Matesih, Kecamatan yang Menyimpan Keajaiban Tersembunyi
Matesih sering dianggap sebagai jalur alternatif menuju Tawangmangu. Namun, kecamatan di Kabupaten Karanganyar ini justru menyimpan banyak destinasi wisata tersembunyi yang belum ramai dikunjungi wisatawan. Bagi yang ingin liburan lebih tenang, jauh dari keramaian, dan tetap memanjakan mata, Matesih adalah tempat singgah yang sayang untuk dilewatkan.
Dari wisata sejarah dengan nilai budaya yang kental, wisata religi yang penuh ketenangan, hingga kuliner dan wisata alam dengan panorama eksotis yang cocok untuk foto, semuanya bisa ditemukan di sini. Berikut lima destinasi wisata hidden gem di Matesih yang wajib masuk dalam itinerary kalian.
Astana Mangadeg & Astana Giribangun: Wisata Sejarah Bernuansa Spiritual
Matesih bukan hanya tentang alam, tapi juga menjadi saksi sejarah penting bangsa Indonesia. Di kawasan ini, berdiri dua kompleks makam tokoh besar nasional. Astana Mangadeg merupakan makam Raja Mangkunegaran I, Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Sementara Astana Giribangun menjadi tempat peristirahatan terakhir Presiden ke-2 RI, Soeharto, beserta keluarganya.
Selain memiliki nilai sejarah yang kuat, kawasan ini menawarkan arsitektur Jawa klasik dengan lanskap lereng Gunung Lawu yang menyejukkan mata. Cocok untuk wisata religi, edukasi, sekaligus refleksi diri.
Lokasi:
Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Situs Watu Kandang: Jejak Peradaban Ribuan Tahun Silam
Bagi pecinta sejarah purbakala, Situs Watu Kandang menjadi destinasi yang tak boleh dilewatkan. Situs peninggalan zaman Megalitikum ini berupa susunan batu-batu besar yang diyakini sebagai tempat ritual nenek moyang. Berada di tengah suasana pedesaan yang tenang, kunjungan ke Watu Kandang terasa seperti perjalanan waktu menuju masa prasejarah. Tempat ini cocok bagi wisatawan yang menyukai wisata edukatif dan kontemplatif.
Lokasi:
JL. Raya Matesih-Tawangmangu, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Sapta Tirta Pablengan: Wisata Air Sarat Sejarah dan Legenda
Sapta Tirta Pablengan dikenal sebagai ikon wisata Matesih. Daya tarik utamanya adalah tujuh sumber mata air alami yang masing-masing memiliki rasa dan khasiat berbeda. Mulai dari air bleng yang asin untuk bahan makanan tradisional, hingga air hangat yang dipercaya membantu meredakan penyakit kulit. Tempat ini juga erat kaitannya dengan kisah Pangeran Sambernyawa, menjadikannya destinasi wisata spiritual sekaligus relaksasi.
Lokasi:
Desa Pablengan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Watu Jodo: Tempat Istirahat Nyaman untuk Keluarga
Jika ingin wisata santai tanpa harus trekking atau berjalan jauh, Watu Jodo bisa jadi pilihan. Destinasi ini mengusung konsep wisata keluarga modern dengan nuansa alam. Tersedia restoran bernuansa bambu, kolam renang anak dan dewasa, serta area bermain yang cocok untuk semua usia. Watu Jodo sering dijadikan tempat singgah favorit sebelum atau sesudah perjalanan ke Tawangmangu.
Lokasi:
Jalan Raya Matesih–Tawangmangu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Air Terjun Jurang Jero: Pelarian Tenang dari Hiruk Pikuk Kota
Meski secara administratif berada di Kecamatan Karangpandan, Air Terjun Jurang Jero sangat mudah diakses dari Matesih. Air terjun setinggi sekitar 30 meter ini menawarkan suasana alami yang masih terjaga. Dikelilingi pepohonan hijau dan suara gemericik air yang menenangkan, Jurang Jero cocok untuk kalian yang ingin healing sejenak sebelum kembali ke rutinitas.
Lokasi:
Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan (akses via Matesih), Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Matesih, Destinasi Singgah yang Layak Jadi Tujuan
Matesih bukan sekadar jalur lewat menuju Tawangmangu. Kawasan ini menyimpan potensi wisata lengkap, mulai dari alam, sejarah, hingga religi yang masih relatif sepi dan alami. Jadi, saat kalian berlibur ke Tawangmangu, luangkan waktu untuk singgah di Matesih. Siapa tahu, justru di sinilah kalian menemukan pengalaman liburan yang lebih berkesan dan berbeda.







