Peristiwa Penggunaan Wajah Tanpa Izin dalam Film “Pesta Babi”
Mama Yasinta, seorang perempuan adat dari Suku Marind-Anim di Papua Selatan, melaporkan kepolisian terkait penggunaan wajahnya dalam film dokumenter Pesta Babi tanpa izin. Ia mengungkapkan bahwa dirinya baru mengetahui keberadaan wajahnya dalam film tersebut pada April 2026. Hal ini membuatnya merasa dirugikan dan menyebut pihak pembuat film sebagai “penjahat”.
Kuasa hukum Mama Yasinta menyatakan bahwa kliennya diduga dieksploitasi tanpa persetujuan yang sah. Ia meminta agar pemutaran film Pesta Babi dihentikan dan pihak terkait diproses secara hukum.
Pernyataan Publik dan Kekecewaan Mama Yasinta
Mama Yasinta, yang juga dikenal sebagai tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan dari Merauke, menyampaikan pernyataannya secara terbuka. Ia mengecam penyebaran film yang telah diputar di berbagai daerah hingga diunggah ke platform YouTube. Ia menyebut pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan film sebagai penjahat karena menampilkan dirinya tanpa persetujuan.
“Tanpa izin dari saya tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka! Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati,” ujar Mama Yasinta di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026) malam.
Ia mengaku baru mengetahui wajahnya muncul dalam film tersebut saat menghadiri pemutaran film di Aula Susteran Maranatha, Jayapura, pada 8 April 2026. Terbaru, ia terlihat mendatangi Mapolda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026) sore bersama tim kuasa hukumnya.
Penjelasan Kuasa Hukum
Daulay T.S. Hamonangan, kuasa hukum Mama Yasinta, menjelaskan bahwa pihaknya masih berkonsultasi dengan penyidik terkait dugaan kerugian yang dialami kliennya akibat publikasi film Pesta Babi. Rencananya, laporan polisi akan dibuat setelah proses konsultasi tersebut selesai dilakukan.
“Laporan ke Polda Metro Jaya hari ini adalah untuk personaliti-nya Mama Sinta. Seorang anak bangsa, berusia 62 tahun, dieksploitasi tanpa perizinan yang sah dan pengakuan yang sah dari Mama Sinta,” kata Daulay.
Daulay belum mengungkap secara rinci pihak yang akan dilaporkan dalam perkara tersebut. “Ini proses dulu, nanti sudah selesai baru kami lanjutkan kembali, karena tadi baru konseling dan kesibukan teman-teman di Polda Metro Jaya ini,” tambahnya.
Teguran Kembali dari Mama Yasinta
Mama Sinta kembali menegaskan kekecewaannya karena merasa keterlibatannya dalam film tersebut tidak pernah mendapat persetujuan darinya. Menurut dia, film Pesta Babi telah diputar di berbagai daerah dan kini juga dapat diakses melalui YouTube.
“Mereka putar film pesta babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali! Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka! Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati!” tegas Sinta dalam kesempatan yang sama.
Ia mengaku pertama kali mengetahui keberadaan film tersebut saat dibawa ke Papua oleh seseorang yang ia sapa Bang Tigor. Saat itu ia mengira akan ada acara “potong babi”. Namun setelah film diputar, ia baru mengetahui bahwa tayangan tersebut merupakan film berjudul Pesta Babi.
Ia pun mempertanyakan alasan wajahnya ditampilkan dan disebarluaskan tanpa persetujuannya.
“Kenapa wajah saya bisa dibawa ke mana-mana lewat film itu? Apa saya ini boneka? Apa saya patung Asmat yang sudah diukir? Orang Papua bilang itu patung Asmat, ukiran itu. Saya bukan ukiran Asmat!” tegas Mama Sinta.
Permintaan untuk Menghentikan Film
Karena itu, Mama Sinta meminta agar publikasi film tersebut dihentikan. Ia juga meminta aparat kepolisian memproses pihak-pihak yang masih memutar film tersebut.
“(Saya minta) Dihentikan! Mulai dari hari ini dihentikan! Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu,” tuturnya.
Tanggapan dari Sutradara
Sutradara Dandhy Laksono memberikan pernyataan terkait pengakuan Mama Yasinta Moiwend yang mengaku dijebak tampil di Film Pesta Babi. Dandhy Laksono meminta publik tidak terburu-buru menghujat Mama Sinta yang kini mengaku kecewa terhadap film dokumenter tersebut.
Menurut Dandhy, publik tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya dialami Mama Sinta hingga akhirnya muncul pengakuan berbeda soal dukungannya terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwend di pedalaman Papua sana,” tulis Dandhy dalam sebuah postingan di X.
Dandhy juga meminta masyarakat menahan diri untuk tidak menghakimi Mama Sinta. “Apapun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau. Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan?” sambung Dandhy.






