Pengalaman Buruk Menggunakan Travel Gelap di Jambi
Beberapa warga Jambi mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan saat menggunakan jasa travel gelap. Meskipun mengetahui risikonya, banyak orang tetap memilih travel ilegal karena keterbatasan transportasi umum resmi antardaerah.
Pengalaman Azmi Saat Menggunakan Travel Gelap
Azmi (25), warga Kabupaten Merangin, pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan saat menggunakan jasa travel dari Terminal Bangko menuju Kota Jambi. Dia tidak tahu apakah mobil yang ditumpanginya adalah travel resmi atau gelap. Perjalanan berlangsung dengan enam penumpang dan satu sopir.
Selama perjalanan, mobil terlihat biasa, dengan barang bawaan penumpang diletakkan di atap mobil. Saat melintasi wilayah Kecamatan Mandiangin, mobil tiba-tiba mengalami kerusakan dan tidak bisa distarter. Sopir mencoba memperbaiki mesin, namun tampak tidak paham masalahnya. Akibatnya, para penumpang harus menunggu hingga malam hari.
Akhirnya, sekitar pukul 22.00 WIB, datang mobil travel lain yang menjemput para penumpang. Azmi dan penumpang lainnya baru tiba di Kota Jambi sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Selama perjalanan, Azmi merasa tidak nyaman karena tidak ada kepastian dan kondisi kendaraan yang kurang layak.
Nekat Menggunakan Travel Gelap
Meski memiliki pengalaman buruk, Azmi mengatakan bahwa travel tanpa loket tidak selalu buruk. Menurutnya, ada juga travel yang pelayanannya cukup baik. Namun, dalam kasus ini, dia mendapatkan kendaraan dengan kondisi yang kurang layak. Travel yang ia naiki juga tidak memberikan karcis maupun jaminan asuransi jika terjadi kecelakaan.
Azmi menilai keberadaan travel seperti itu masih dibutuhkan, terutama bagi warga desa di kabupaten yang tidak memiliki kendaraan pribadi. “Penumpang penuh, barang di atap penuh itu sudah biasa di kampung, karena tidak ada pilihan,” katanya.
Masalah Kenyamanan dan Rokok
Azmi juga menyebutkan soal kenyamanan penumpang, khususnya bagi yang tidak merokok. Ia pernah merasa prihatin karena ada sopir yang merokok di dalam mobil meski terdapat anak kecil dan ibu-ibu. “Sebagai perokok saja saya segan merokok kalau ada anak kecil. Tapi ini sopirnya merokok,” ujarnya.
Menurut Azmi, pemerintah perlu mengatur regulasi travel secara lebih tegas agar penumpang merasa aman dan nyaman. Ia membandingkan dengan pelayanan transportasi di kota-kota besar yang dinilai sudah jauh lebih baik.
Pengalaman Zuhdi dengan Travel Gelap
Lain lagi cerita dari Zuhdi (45), warga Siulak, Kabupaten Kerinci. Dahulu, dia kerap menggunakan travel gelap untuk perjalanan Kerinci-Jambi dan sebaliknya untuk keperluan usaha. Kini dia memilih menggunakan travel resmi, karena rata-rata mobilnya minibus yang sudah sangat nyaman.
Alasan Zuhdi menggunakan travel gelap karena tarifnya lebih murah, selisih seratus ribuan dibanding travel resmi. Hitung-hitungannya, apabila dikalikan dua untuk pulang-pergi, maka dia bisa berhemat Rp200 ribu. “Dulu biasa pakai Avanza (travel gelap) 150 ribuan. Sekarang HI-Ace (travel resmi) 250 ribuan,” ujarnya.
Untuk layanan, selain soal kenyamanan, Zuhdi mengatakan sebenarnya kurang lebih sama. Dua travel itu sama-sama mengantar sampai ke depan rumah. “Diantar semuanya sampai ke halaman (rumah),” kata Zuhdi.
Soal Rokok dan Kepercayaan
Persoalan lain selama menggunakan travel gelap, yaitu soal rokok. Apabila ketemu penumpang yang saling paham, kata Zuhdi, di dalam mobil akan bebas rokok. “Kalau tidak, adalah yang buka jendela untuk merokok. Kasihan saja kalau ada penumpang lain yang tidak tidak merokok, kayak ibu-ibu anak gitu,” ujarnya.
Zuhdi mengatakan bahwa biasanya baik travel gelap dan resmi, berangkat dari Kerinci itu bareng-bareng beberapa mobil. Baru ketika sampai di Jambi, mobil berpencar mengantar ke tujuan penumpang. Artinya, waktu tempuh travel gelap dan resmi sama, sekitar 10 jam.
Pengalaman Lain dari Siman
Pengalaman lain soal travel gelap, dari warga Palmerah Lama, Siman (40). Dia beberapa kali menggunakan mobil travel gelap, dan pernah sekali mogok di jalan, hingga menunggu seharian. “Ke Tembilahan, dari Jambi, pakai Inova lama itu,” ujarnya.
Meski mengetahui soal asuransi perjalanan, Siman tidak begitu mempedulikan. Menurutnya, meski travel gelap tidak mengkaver asuransi jiwa dalam perjalanan, itu tidak masalah. Selama ini perjalanan yang dilaluinya aman-aman saja.
Plus Minus Travel Gelap
Alasan dia menggunakan jasa travel gelap, lebih karena sopir yang telah dikenalnya. “Tinggal telepon, dia ngabari datang jam berapa, terus siap-siap,” tuturnya.
Pernah suatu kejadian, mobil travel gelap yang ditumpanginya mogok di jalan, padahal besoknya akan acara keluarga. Dia terpaksa menunggu hampir setengah hari hingga mobil selesai diperbaiki dan jalan lagi. “Itu pengalaman saya. Untung saja acara keluarga di sana besoknya, jadi masih terkejar.”
Soal pilih travel resmi atau gelap, itu tergantung orangnya, menurut Siman. Memang travel resmi lebih aman dan nyaman, dan ada asuransinya. Kalau ditanya pilih mana, ya, dia sarankan yang resmi.







