Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Pelajar Indonesia Mulai Ketergantungan pada AI: Pakar Pendidikan Ingatkan Dua Sisi yang Perlu Diwaspadai

    17 Mei 2026

    TNI AL Siapkan Pangkalan Kapal Induk Garibaldi, Mengapa Surabaya Jadi Kandidat Terkuat?

    17 Mei 2026

    Rumor transfer Persebaya musim depan: Pemain asing datang, waktu kedatangan bocor

    17 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Minggu, 17 Mei 2026
    Trending
    • Pelajar Indonesia Mulai Ketergantungan pada AI: Pakar Pendidikan Ingatkan Dua Sisi yang Perlu Diwaspadai
    • TNI AL Siapkan Pangkalan Kapal Induk Garibaldi, Mengapa Surabaya Jadi Kandidat Terkuat?
    • Rumor transfer Persebaya musim depan: Pemain asing datang, waktu kedatangan bocor
    • IPMADO Kecewa, Komnas HAM Belum Ungkap Aparat Penembak 8 Warga Dogiyai
    • 200 Nama Bayi Laki-Laki Islami dari A hingga Z
    • Trump sebut gencatan senjata dengan Iran dalam bahaya, harga minyak melonjak
    • Jateng Percepat Penanganan Sampah, Semarang Raya Jadi Proyek Pertama Pengolahan Sampah Jadi Listrik
    • Jika Suka Teh Daripada Kopi, Ini 9 Ciri Kepribadian Anda Menurut Psikologi
    • Naskah Khutbah Jumat 8 Mei 2026: Pahala Haji Bagi yang Tidak Mampu
    • 5 tantangan membuka kafe di era ini, masih menguntungkan?
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kesehatan»Prof. Antonia: Deteksi Dini Penyakit Jantung Melalui Kalsifikasi Koroner

    Prof. Antonia: Deteksi Dini Penyakit Jantung Melalui Kalsifikasi Koroner

    adm_imradm_imr2 April 20264 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Pentingnya Deteksi Dini Penyakit Jantung

    Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), Prof. Antonia Anna Lukito, menekankan pentingnya deteksi dini penyakit jantung melalui kalsifikasi koroner sebagai langkah pencegahan berbasis risiko yang lebih akurat. Penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi tantangan kesehatan global. Data World Health Organization (WHO) mencatat, pada 2022 penyakit ini menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian atau 32 persen dari total kematian dunia.

    Di Indonesia, tren serupa juga terjadi. Prevalensi penyakit jantung meningkat signifikan menjadi 1,08 persen atau sekitar 2,29 juta orang pada 2023, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2013. Kondisi ini mendorong pentingnya peran para ahli dalam mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif dan tepat sasaran. Hal tersebut disampaikan Prof. Antonia Anna Lukito, saat dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 28 Maret 2026 di Auditorium FK UPH.

    Kalsifikasi Koroner Jadi Kunci

    Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Kalsifikasi Koroner: Jendela untuk Memahami Penuaan Dinding Arteri Menuju Pencegahan Kardiovaskular Berbasis Risiko”, Prof. Antonia menyoroti pentingnya kalsifikasi koroner. Kalsifikasi koroner merupakan penumpukan kalsium pada dinding arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung.

    Kondisi ini umumnya terjadi akibat proses penuaan dan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, serta kolesterol tinggi. Menurutnya, kalsifikasi koroner bukan sekadar temuan radiologis, tetapi mencerminkan proses biologis yang berlangsung lama dalam pembuluh darah. “Kalsifikasi koroner memberikan bukti anatomis nyata dari proses aterosklerosis, yaitu kondisi penyempitan dan pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan plak,” ujarnya.

    “Semakin tinggi tingkat kalsifikasi, semakin besar kemungkinan adanya plak aterosklerotik yang luas dan bermakna secara klinis.” “Karena itu, kalsifikasi koroner menjadi parameter objektif yang mampu merepresentasikan berbagai proses biologis dalam pembuluh darah,” jelas Prof. Antonia. Ia menambahkan, kalsifikasi koroner dapat menjadi “jendela” bagi dokter untuk melihat proses penuaan arteri yang kerap berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun.

    Bantu Penentuan Risiko Lebih Akurat

    Dengan kemajuan teknologi pencitraan kardiovaskular, kalsifikasi koroner kini dapat dideteksi lebih dini. Hal ini memungkinkan dokter melakukan stratifikasi risiko pasien secara lebih akurat. Jika kalsifikasi terdeteksi, hal itu menandakan proses aterosklerosis telah berlangsung. Sebaliknya, jika tidak ditemukan, dokter dapat lebih menekankan pada perubahan gaya hidup dan pemantauan rutin.

