Kasus Penganiayaan ART yang Menyeret Erin Kembali Jadi Perbincangan
Kasus dugaan penganiayaan terhadap mantan asisten rumah tangga (ART) yang menyeret nama Rien Wartia Trigina alias Erin kembali menjadi sorotan. Isu ini muncul setelah unggahan akun Threads @niadamanik7 yang menyebutkan bahwa Erin diduga melakukan penganiayaan terhadap ART hingga tidak memberikan gaji. Unggahan tersebut diketahui berasal dari Nia Damanik, penyalur tenaga kerja ART yang bekerja di rumah Erin.
Pihak Erin sebelumnya merasa tidak puas dengan tudingan tersebut dan melaporkan mantan ART ke Polres Metro Jakarta Selatan atas dugaan pencemaran nama baik. Namun, kasus ini justru semakin membesar dan belum menemui titik terang.
Ganti Pengacara Berkali-kali
Di tengah berjalannya kasus ini, Erin diketahui telah mengganti kuasa hukumnya sebanyak tiga kali. Terakhir, pengacara Sunan Kalijaga memutuskan untuk mundur meskipun sebelumnya aktif dalam membela Erin. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari praktisi hukum Jaenudin, yang menilai ada kejanggalan dalam proses penggantian kuasa hukum tersebut.
Jaenudin menyoroti fakta bahwa kuasa hukum pertama dan kedua secara tiba-tiba mengundurkan diri tanpa penjelasan yang jelas. Ia juga mempertanyakan alasan perubahan kuasa hukum yang ketiga kalinya, yang dinilai tidak wajar.
“Jadi kuasa hukum pertama dan kedua itu entah mengundurkan diri karena apa. Dan sekarang untuk ketiga kalinya mengganti kuasa hukumnya dan itu juga menjadi pertanyaan tersendiri ada apa dan kenapa gitu,” ujar Jaenudin.
Solusi Secara Kekeluargaan
Menurut Jaenudin, kasus antara Erin dan mantan ART seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ia menilai hubungan antara majikan dan ART tidak jauh berbeda dengan hubungan antara bos dan karyawan di perusahaan.
“Sebenarnya sejak awal saya menilai kasus ini sebenarnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Karena kasus antara majikan dan ART ini sama lah seperti kasus yang ada dalam sebuah perusahaan antara bos dan karyawan itu enggak beda jauh gitu.”
Namun, ia juga menyebut bahwa ART memiliki hak untuk melaporkan perkara jika merasa dirugikan. “Hanya mungkin ART ini cenderung lebih nyaman untuk melaporkan kasus ini sehingga dari sisi Erin sendiri merasa dirinya dicemarkan.”
Dampak pada Keluarga Erin
Imbas dari ramainya kasus ini turut berdampak pada kehidupan pribadi Erin. Anak-anaknya disebut ikut merasakan dampak dari pemberitaan yang terjadi. Erin mengungkapkan bahwa situasi ini membuat keluarganya menjadi sorotan publik.
“Ini kan lagi sesinya ujian ya anak-anak, anak saya yang kelas 12 lagi ujian, anak saya yang di London juga lagi ujian, jadi ini agak terganggu lah dengan adanya pemberitaan seperti ini,” ungkap Erin.
Meski begitu, Erin tetap berusaha memberikan dukungan kepada ketiga anaknya agar tidak terpengaruh oleh pemberitaan tersebut. Ia juga menegaskan akan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dalam kasus ini.
“Tapi saya tetap terus kasih pengertian, saya rangkul lah. Ya Mama akan buktikan semua kalau ini nggak benar.”
Penolakan terhadap Laporan Tanpa Komunikasi
Sementara itu, kuasa hukum Erin, Misyal Achmad, menyayangkan tindakan pihak ART yang membuat laporan tanpa adanya pembicaraan terlebih dahulu. Ia menilai hal ini membuat pemberitaan menjadi liar di masyarakat.
“Harusnya beliau duduk bicara baik-baik, bukan langsung membuat laporan dan jadi liar laporan ini. Nah sekarang dia punya kewajiban untuk membuktikan laporan itu,” ujarnya.






