Penjelasan Erin Mengenai Pengambilan Barang ART-nya
Erin, yang merupakan mantan istri dari Andre Taulany, menghadapi dugaan penganiayaan oleh tiga asisten rumah tangganya (ART). Ketiga ART tersebut, yakni Herawati, Siti, dan Nur Rohmah, memilih untuk meninggalkan rumah Erin setelah menilai bahwa situasi di sana tidak sehat. Mereka juga menyatakan bahwa mereka tidak membawa barang-barang pribadi mereka saat pergi.
Ketiganya mengklaim bahwa mereka meninggalkan barang seperti KTP dan HP di rumah Erin. Namun, Erin membantah tudingan ini. Ia menegaskan bahwa ia tidak tahu apakah ada barang yang tertinggal atau tidak. “Saya enggak tahu itu tiga orang atau enggak. Enggak. Bukan tiga orang,” jawab Erin dengan nada kesal.
Perilaku ART dan Penjelasan Erin
Erin juga menyampaikan kekecewaannya terhadap perilaku ketiga ART-nya, khususnya Nur Rohmah yang kabur dengan cara memanjat pagar. Menurut Erin, hal ini dianggap tidak etis karena seharusnya para ART keluar dengan cara yang baik-baik. “Masuk baik-baik kan harusnya keluar juga baik-baik. Padahal saya udah bilang sama dia, sabar ya ini penyalur kamu lagi nyariin pengganti kamu,” jelas Erin.
Namun, Erin juga mengakui bahwa ia merasa panik akibat kasus dugaan penganiayaan yang sedang ramai dibicarakan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menahan ponsel milik Nur Rohmah sebagai langkah pencegahan. “Iya, karena kan memang gara-gara kejadian ini jadi handphone memang saya pegang dulu nih. Karena kan mereka sempat, ya ini tahu sendiri kan, ini buat bukti segala macam kan takut dipengaruhi dari sisanya mereka kan. Jadi ya saya amankan,” ujar Erin.
Pengakuan Nur Rohmah
Nur Rohmah, salah satu ART yang kabur, memberikan pengakuan tentang perlakuan kasar yang dialaminya selama bekerja di rumah Erin. Ia mengungkap bahwa Erin sering menggunakan kata-kata kasar dan ancaman kepada dirinya. “Ada ancaman sama ditekan kayak misalnya jangan ikut urusan saya sama Mbak Hera, nanti kamu saya laporin ke polisi,” terang Nur.
Selain itu, Nur juga mengungkap bahwa HP-nya masih disita oleh Erin. “Udah tiga minggu lebih, masih di sana belum dikembaliin. Pas saya mau kabur itu sempat dua kali minta HP, kayak ‘Ibu maaf, saya mau ambil HP, mau pinjam sebentar’ Ibu bilang nanti. Terus saya balik lagi ‘Ibu maaf saya mau telepon keluarga, boleh enggak minjem sebentar?’ Iya, nanti saya siapin kayak gitu. Tapi enggak dikasih-kasih,” cerita Nur.
Masalah Gaji dan Identitas
Selama hampir dua bulan bekerja, Nur tidak bisa mengambil gajinya karena HP, kartu ATM, dan KTP-nya ditahan oleh Erin. “Mau dua bulan, gaji pertama sudah dibayarkan kata ibu tapi ditransfer di HP cuman enggak dikasih struknya. Terus saya minta cash 300,” lanjut Nur.
Kendala lain yang dihadapi Nur adalah ketidakmampuannya untuk mengecek mutasi rekening di bank karena KTP-nya ditahan. “Belum, enggak bisa soalnya harus ada KTP. KTP, kartu ATMnya masih di sana. KTP kan ditahan di sana,” tambahnya.
Penahanan KTP dan HP
Nur juga menceritakan bahwa sejak awal bekerja, Erin sudah menahan HP dan KTP para ART-nya. “KTP ditahan semua. Pas datang juga ditahan sama security. Cuman pas kejadian Mbak Hera keluar itu (dugaan penganiayaan), semua KTP langsung dipegang Ibu. Soalnya Ibu ada ngancem gini ‘KTP saya pegang ya, kalian berdua nanti saya laporin ke polisi,” jelas Nur.






