Fenomena Kreak di Kota Semarang: Kekerasan yang Mengancam Keamanan Masyarakat
Di tengah persiapan ibadah dan tradisi sahur bersama menjelang Ramadan hingga Lebaran 2026, Kota Semarang justru menghadapi berbagai peristiwa kekerasan yang menimbulkan kekhawatiran. Tawuran bersenjata tajam, pembacokan, serta perang sarung yang semakin brutal menjadi fenomena yang muncul di sejumlah titik kota.
Fenomena ini dikenal dengan istilah ‘kreak’, yaitu kelompok anak muda yang mencari eksistensi melalui aksi kekerasan. Mereka sering membawa senjata tajam seperti celurit panjang, parang, atau bahkan balok kayu. Tradisi perang sarung yang dulunya identik dengan permainan sahur kini berubah wajah. Sarung yang sebelumnya digunakan sebagai alat permainan kini dimodifikasi dengan batu, gir motor, atau besi di ujungnya, sehingga bisa melukai serius.
Beberapa kecamatan yang terpantau mengalami peristiwa tersebut antara lain Semarang Utara, Semarang Barat, dan Genuk. Pola aktivitas remaja dan kelompok jalanan umumnya bergerak di malam hingga dini hari, memanfaatkan celah pengawasan dan suasana Ramadan yang riuh.
Di gang-gang dan jalan umum di kawasan Bandarharjo, Kuningan, Barutikung, hingga jembatan perbatasan yang dijuluki ‘Jalur Gaza’, ketegangan sering terjadi. Yanti (65), warga setempat, mengaku hampir terbiasa mendengar keributan malam hari. Ia menyebutkan bahwa tawuran sering terjadi di jembatan sebelah sana, dan ia merasa resah melihat remaja terlibat bentrok bersenjata tajam.
Eko (28), pengemudi ojek daring, mengaku selektif dalam mengambil pesanan saat malam hari jika rutenya melewati Bandarharjo dan Kuningan. Ia menghindari situasi di mana ada remaja berboncengan bergerombol yang membawa senjata panjang-panjang.
Konflik lama antara Kampung Kuningan dan Barutikung sempat pecah pada Senin (26/1) dini hari lalu. Meski sempat dicegah aparat, belasan remaja dari dua kubu kembali bertemu di jembatan Boom Lama. Bentrokan bersenjata tajam tak terhindarkan, dengan seorang remaja mengalami luka bacok di kepala hingga harus menjalani perawatan intensif.
Pemicu bentrokan tidak lagi sebatas ejekan langsung. Tantangan melalui siaran langsung dan grup percakapan menjadi awal pertemuan fisik yang berujung tawuran. Radlis, karyawan swasta yang kerap nongkrong di kawasan itu, mengungkapkan bahwa kelompok tersebut lebih fokus pada rivalitas dan tantangan di media sosial.
Meski dinamika sosial di Semarang Utara tidak sepenuhnya hitam-putih, Radlis bisa membedakan antara ‘preman lama’ dan kelompok kreak. Menurutnya, Semarang Utara sebenarnya menyenangkan, dan preman-preman di sana baik-baik jika kita baik juga. Namun, kelompok kreak memiliki kegiatan yang berbeda, termasuk mabuk, konsumsi pil koplo, dan tawuran antargeng.
Tidak hanya tawuran, dugaan pungutan liar di kawasan Kota Lama juga mencuat. Sebuah video viral memperlihatkan sopir bus dimintai uang parkir Rp75 ribu pada 15 Februari 2026. Katim Resmob Elang Utara Polsek Semarang Utara, Aiptu Agus Supriyanto atau Agus Arab, menyatakan bahwa pihaknya telah mendatangi lokasi dan menemukan informasi bahwa pelaku adalah anak Tirman (Purwodinatan) yang sedang mabuk.
Ancaman berbeda muncul di Semarang Barat. Pada Selasa (17/2) sekitar pukul 00.10, pembegalan terjadi di Jalan WR Supratman, Kelurahan Gisikdrono. Rekaman CCTV memperlihatkan dua pelaku berboncengan motor menabrak kendaraan korban hingga terjatuh. Dalam hitungan detik, situasi berubah mencekam. Korban akhirnya lari meninggalkan motornya, dan pelaku membawa kabur Honda Beat Deluxe milik korban.
Tiga pelaku berinisial IR (28), MK alias U (29), dan DRA (29) ditangkap polisi di rumah masing-masing pada Minggu (22/2). Motor hasil rampasan belum sempat dijual dan masih disembunyikan.
Di Kecamatan Genuk, pola tawuran berpindah-pindah lokasi dan kerap terjadi menjelang sahur. Rekaman CCTV di kawasan Kwaron, Bangetayu Kulon, Sabtu (28/2), menunjukkan aksi saling kejar dua kelompok remaja hingga terjadi tabrakan dan dugaan pengeroyokan. Selain itu, terdapat peristiwa perang sarung yang melibatkan remaja Bangetayu Wetan dan kelompok dari Mranggen, Demak. Sebanyak 11 remaja asal Genuk diamankan untuk pembinaan.
Kapolsek Genuk, Kompol Rismanto, menegaskan bahwa pihaknya telah mengamankan para pelaku yang terlibat. “Remaja tersebut langsung kami amankan untuk diberikan pembinaan. Kami juga melakukan pendataan serta meminta mereka membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya.”
Operasi Pekat Candi 2026 digelar dengan patroli skala besar menyisir Jalan Raya Kaligawe, Woltermonginsidi, Bangetayu Wetan, hingga Ngablak. Aparat mendapati sekelompok remaja yang diduga hendak perang sarung dan segera melakukan tindakan preventif. Menurut Rismanto, tantangan terbesar adalah pola tawuran yang dinamis. Ketika patroli difokuskan di satu titik, kelompok berpindah ke lokasi lain, terutama antara pukul 02.00 hingga 03.00.







