Peristiwa Kematian Satpam di Surabaya
Kasus kematian seorang satpam di Kota Surabaya menimbulkan dugaan kuat terkait motif dan pelaku. Korban, DM (48), ditemukan tewas dengan enam luka tusuk di sebuah rumah kosong dekat pos jaga tempatnya bekerja di Jalan Sukomanunggal Jaya. Kejadian ini terjadi pada dini hari Senin (11/5/2026). Polrestabes Surabaya berhasil menangkap satu pelaku dalam waktu singkat setelah proses olah TKP dilakukan.
Penangkapan Pelaku
Kapolsek Sukomanunggal Polrestabes Surabaya, Kompol M Akhyar, membenarkan bahwa seorang pelaku telah ditangkap. Namun, ia belum dapat mengungkap identitas pelaku karena sedang dalam pemeriksaan oleh anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya. Ia menyampaikan bahwa kasus tersebut kini diambil alih oleh pihak yang lebih berwenang.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Sukomanunggal, Ipda Andrianto, juga menyatakan bahwa pelaku telah tertangkap. Ia menegaskan bahwa penyidikan kasus ini kini berada di tangan Satreskrim Polrestabes Surabaya.
Latar Belakang Korban
Adik bungsu korban, Ade Deden Febriadi (35), menceritakan bahwa korban sering kali bertemu dengan seseorang bernama Eldi, seorang satpam lain yang bekerja di area tugas berbeda. Eldi diketahui memiliki catatan buruk karena kerap terlibat permasalahan. Para rekan sesama satpam sering memberi peringatan kepada korban agar tidak terlalu akrab dengan Eldi.
Menurut Ade Deden, korban sempat diajak keluar oleh Eldi beberapa jam sebelum memulai shift malam. Setelah itu, korban menghilang dari lokasi pos jaga. Teman-temannya yang akan menggantikan shift korban mengeluh karena korban tidak datang seperti biasanya.
Lokasi Kejadian
Ade Deden menduga bahwa korban dibawa ke dalam rumah kosong yang berjarak sekitar 200 meter dari pos jaga. Di lokasi tersebut, pelaku diduga melakukan penusukan terhadap korban. Selain itu, ada indikasi bahwa pelaku mencoba menghapus jejak darah dengan cara membilas menggunakan kain pembersih lantai.
Dugaan Motif dan Keanehan
Hingga saat ini, motif penusukan masih dalam penyelidikan. Ade Deden mengatakan bahwa korban tidak pernah terlibat masalah dengan orang lain. Ia sempat menduga bahwa korban mungkin menjadi korban kebrutalan para perampok. Namun, keanehan muncul karena hanya ponsel Xiaomi Redmi milik korban yang hilang, sedangkan barang lain seperti motor, uang, dan ransel tetap berada di lokasi pos jaga.
Selain itu, Ade Deden merasa aneh karena istri korban menerima kabar melalui telepon dari teman-teman satpam. Padahal, nomor kontak istri korban tidak diketahui oleh rekan-rekan korban. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana informasi tersebut bisa sampai ke pihak keluarga.
Harapan Keluarga
Ade Deden berharap pelaku segera ditemukan dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Ia mengaku belum mengetahui secara pasti apa yang terjadi antara korban dan pelaku. Namun, ia yakin bahwa kasus ini harus segera diungkap untuk memberikan keadilan bagi keluarga korban.





