Film “Pesta Babi” Mengangkat Isu Kemanusiaan di Papua
Film dokumenter berjudul Pesta Babi yang disutradarai oleh antropolog Cypri Jeha Paju Dale dan diproduksi oleh Dandhy Laksono, telah menjadi sorotan masyarakat Papua. Meskipun beberapa kegiatan nonton bareng (nobar) film ini dibubarkan, film tersebut justru mendapat sambutan hangat dari warga setempat.
Film ini mengangkat isu kemanusiaan dan kebhinekaan, serta menyoroti kondisi masyarakat adat di Provinsi Papua Selatan. Proses produksi film ini memakan waktu sekitar empat tahun, dengan riset ilmiah yang dilakukan secara mendalam. Data-data yang digunakan berasal dari penelitian yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun.
Dandhy Laksono, produser film Pesta Babi, menyampaikan bahwa film ini diterima dengan baik oleh masyarakat Papua. Ia mengungkapkan rasa bangga karena film ini ditonton di berbagai tempat, termasuk di kampung-kampung, rumah-rumah penduduk, gereja, dan bahkan di sekolah-sekolah menengah.
Sambutan Hangat dari Masyarakat Papua
Dalam program Saksi Kata di YouTube Tribun Pekanbaru, Dandhy Laksono mengatakan, “Saya merasa terhormat karena film ini diterima oleh teman-teman di Papua karena film ini diputari di kampung-kampung.”
Ia menjelaskan bahwa banyak warga di daerah Papua yang menggelar nobar film Pesta Babi. Bahkan, ada satu keluarga di Kabupaten Maybrat (Papua Barat Daya) yang menonton film ini. Menurutnya, hal ini menjadi penghargaan luar biasa.
Film ini juga ditonton di berbagai pesantren dan di lingkungan akademik. Dandhy mengakui bahwa ia tidak menyangka film dokumenter berdurasi sekitar 90 menit ini akan diterima oleh banyak orang.
Film yang Mengangkat Isu Kemanusiaan
Menurut Dandhy, film Pesta Babi menguji kebhinekaan masyarakat di tingkat paling dasar. Ia menilai bahwa penerimaan positif dari masyarakat disebabkan oleh unsur kemanusiaan yang terkandung dalam film tersebut.
“Saya merasa bahwa film ini mengangkat isu kemanusiaan yang bisa dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa film ini tidak membahas suku atau agama, tetapi lebih fokus pada hak-hak manusia.
Dandhy menyebut bahwa respons positif dari masyarakat tidak bisa tergantikan dengan apapun, termasuk materi. Ia menjelaskan bahwa pihaknya tidak menerima keuntungan materi apa pun dari film Pesta Babi.
Produksi yang Memakan Waktu Lama
Proses produksi film Pesta Babi membutuhkan waktu yang cukup lama. Dandhy menyebut bahwa hanya untuk perekaman video saja, dibutuhkan waktu empat tahun. Sementara itu, data-data penunjang seperti hasil riset dikumpulkan lebih lama lagi.
“Kami mengerjakannya intensif dua tahun terakhir. Tapi ngumpulin gambar 3-4 tahun terakhir. Bahkan risetnya lebih lama lagi, Bang Cypri Dale sudah lama juga meneliti di Papua,” katanya.
Sindiran terhadap Pembubaran Nobar
Dandhy menyindir pihak-pihak yang melarang nobar film Pesta Babi sebagai “orang pemalas”. Ia berharap mereka bisa membantah film tersebut dengan data tandingan alih-alih melakukan larangan.
“Paling enak kan, pekerjaan paling gampang, pekerjaan orang malas. Larang aja. Bukannya bantah, tetapi ngelarang,” katanya sambil tertawa.
Menurutnya, jika aksi pembubaran itu memang dilakukan setelah adanya perintah dari rezim, maka Dandhy menganggap adanya penurunan standar keterbukaan ketika ada pihak yang mengkritik pemerintah.
Film yang Mengangkat Isu Penggusuran Lahan Adat
Film Pesta Babi merupakan film dokumenter yang memperlihatkan kondisi masyarakat adat di Provinsi Papua Selatan yang tergusur akibat adanya Proyek Strategi Nasional. Secara lebih detail, film ini menyoroti proyek pembukaan hutan seluas 2,5 juta hektare di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Kabupaten Mappi.
Film ini disutradarai oleh antropolog, Cypri Jeha Paju Dale dan Dandhy Laksono yang berkolaborasi dengan beberapa pihak seperti Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia.







