Sejarah Jembatan Merah, Saksi Perjuangan Kota Surabaya
Jembatan Merah adalah salah satu ikon bersejarah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kawasan Surabaya. Dikenal sebagai tempat yang menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, jembatan ini tidak hanya menjadi penghubung fisik antara dua sisi Sungai Kalimas, tetapi juga menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia.
Awal Mula dan Peran Strategis
Sejarah Jembatan Merah dimulai dari era kolonial Belanda. Pada masa itu, jembatan ini dikenal dengan nama Roode Brug atau Jembatan Merah. Letaknya yang strategis menjadikannya sebagai penghubung utama antara kawasan perdagangan di sisi timur Sungai Kalimas yang dihuni oleh komunitas Tionghoa dan Arab dengan kawasan barat yang menjadi pusat pemerintahan kolonial.
Peran Jembatan Merah dalam perkembangan ekonomi Surabaya sangat signifikan. Di masa kolonial, kawasan ini menjadi pusat bisnis dan perdagangan yang aktif. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari perjanjian antara Pakubuwono II dari Mataram dan VOC pada 11 November 1743, yang menempatkan wilayah seperti Surabaya di bawah pengaruh VOC.
Pembangunan dan Ciri Khas
Jembatan Merah yang kita kenal saat ini dibangun pada tahun 1809 selama masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Sejak awal pembangunannya, jembatan ini memiliki warna merah yang menjadi ciri khas hingga kini. Fungsinya adalah menghubungkan kawasan timur Sungai Kalimas yang didominasi permukiman Arab dan Pecinan dengan kawasan barat yang menjadi pusat aktivitas pemerintahan kolonial Belanda.
Peristiwa Penting yang Mengubah Jalannya Sejarah
Pada tanggal 30 Oktober 1945, Jembatan Merah menjadi lokasi pertemuan penting antara tokoh-tokoh Indonesia dan sekutu. Pertemuan ini berlangsung di tengah situasi yang semakin memanas pasca-kemerdekaan. Mayor Jenderal Hawthorn, pimpinan tentara sekutu di Indonesia, tiba di Surabaya dan bertemu dengan Presiden Soekarno beserta beberapa tokoh lainnya.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata tercapai, ketegangan tetap terjadi di lapangan. Beberapa jam setelah pertemuan tersebut, Brigadir Jenderal AWS Mallaby tewas di kawasan barat Jembatan Merah. Insiden ini memicu meningkatnya ketegangan antara pihak Indonesia dan sekutu, sehingga memperburuk hubungan antara kedua belah pihak.
Pertempuran Surabaya 10 November 1945
Kematian Mallaby menjadi titik balik yang memicu pecahnya Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Pertempuran ini dianggap sebagai salah satu perlawanan heroik rakyat Indonesia. Para pejuang dan pemuda Surabaya memperkuat pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan besar dari pasukan Inggris.
Pertempuran ini menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan menjadi bukti kegigihan serta semangat perjuangan arek-arek Suroboyo.
Destinasi Wisata Sejarah
Kini, Jembatan Merah tidak hanya dikenal sebagai saksi perjuangan, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah di Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan penataan kawasan, termasuk pemasangan lampu hias untuk mempercantik area sekitar jembatan.
Di sekeliling Jembatan Merah masih terdapat berbagai bangunan bersejarah peninggalan kolonial yang kini difungsikan sebagai gedung perkantoran dan perbankan. Wisatawan juga bisa mengunjungi sejumlah destinasi lain seperti Jembatan Merah Plaza, Taman Sejarah, Kelenteng Hong Tiek Hian, Pasar Pabean, Kawasan Ampel, hingga Museum Sampoerna.
Kesimpulan
Dari jalur perdagangan era VOC hingga menjadi saksi pecahnya Pertempuran 10 November 1945, Jembatan Merah tetap menjadi pengingat penting perjalanan Kota Surabaya. Jejak perjuangan yang tersimpan di kawasan ini turut membentuk sejarah bangsa Indonesia.






