Peringatan Pemeriptah tentang Penularan Campak Selama Idul Fitri
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit campak menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Salah satu imbauan yang disampaikan adalah mengurangi kebiasaan menyentuh bayi ketika bersilaturahmi saat Lebaran 2026.
Imbauan ini disampaikan sebagai langkah pencegahan terhadap kemungkinan meningkatnya penularan campak ketika masyarakat berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Tradisi silaturahmi yang identik dengan kunjungan antar keluarga saat Idul Fitri sering kali melibatkan interaksi dekat, termasuk kebiasaan menggendong atau menyentuh bayi dan balita. Padahal, bayi dan anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap berbagai penyakit menular, termasuk campak.
Oleh karena itu, pemerintah meminta masyarakat lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan bayi selama momen Lebaran 2026. Peringatan ini juga berkaitan dengan potensi meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur panjang Idul Fitri, yang dapat mempercepat penyebaran penyakit menular jika tidak diantisipasi dengan baik.
Imbauan Kemenkes untuk Mengurangi Kebiasaan Menyentuh Bayi
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menekankan bahwa kebiasaan menyentuh bayi ketika bersilaturahmi sebaiknya mulai dikurangi. Menurutnya, interaksi fisik yang terlalu dekat dengan bayi dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.
“Kebisaan asal sentuh anak balita, bayi, terutama lebaran sebaiknya memang dikurangi atau dihindari karena risiko penularan tinggi,” ujar Andi saat konferensi pers secara daring, Jumat (6/3/2026).
Kebiasaan menyentuh bayi saat Lebaran sebenarnya cukup umum terjadi di masyarakat Indonesia. Banyak orang yang merasa gemas ketika melihat bayi sehingga secara spontan ingin menggendong, mencium, atau menyentuhnya. Namun, tindakan tersebut bisa menjadi salah satu jalur penularan penyakit, terutama jika orang yang menyentuh bayi sedang membawa virus atau bakteri tanpa disadari.
Virus campak sendiri merupakan virus yang sangat mudah menular melalui percikan droplet atau partikel kecil yang keluar dari saluran pernapasan saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Droplet merupakan istilah medis yang merujuk pada percikan kecil cairan dari mulut atau hidung yang dapat membawa virus atau bakteri penyebab penyakit.
Waspadai Penularan Campak saat Silaturahmi Lebaran
Kemenkes juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penularan campak ketika berkumpul bersama keluarga saat Lebaran. Silaturahmi yang melibatkan banyak orang dalam satu tempat berpotensi menjadi media penyebaran penyakit menular jika terdapat individu yang sedang sakit.
Andi Saguni mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri untuk hadir dalam kegiatan berkumpul jika sedang mengalami gejala penyakit yang mengarah pada campak. “Hindari kumpul ya apalagi yang menderita (bergejala), kalau ada tanda-tanda suspek campak seperti ruam kemerahan ya sebaiknya tidak kumpul-kumpul,” tuturnya.
Istilah suspek campak merujuk pada seseorang yang diduga mengalami infeksi campak berdasarkan gejala yang muncul, meskipun belum dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Gejala campak biasanya diawali dengan demam, batuk, pilek, mata merah, dan diikuti dengan munculnya ruam kemerahan pada kulit.
Penderita Campak Disarankan Tidak Bepergian
Selain membatasi interaksi dengan bayi, Kemenkes juga mengingatkan masyarakat yang mengalami gejala campak untuk tidak menghadiri berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang. Termasuk di antaranya kegiatan wisata yang biasanya meningkat selama masa libur Lebaran.
“Pergi ke tempat-tempat wisata begitu ya dan juga ke tempat-tempat keramaian lainnya, sebaiknya ya di rumah saja,” imbuhnya. Tempat wisata, pusat perbelanjaan, dan lokasi keramaian lainnya merupakan tempat yang memiliki potensi tinggi dalam penyebaran penyakit menular.
