Penyebab GERD Bisa Semakin Parah Saat Hamil
Kehamilan sering kali membawa berbagai perubahan pada tubuh ibu. Salah satu kondisi yang umum terjadi adalah GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), yaitu kondisi di mana asam lambung naik ke kerongkongan secara terus-menerus. Hal ini bisa menyebabkan gejala seperti heartburn, rasa panas di dada, mual, atau bahkan regurgitasi asam. Bagi sebagian ibu hamil, keluhan ini bisa lebih mengganggu dibanding sebelum hamil.
Untuk menjelaskan mengapa GERD bisa semakin parah selama kehamilan, dokter kandungan Yusufa Farasyid memberikan penjelasan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Berikut beberapa penyebab utama dari kondisi ini:
1. Perubahan Hormon
Selama kehamilan, kadar hormon progesteron meningkat secara signifikan. Salah satu efek dari peningkatan ini adalah membuat otot di bagian bawah kerongkongan, atau sfingter esofagus bawah (LES), menjadi lebih relaks dari biasanya. LES berfungsi sebagai pintu penghalang yang mencegah asam lambung naik ke kerongkongan. Saat otot ini mengendur, kemampuan penghalang menurun, sehingga asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Kondisi inilah yang memicu munculnya GERD.
2. Gerakan Lambung dan Usus Melambat

Hormon progesteron juga memperlambat pengosongan lambung dan pergerakan usus. Lambatnya proses ini terjadi karena progesteron menurunkan kontraksi otot polos di lambung dan usus, sehingga makanan dan asam lambung bergerak lebih lambat melalui saluran pencernaan. Akibatnya, makanan dan asam lambung tertahan lebih lama di lambung, meningkatkan tekanan di dalamnya dan mempermudah terjadinya refluks. Tekanan yang meningkat ini memicu GERD.
3. Tekanan Rahim yang Membesar

Seiring bertambahnya usia kehamilan, rahim terus membesar dan mulai menekan lambung dari atas. Tekanan ini meningkatkan tekanan intraabdomen, yaitu tekanan di rongga perut yang memengaruhi organ-organ di sekitarnya. Ketika tekanan meningkat, asam lambung lebih mudah terdorong naik ke kerongkongan, sehingga risiko terjadinya refluks menjadi lebih tinggi. Kondisi ini membuat gejala GERD semakin terasa parah, terutama pada trimester kedua dan ketiga, saat rahim mencapai ukuran yang lebih besar dan menekan lambung lebih kuat.
Mengapa Beberapa Ibu Hamil Tidak Merasakan GERD?

Tidak semua ibu hamil akan merasakan gejala GERD, meski tubuh mereka mengalami kondisi yang sama. Respons tubuh setiap individu berbeda-beda, tergantung pada sensitivitas sfingter esofagus bawah (LES), seberapa cepat lambung dan usus bergerak, serta kombinasi hormon yang bekerja selama kehamilan. Selain faktor tubuh, pola makan juga memiliki peran penting. Ibu hamil yang makan dengan lebih teratur, membagi porsi kecil tapi sering, dan menghindari makanan yang bisa memicu refluks seperti pedas, kopi, atau gorengan, cenderung mengalami gejala yang lebih ringan atau bahkan tidak merasakannya sama sekali.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah stres dan kondisi psikosomatik. Beberapa Mama justru mengalami penurunan stres atau perubahan fokus tubuh selama kehamilan, sehingga gejala GERD tidak muncul atau malah membaik dibanding sebelumnya.
Ingat, Keluhan GERD Tidak Selalu Memburuk pada Semua Ibu Hamil

Keluhan GERD memang bisa jadi lebih mengganggu saat hamil. Namun, ingat, GERD tidak selalu memburuk pada semua ibu hamil. Beberapa Mama mungkin merasakan gejalanya semakin berat, sementara sebagian lainnya tetap stabil, bahkan ada yang justru membaik. Hal ini terjadi karena intensitas dan frekuensi keluhan bisa sangat bervariasi antar individu. Selain itu, GERD bersifat dinamis dan dapat naik-turun sesuai dengan kondisi tubuh serta aktivitas sehari-hari. Meskipun gejala bisa naik-turun, semua variasi ini masih tergolong normal selama kehamilan.
Jadi, keluhan GERD bisa semakin parah saat hamil menurut dokter. Namun, GERD saat hamil tidak selalu memburuk pada semua ibu hamil. Ada yang makin berat, ada yang tetap, bahkan ada yang membaik—dan semuanya masih dalam spektrum normal.