    “Pendekatan kalsifikasi koroner memberikan dimensi baru dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, khususnya pada kelompok pasien dengan risiko menengah atau tidak pasti,” ujar dia. “Kita tidak lagi hanya bergantung pada faktor risiko konvensional, tetapi juga pada bukti langsung dari proses aterosklerosis untuk menentukan langkah terapi yang lebih tepat.”

    Selain itu, pemahaman terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya jumlah kalsium yang penting, tetapi juga karakteristiknya, seperti volume dan densitas, yang dapat mencerminkan stabilitas plak. Hal ini membuka peluang bagi pendekatan pencegahan yang lebih presisi, personal, dan berbasis dinamika penyakit.

    Peran Teknologi dan Tantangan

    Prof. Antonia juga menyoroti perkembangan teknologi pencitraan dan kecerdasan buatan yang memperkuat pemanfaatan kalsifikasi koroner dalam praktik klinis. Teknologi ini memungkinkan analisis yang lebih konsisten dan efisien, bahkan membuka peluang pemanfaatan data pencitraan lain untuk skrining jantung. Pendekatan ini dinilai relevan bagi Indonesia yang menghadapi beban penyakit jantung tinggi dengan keterbatasan sumber daya.

    “Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, membuka peluang baru dalam menjadikan kalsifikasi koroner sebagai alat skrining yang lebih luas dan efisien.” “Namun, penerapannya harus tetap mempertimbangkan konteks lokal, agar dapat memberikan manfaat optimal dalam memperkuat pencegahan penyakit kardiovaskular, baik pada tingkat individu maupun populasi,” ujar Prof. Antonia.

    Apresiasi Pengukuhan Guru Besar

    Sementara itu, Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng., Sc., menyampaikan apresiasi atas pengukuhan tersebut. “Hari ini merupakan momen yang luar biasa, khususnya bagi Prof. Antonia yang dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-45 di UPH, selamat atas pencapaian ini. Kami berharap Prof. Antonia terus memberikan kontribusi terbaik bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan kedokteran,” ujarnya.

    Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, Dr. (H.C.) James T. Riady, juga menyampaikan apresiasinya. “Bagi keluarga kami, Prof. Antonia bukan hanya akademisi, tetapi juga dokter yang telah merawat kami dengan penuh dedikasi. Beliau adalah sosok langka, cerdas, tajam, dan memiliki semangat belajar tinggi yang mampu menjadi dokter hebat sekaligus guru yang hebat,” katanya.

    Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, tetapi wujud panggilan untuk melayani dan memajukan pendidikan. “Kami berharap gelar ini semakin memperkuat kontribusi beliau dalam mengembangkan FK UPH, khususnya dalam membentuk calon dokter-dokter muda yang lebih baik,” ujar Dr. James.

    Perkuat Pendidikan dan Layanan Kesehatan

    Pengukuhan ini menjadi bagian dari upaya FK UPH dalam memperkuat kualitas pendidikan dan kontribusi di bidang kesehatan. Dekan FK UPH, Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS(K), PhD, berharap pencapaian ini dapat mendorong pengembangan keilmuan dan pelayanan kesehatan di Indonesia. Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, menilai pengukuhan ini mencerminkan komitmen akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak tenaga medis yang berintegritas.

    Pengukuhan Prof. Antonia sebagai Guru Besar menandai langkah baru dalam penguatan akademik FK UPH, sekaligus diharapkan berkontribusi dalam upaya pencegahan penyakit kardiovaskular di Indonesia.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Apakah Protein Shake Bantu Kurangi Berat Badan?

    By adm_imr14 Mei 20262 Views

    Waspada! 9 Penyakit Kulit Umum Saat Hamil

    By adm_imr14 Mei 20263 Views

    Kemenkes Bantu Ayah Dokter Myta yang Wafat di Jambi

    By adm_imr14 Mei 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Pelajar Indonesia Mulai Ketergantungan pada AI: Pakar Pendidikan Ingatkan Dua Sisi yang Perlu Diwaspadai

    17 Mei 2026

    TNI AL Siapkan Pangkalan Kapal Induk Garibaldi, Mengapa Surabaya Jadi Kandidat Terkuat?

    17 Mei 2026

    Rumor transfer Persebaya musim depan: Pemain asing datang, waktu kedatangan bocor

    17 Mei 2026

    IPMADO Kecewa, Komnas HAM Belum Ungkap Aparat Penembak 8 Warga Dogiyai

    17 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?