Potensi Lonjakan Kasus Campak saat Idul Fitri
Kemenkes juga mengingatkan bahwa perayaan Idul Fitri berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit menular, termasuk campak. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan mudik serta kegiatan silaturahmi yang melibatkan banyak orang. Dalam kondisi seperti ini, virus dapat berpindah dari satu individu ke individu lainnya dengan lebih cepat.
Kelompok yang paling rentan terhadap penularan campak adalah bayi dan balita. Bayi merupakan kelompok usia yang sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang secara sempurna sehingga lebih mudah terinfeksi penyakit. Balita sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak usia di bawah lima tahun.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat dalam Pencegahan Penyakit
Imbauan dari Kemenkes ini menjadi pengingat bahwa pencegahan penyakit tidak hanya bergantung pada tenaga medis, tetapi juga pada kesadaran masyarakat. Perubahan perilaku sederhana seperti mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, menggunakan masker ketika sedang sakit, serta menghindari keramaian jika sedang mengalami gejala penyakit dapat membantu mengurangi risiko penularan.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap, termasuk vaksin campak. Vaksinasi merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah penularan penyakit menular. Vaksin bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus penyebab penyakit.
Silaturahmi Lebaran Tetap Bisa Dilakukan dengan Aman
Meskipun terdapat imbauan untuk mengurangi kontak langsung dengan bayi, masyarakat tetap dapat menjalankan tradisi silaturahmi Lebaran dengan aman. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan, menghindari kontak fisik berlebihan dengan bayi, serta tidak memaksakan diri menghadiri acara keluarga jika sedang sakit. Dengan langkah-langkah sederhana tersebut, perayaan Idul Fitri tetap dapat berlangsung dengan penuh kehangatan tanpa mengabaikan aspek kesehatan.
Faktor Risiko Terkena Campak
Konferensi pers Kementerian Kesehatan yang dilakukan secara daring pada Kamis (26/2/2026), menjelaskan gambaran penyakit campak secara jelas. Dokter Andi Saguni, MA, Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes mengungkap, penularan campak adalah melalui droplet dan air borne transmission (percikan air liur atau ludah). “Hal ini terutama terjadi saat batuk, bersin, atau jika bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi,” paparnya.
Faktor risiko penularan adalah:
* Mereka yang belum atau tidak lengkap imunisasi campak-rubella
* Ada kontak erat dengan penderita campak
* Status gizi yang kurang baik
* Tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Vaksinasi Campak
Vaksinasi campak sendiri memiliki 3 tahapan, yaitu:
* 9 bulan: imunisasi campak rubella (MR) dosis 1
* 18 bulan: imunisasi campak rubella (MR) dosis 2
* Kelas 1 SD: imunisasi campak rubella (MR) pada anak sekolah (BIAS).
Gejala dan Pengobatan Campak
Lebih lanjut, dr Andi juga menjelaskan, gejala campak yang bisa dideteksi oleh masyarakat yaitu:
* Demam
* Ruam makulopapular
* Batuk/pilek
* Konjungtivitis
* Gatal-gatal
* Terkadang diare.
Pengobatan campak sendiri mencakup:
* Pemberian vitamin A
* Pengobatan simtomatis kasus yang tidak komplikasi
* Pengobatan kasus dengan komplikasi.
Masa inkubasi biasanya 7-18 hari, dengan rata-rata kejadian adalah 10 hari. “Demam umumnya pada kurang lebih hari ke-15 setelah paparan. Sedangkan ruam biasanya muncul kurang lebih pada hari ke-18 setelah paparan,” ucapnya.
Upaya yang Perlu Dilakukan Masyarakat
Upaya yang perlu dilakukan masyarakat demi mencegah meningkatnya kasus campak adalah:
* Periksa status imunisasi anak, pastikan anak sudah mendapatkan imunisasi MR lengkap.
* Bagi yang berada di wilayah yang sedang dilaksanakan kampanye campak, diharapkan berpastisipasi agar anak mendapatkan perlindungan.
* Segera bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami demam dan ruam (bercak merah) untuk mendapatkan penanganan.







