Korea Selatan Mempercepat Ambisi Antariksa dengan Misi Pendaratan di Bulan Tahun 2030
Korea Selatan tengah mempercepat ambisinya dalam eksplorasi luar angkasa dengan menargetkan pendaratan wahana antariksa di permukaan Bulan pada awal tahun 2030. Langkah ini diumumkan pada Minggu (5/4/2026), yang memajukan pencapaian pendaratan pertama Korsel dua tahun lebih cepat dari jadwal misi utama pemerintah yang sebelumnya direncanakan pada 2032.
Untuk merealisasikan target ini, Korsel mengambil pendekatan baru dengan menyerahkan kendali proyek pembuatan wahana pendarat kecil sepenuhnya kepada perusahaan swasta dalam negeri. Saat ini, Badan Antariksa Korea (KASA) sedang melakukan studi kelayakan awal untuk memastikan proyek “jalur cepat” tersebut siap dieksekusi.
Misi Swasta yang Berjalan Paralel dengan Misi Pemerintah
Kementerian Sains dan Teknologi Informasi (MSIT) bersama KASA menjadikan proyek pendaratan di Bulan sebagai prioritas nasional. Proyek tahun 2030 ini tidak menggantikan misi 2032, melainkan berjalan secara paralel. Misi 2030 akan difokuskan pada wahana pendarat berukuran kecil yang ringan dan lincah, serta dikerjakan oleh industri dalam negeri.
Evaluasi kelayakan teknis, anggaran, dan risiko operasional sedang dilakukan secara ketat. Hal ini penting karena Korsel ingin segera membuktikan kemampuannya melakukan pendaratan mulus (soft landing) di Bulan, sebuah tingkat kesulitan yang sejauh ini hanya berhasil dipecahkan oleh lima negara: Rusia, Amerika Serikat, China, India, dan Jepang.
“Proyek ini belum difinalisasi. Detail teknis dan anggarannya akan dipastikan melalui studi kelayakan yang sedang dilakukan oleh komite evaluasi nasional,” terang perwakilan KASA.
Langkah ini juga didorong oleh ketatnya kompetisi antariksa global. “Bersamaan dengan program lunar pemerintah yang sedang berjalan, kami ingin membantu perusahaan dalam negeri bergerak lebih cepat agar punya daya saing tinggi dalam penjelajahan ruang angkasa,” kata Kang Kyung-in, pejabat senior di KASA.
Suntikan Dana Rp4,98 Triliun untuk Ekosistem “New Space”
Proyek 2030 ini membawa perubahan paradigma yang masif. Jika sebelumnya pemerintah yang turun tangan penuh, kini perusahaan swasta diberi panggung utama untuk merancang, membangun, hingga menyusun strategi pendaratan wahana antariksa.
Pemerintah Korsel dikabarkan telah menyiapkan rancangan anggaran sekitar 440 miliar won (Rp4,98 triliun) yang akan disalurkan selama empat tahun ke depan. Dana ini ditujukan untuk mendukung perusahaan lokal mengembangkan teknologi pendaratan mandiri yang berisiko tinggi, seperti sistem navigasi dan kontrol pendaratan otomatis.
Strategi ini sejalan dengan tren global New Space, mencontoh ekosistem di Amerika Serikat di mana perusahaan swasta diberikan ruang berinovasi yang luas. KASA berjanji akan membuka akses ke fasilitas pengujian milik negara dan memberikan bantuan teknis agar perusahaan lokal mampu unjuk gigi.

Mengandalkan Roket Nuri Buatan Dalam Negeri
Keberhasilan misi 2030 ini sangat bergantung pada performa roket Nuri (KSLV-II). Nuri merupakan roket peluncur pertama yang seluruhnya dikembangkan dan diproduksi menggunakan teknologi asli Korsel.
Roket yang sebelumnya sukses mengantar satelit ke orbit bumi ini, kini tengah disiapkan untuk menggendong wahana pendarat kecil swasta tersebut menuju orbit Bulan. Dengan menggunakan roket Nuri, Korsel membuktikan kemandiriannya tanpa harus menyewa jasa peluncuran dari negara lain.
Sebagai perbandingan, misi utama pemerintah di tahun 2032 rencananya akan menggunakan roket generasi baru (KSLV-III) yang lebih bertenaga untuk membawa wahana yang jauh lebih berat.
Jika skenario pendaratan swasta 2030 ini berjalan lancar, Korsel akan resmi menobatkan diri sebagai negara keenam yang sukses mendarat di permukaan Bulan. Berbekal dukungan dana, kemandirian roket peluncur, serta inovasi dari sektor swasta, Korsel bersiap menjadi pemain kunci baru di kancah eksplorasi tata surya.








