Sejarah dan Peran Pondok Pesantren Roudlotus Solichin Sholichat dalam Perjuangan Kemerdekaan
Di tengah keindahan alam perbukitan Kabupaten Purbalingga, terdapat sebuah pondok pesantren yang memiliki sejarah panjang dan berkontribusi besar dalam perjuangan bangsa Indonesia. Nama pondok pesantren tersebut adalah Roudlotus Solichin Sholichat. Berdiri sejak tahun 1929, hampir satu abad silam, pondok pesantren ini merupakan salah satu lembaga pendidikan agama yang telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa.
Pondok pesantren ini didirikan oleh KH Muhammad Hisyam Abdul Karim atau dikenal dengan panggilan Mbah Hisyam. Kiai Hisyam adalah sosok ulama kharismatik yang memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa Indonesia saat masa penjajahan. Saat ini, pengasuh pondok pesantren tersebut adalah KH Achmad Musta’id Billah (76), yang menceritakan latar belakang ayahnya, Kiai Hisyam.
Kiai Hisyam lahir pada tahun 1904 di Purbalingga. Ayahnya adalah seorang bahu (kepala dusun) dan ibunya adalah carik (sekretaris desa). Dalam proses pendidikannya, Kiai Hisyam pernah menuntut ilmu di Ponpes Leler Banyumas selama empat tahun, dengan gurunya adalah Kiai Muhammad Zuhdi. Setelah itu, ia melanjutkan menuntut ilmu selama delapan tahun kepada Kiai Dahlan di Jempes, Kabupaten Kediri.
Setelah pulang dari Jempes, Kiai Hisyam mendirikan pondok pesantren pada tahun 1929. Santri pertamanya hanya sekitar empat orang, tetapi secara perlahan berkembang. Saat itu, pondok pesantren masih sederhana, dengan bangunan menggunakan bambu. Namun, meski sederhana, pondok pesantren ini memiliki makna yang mendalam dalam konteks perjuangan kemerdekaan.
Pengkaderan Pejuang di Era Penjajahan
Di era penjajahan, Pondok Pesantren Roudlotus Solichin Sholichat tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pengkaderan para pejuang. Jumlah santri pada masa itu mencapai sekitar 700 orang. Mereka diajarkan berbagai keterampilan seperti sandi morse, baris berbaris, dan pertolongan pertama medis. Ketika ada pejuang yang terluka, para santri akan membantu mengobati mereka. Bahkan, jika diperlukan, mereka siap turun ke medan pertempuran.
Menurut Kiai Ta’id, hal ini dilakukan karena instruksi dari Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Instruksi tersebut tegas agar para kiai dan pesantren tidak membela Belanda maupun Jepang. Sebaliknya, pesantren harus mempertahankan keamanan desa dan menjaga ketenangan masyarakat.
Penyelenggaraan Pengajian Umum dan Keberlanjutan
Selain sebagai tempat pendidikan, Pondok Pesantren Roudlotus Solichin Sholichat juga memberikan pengajian untuk masyarakat umum setiap hari Sabtu. Saat ini, jumlah santri mencapai 175 orang, baik laki-laki maupun perempuan, yang berasal dari berbagai wilayah seperti Purbalingga, Pemalang, Banyumas, dan Banjarnegara.
Kiai Ta’id menekankan pentingnya semangat belajar agar para santri dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa ayahnya, Kiai Hisyam, wafat pada tahun 1988 di usia 84 tahun. Sebelum wafat, Kiai Hisyam pernah menjabat sebagai Rois Syuriah pertama sekaligus tiga periode di PCNU Purbalingga, serta menjadi pegawai negeri sebagai kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan setelah pensiun menjadi hakim honorarium di Pengadilan Agama Purbalingga.
Pembelajaran Kitab Kuning dan Semangat Kiai Hisyam
Salah satu santri, Muhammad Nur Syafiq (16), mengatakan bahwa ia sudah tiga tahun menyantri di Pondok Pesantren Roudlotus Solichin Sholichat. Ia menyantri sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga Madrasah Aliyah (MA). Menurut Syafiq, ia belajar banyak tentang kitab kuning dan merasa terinspirasi oleh semangat Kiai Hisyam.
Meskipun tidak hidup sezaman, Syafiq mengatakan bahwa Kiai Hisyam adalah sosok yang hebat dengan ilmu yang luas dan tinggi. Ia juga menyebutkan bahwa semangat mencintai tanah air dan menegakkan agama Islam terasa jelas di keturunan Kiai Hisyam.







