyi:
“Allahumma sallimni ila ramadhana wa sallim li ramadhana wa tasallamhu minni mutaqabbalan.”
Artinya:
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga bertemu Ramadan, antarkanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadan.”
Menurut Ustaz Ammi, doa ini mengandung tiga permohonan penting:
Allahumma sallimni ila ramadhana
Permintaan agar Allah memberi kesehatan fisik, kekuatan mental, serta umur panjang hingga dapat bertemu Ramadan.wa sallim li ramadhana
Memohon kemudahan dalam menjalankan seluruh ibadah Ramadan, mulai dari puasa hingga ibadah malam.wa tasallamhu minni mutaqabbalan
Harapan agar semua amal ibadah selama Ramadan diterima oleh Allah SWT.
Persiapan Fisik Menjelang Bulan Ramadan
Selain berdoa, persiapan menjelang Ramadan juga perlu dilakukan secara fisik dan batin. Ustaz Ammi menjelaskan bahwa aktivitas Ramadan menuntut kekuatan fisik karena melibatkan puasa di siang hari serta qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, dan sedekah di malam hari.
Karena itu, bulan Syaban dianjurkan sebagai masa pemanasan, termasuk membiasakan puasa sunnah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang memperbanyak puasa di bulan ini.
“Coba lakukan persiapan fisik, karena kegiatan di bulan Ramadan meliputi puasa, qiyamul lail, tadarus, sedekah. Dari keempat kegiatan ini, manusia jihad fisik siang malam. Di siang hari puasa, malam salat malam. Konsekuensinya berat beraktivitas siang hari. Maka pemanasan sebelum Ramadan,” ujar Ustaz Ammi.
Dari sisi ibadah, umat Islam juga dianjurkan mendekatkan diri dengan Al-Qur’an sebelum Ramadan. Membentuk halaqah tadarus sederhana, bahkan hanya berdua, dinilai efektif untuk melatih konsistensi membaca Al-Qur’an.
Tak heran jika para hafiz dan pencinta Al-Qur’an memperbanyak bacaan mereka sejak Syaban. “Dikatakan selama bulan Syaban, Rasulullah dikatakan berpuasa hampir satu bulan utuh. Ini menunjukkan bulan Syaban momentum memperbanyak ibadah sebelum Ramadan,” jelasnya.
Para ulama mengibaratkan bulan Syaban ini ibarat qobliyah salat. Agar masuk ke bulan Ramadan sudah lebih siap. Begitu juga dengan sedekah, bisa dimulai dari bulan Syaban, misalnya ikut menyumbang untuk buka puasa Ramadan atau mempersiapkan belanja kebutuhan untuk Lebaran, agar nanti tidak mengganggu ibadah selama Ramadan.
“Misalkan Anda punya niat bagikan parsel lebaran untuk tetangga atau orang tak mampu, bisa dilakukan pada bulan Syaban. Sehingga nanti pada saat Ramadan tidak ada lagi yang jalan ke mal atau pasar,” ujar Ustaz Ammi.
Persiapan Batin
Persiapan batin pun tak kalah penting. Membersihkan hati dari dosa menjadi kunci agar ibadah Ramadan terasa ringan. Ustaz Ammi mengutip Surah Al-Insyirah yang menggambarkan dosa sebagai beban berat di punggung manusia.
Ketika dosa berkurang, ketaatan pun terasa lebih ringan dan ibadah menjadi lebih khusyuk. “Jadi dosa itu digambar dalam Alquran seperti kita memikul sesuatu. Dengan dosa maka manusia jadi malas baca Alqura, tak mau taat,” pungkas Ustaz Ammi.
Kesimpulan
Dengan doa, persiapan fisik, dan pembersihan batin, umat Islam diharapkan dapat menyambut Ramadan dengan kesiapan lahir dan batin, sehingga setiap amal yang dilakukan bernilai ibadah dan mendapat ridha Allah SWT.







