Komentar Menlu Iran Mengenai Gencatan Senjata dan Peran Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan tajam mengenai tindakan yang dianggapnya bodoh oleh Amerika Serikat jika gencatan senjata dan diplomasi yang sedang dipersiapkan gagal. Ia menyoroti bahwa AS berisiko memicu konflik yang lebih besar jika tidak mampu mengendalikan tindakan Israel yang terus-menerus menyerang Lebanon.
Serangan udara yang dilakukan oleh pasukan Israel terhadap wilayah Lebanon telah berlangsung secara intensif, bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku. Akibatnya, ratusan orang telah kehilangan nyawa mereka dalam beberapa hari terakhir. Araghchi menilai bahwa tindakan ini membahayakan stabilitas regional dan bisa meruntuhkan upaya perdamaian yang sedang dibangun.
Ia juga menyoroti persidangan kasus korupsi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang akan berlanjut pada minggu mendatang. Dari sudut pandang Araghchi, Netanyahu memiliki motif tersembunyi untuk terus memperkuat konflik demi kepentingan pribadi. “Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat proses pemenjaraannya,” tulis Araghchi melalui media sosial.
Araghchi kemudian memberikan pesan tegas kepada Amerika Serikat yang sebelumnya membantah bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata awal. Ia memperingatkan dampak ekonomi yang akan diderita Washington jika diplomasi ini gagal. “Jika AS berniat menghancurkan ekonominya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu adalah pilihan mereka. Kami pikir itu tindakan bodoh, tetapi kami siap menghadapinya,” tegasnya.
Pernyataan ini merupakan balasan terhadap retorika Wakil Presiden AS, JD Vance, yang sebelumnya memperingatkan Iran agar tidak membiarkan gencatan senjata berantakan karena isu Lebanon. Vance menyebut bahwa kegagalan gencatan senjata akibat sikap Iran akan menjadi pilihan yang bodoh.
Sejak gencatan senjata diumumkan, perbedaan pendapat mengenai apakah kesepakatan itu berlaku untuk Lebanon telah menjadi ancaman utama bagi masa depan perdamaian. Pejabat dan media Iran mengisyaratkan bahwa Teheran mungkin akan merespons secara militer terhadap serangan Israel di Lebanon atau memblokade Selat Hormuz guna memastikan Lebanon masuk dalam cakupan gencatan senjata.
Tindakan Trump dan Vance Terhadap Serangan Israel
Pada hari Kamis, Presiden Donald Trump mengaku telah meminta pemerintah Israel untuk mengurangi intensitas operasi militer mereka di Lebanon. Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengatakan telah berbicara dengan Netanyahu agar bersikap lebih menahan diri dalam melancarkan serangan.
Senada dengan Trump, JD Vance juga mengeklaim pada hari Rabu bahwa pihak Israel telah setuju untuk sedikit membatasi diri di wilayah Lebanon. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda. Serangan Israel tidak menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun Lebanon baru saja melewati salah satu hari paling berdarah dalam sejarahnya dengan korban tewas melampaui 300 orang.
Israel meluncurkan beberapa serangan mematikan baru di Lebanon pada Kamis, termasuk serangan yang menewaskan empat petugas penyelamat di kota Borj Qalaouiye, wilayah selatan. Pasukan Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi untuk area Jnah di Beirut, yang merupakan lokasi dua rumah sakit terbesar di negara tersebut serta pemukiman bagi puluhan ribu warga sipil.
Rekam Jejak Amerika Serikat dalam Persoalan Ini
Amerika Serikat memiliki rekam jejak dalam mengeklaim bahwa Israel setuju membatasi serangan militer, namun kenyataannya serangan terus berlanjut. Sebagai contoh pada 2024, pemerintahan Joe Biden bersikeras bahwa operasi Israel di Rafah hanya bersifat terbatas, meski pada akhirnya militer Israel menghancurkan hampir seluruh infrastruktur di sana.
Strategi bumi hangus yang terjadi di Rafah kini dikhawatirkan akan direplikasi oleh pejabat Israel di Lebanon Selatan untuk memastikan perpindahan penduduk secara permanen. Konflik di Lebanon sendiri berubah menjadi perang total pada awal Maret setelah Hizbullah menembakkan roket sebagai respons atas serangan Israel dan pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei pada 28 Februari lalu.
Sejak gencatan senjata terpisah pada November 2024, Israel tercatat terus meluncurkan serangan hampir setiap hari ke Lebanon. Serangan-serangan tersebut mencakup pemboman luas terhadap berbagai infrastruktur sipil di wilayah Lebanon.







