Keluarga Mengenang Safaraz, Remaja yang Meninggal dalam Kecelakaan Lalu Lintas
Safaraz Akma, seorang siswa kelas 9B SMPIT Insan Harapan Tembesi Sagulung, meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Trans Barelang. Kejadian tersebut terjadi saat ia pergi memancing bersama dua temannya, Rino Arif Bakhtiar dan Ruhalzan Syakir. Kecelakaan itu merenggut nyawa ketiga remaja tersebut sekaligus.
Keluarga Safaraz, termasuk ayahnya Alwani, masih dalam duka mendalam. Saat berbicara dengan Tribun, Alwani mengungkapkan rasa kehilangan yang sangat dalam. Ia menjelaskan bahwa Safaraz adalah anak yang senang memancing dan hobi ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-harinya.
Hobi Memancing yang Menjadi Bagian dari Kehidupan Safaraz
Safaraz dikenal sebagai anak yang antusias dalam bermain ikan. Setiap hari, ia sering meminta izin untuk pergi memancing. Alwani mengatakan bahwa ia membolehkan anaknya melakukan hal tersebut karena ia melihat hobi ini sebagai aktivitas positif. “Saya pikir lebih baik daripada anak-anak lain yang mungkin sudah bergeser ke hal-hal negatif,” ujar Alwani.
Ia juga menyebut bahwa ia mendapatkan dukungan dari teman-teman senior yang menilai hobi memancing sebagai kegiatan yang bermanfaat. Meskipun begitu, Alwani selalu memberikan pesan agar Safaraz tidak pergi terlalu jauh dan tidak sampai berkumpul di tempat yang tidak jelas.
Hasil pancingan Safaraz biasanya dijual atau dibawa pulang. Namun, anehnya, ikan hasil tangkapan itu justru dimakan oleh Alwani sendiri. Istri Alwani, yang berasal dari Galang, tidak suka makan ikan, sedangkan Safaraz pun tidak suka makan ikannya. “Anak-anak zaman sekarang lebih suka sosis,” tambahnya sambil tertawa.
Perjalanan Hari Itu
Kejadian berawal pada malam Minggu. Safaraz masih bermain dengan teman-temannya di sebelah rumah. Pukul 11 malam, ia kembali ke rumah, membuka baju, dan bermain HP sebentar. Ia kemudian mengatakan kepada orang tuanya bahwa besok akan pergi memancing.
Pagi harinya, Safaraz pamit pergi. Biasanya, ibunya yang mengurus anak-anak, namun kali ini ia sedang sibuk mencuci pakaian. Safaraz telah dihubungi oleh temannya dan sudah ada janji untuk pergi memancing. Sebelum pergi, ia meninggalkan HP-nya di rumah dan meminta ciuman dari ibunya.
Motor yang Digunakan
Di rumah Alwani terdapat tiga motor. Safaraz biasanya menggunakan motor Beat 2019. Namun, pagi itu, motor tersebut sedang digunakan oleh abangnya yang bekerja di PT. Safaraz meminta izin kepada abangnya, dan abangnya mengizinkan asalkan tidak terlalu lama.
Alwani tidak berada di rumah saat kejadian tersebut, sehingga ia tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi.
Kabar Kecelakaan yang Datang
Pada hari Minggu, Alwani sedang belanja mingguan. Tiba-tiba, telepon masuk yang tidak terjawab. Beberapa saat kemudian, ada telepon lagi. Alwani mengangkat telepon tersebut dan menemukan bahwa itu adalah polisi dari Polsek Galang.
“Selamat siang, Pak. Saya dari Polsek Galang. Motor BM dengan nomor sekian atas nama Bapak apakah itu kendaraan Bapak?” tanya petugas. Alwani menjawab ya. Polisi kemudian menyampaikan bahwa pengendara motor tersebut mengalami kecelakaan dan korban telah dibawa ke RSUD Embung Fatimah.
Alwani langsung bergerak dan membawa semua dokumen BPJS anak, STNK, dan BPKB ke rumah sakit.
Ketika Tiba di Rumah Sakit
Saat tiba di RSUD Embung Fatimah, Alwani bertanya ke bagian informasi, tetapi tidak ada data korban tiga orang dari Galang. Ia bingung dan mencoba menghubungi polisi kembali, tetapi petugas rumah sakit mengatakan bahwa tidak ada data. Akhirnya, setelah beberapa kali komunikasi, petugas rumah sakit mengarahkan Alwani ke kamar jenazah.
Saat masuk kamar jenazah, Alwani membuka dan melihat. Ia tidak merasa apa-apa lagi. Seperti tidak ada nyawa dalam dirinya. Ia tidak bisa berkata-kata.
Proses Identifikasi dan Pemakaman
Awalnya, tidak ada data identitas dari ketiga jenazah tersebut. Kawan-kawan sekolah Safaraz, sekitar delapan orang, datang ke rumah sakit dan membantu proses identifikasi. Guru dari SMPIT mengarahkan mereka masuk ke kamar jenazah, satu per satu diminta mengenali. Di situlah data mulai terkumpul, satu per satu nama ketiga korban berhasil dikenali.
Proses pemakaman berlangsung cukup lama karena dokter forensik tidak langsung hadir. Setelah semua ahli waris lengkap hadir, proses forensik selesai dan jenazah bisa diserahkan.
Alwani sempat meminta agar Safaraz dimakamkan di area perumahan, di lahan keluarga. Namun, setelah dicek, lahan tersebut sudah penuh. Akhirnya, mereka mendapat lokasi pemakaman yang bagus. Yang membuat hati Alwani sedikit tenang adalah makam ketiga anak itu berdekatan, seperti mereka yang selalu bersama semasa hidup.







