Perjuangan Seorang Ayah dalam Menghidupi Keluarga dengan Berjualan Bekicot Goreng
Wijiyanto (44), seorang pria dari Kampung Kerten, Karanganyar, memiliki cerita perjuangan yang luar biasa. Ia menghidupi istri, dua anak, dan ibunya dengan berjualan bekicot goreng sejak tahun 2008. Meskipun awalnya dianggap menjijikkan oleh banyak orang, ia tetap bertahan hingga kini meraih omzet kotor antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari.
Proses Pengolahan Bekicot yang Rumit
Bekicot yang dijual Wijiyanto tidak langsung siap konsumsi. Ia melakukan proses pengolahan yang cukup panjang. Awalnya, daging bekicot direbus selama sekitar satu jam. Setelah itu, kepala dan kotorannya dibuang. Daging kemudian dicuci berkali-kali hingga benar-benar bersih dari lendir. Proses ini dilakukan minimal lima kali atau bahkan tujuh kali agar terasa aman dan enak saat dimakan.
Setelah bersih, daging bekicot kemudian dibumbui dengan campuran cabai, garam, kemiri, dan bawang putih yang diulek. Bumbu tersebut menciptakan rasa yang khas dan menarik minat pembeli.
Awal Mula Usaha yang Tidak Lazim
Wijiyanto mengaku bahwa awal mula memilih menjual bekicot sebagai hidangan bukanlah hal mudah. Pada masa itu, banyak orang masih menganggap bekicot sebagai hewan yang tidak layak dikonsumsi. Namun, ia memutuskan untuk mencoba sendiri dan akhirnya menyadari bahwa rasanya cukup enak.
Pada awal usahanya, ia mencari bekicot di kebun warga. Namun, saat musim kemarau, ia mulai menggunakan daging bekicot beku dari Kediri dan Sragen. Hal ini membantu memastikan pasokan tetap tersedia setiap hari.
Kesulitan Awal dan Ketekunan
Meski memiliki resep yang unik dan rasa yang enak, Wijiyanto mengakui bahwa awal berjualan sangat sulit. Banyak orang mengejek dan tidak tertarik membeli. Namun, ia tidak menyerah. Ia memulai dengan berkeliling desa dan pelan-pelan mendapatkan pelanggan setia.
Akhirnya, ia memutuskan untuk berjualan di kawasan Alun-alun Karanganyar. Meski awalnya sulit, ia tetap semangat karena ingin memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, ketika tiga bulan pertama berjualan di sana, ia hampir putus asa. Namun, tekadnya membuatnya terus berjuang.
Menu Lengkap dan Harga yang Terjangkau
Kini, Wijiyanto tidak hanya menjual bekicot goreng. Ia juga menjajakan rica keong dan intip yang dititipkan oleh keluarganya. Harga bekicot goreng adalah Rp5.000 per bungkus, keong Rp3.000 per bungkus, dan intip Rp4.000 per bungkus.
Setiap hari, ia mengolah antara 10 hingga 15 kilogram bekicot. Omzet harian yang ia dapatkan bisa mencapai Rp400.000 hingga Rp500.000. Hasil tersebut digunakan untuk biaya sekolah anak-anak serta sedikit demi sedikit memperbaiki rumah tempat tinggalnya.
Keberhasilan yang Tidak Mudah
Wijiyanto kini menjadi contoh bagi banyak orang. Dengan tekad dan ketekunan, ia berhasil mengubah sesuatu yang dianggap menjijikkan menjadi bisnis yang sukses. Ia tidak hanya memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi juga memberikan pilihan kuliner yang unik bagi masyarakat sekitar.
Perjalanan Wijiyanto mengajarkan bahwa kesuksesan tidak selalu datang dengan jalan yang mudah. Dibutuhkan keberanian, ketekunan, dan keyakinan pada diri sendiri. Dengan begitu, segala tantangan akan bisa dihadapi dan diatasi.





