Pelatihan BHD di Surabaya: Membangun Masyarakat Tanggap Darurat
Sebanyak lebih dari 200 peserta dari berbagai organisasi masyarakat mengikuti pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diselenggarakan oleh DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Surabaya. Kegiatan ini digelar di kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, pada Sabtu (18/4/2026), dalam rangka memperingati HUT ke-52 PPNI.
Keterlibatan peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi dalam meningkatkan kapasitas penanganan kegawatdaruratan. Peserta terdiri dari 55 anggota Nasyiatul Aisyiyah, 49 peserta dari Fatayat NU, 30 perwakilan Takmir Masjid Al Akbar Surabaya, 50 kader PKK Kota Surabaya, serta perwakilan dari Kelurahan Perak Barat. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen untuk menciptakan masyarakat yang lebih tanggap dan siap menghadapi situasi darurat.
Peran Penting Masyarakat dalam Penanganan Darurat
Menurut Ketua DPD PPNI Kota Surabaya, Dr. Nuh Huda, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB, masyarakat memiliki peran krusial sebagai penolong pertama sebelum tenaga medis tiba di lokasi kejadian. Ia menjelaskan bahwa banyak kasus kegawatdaruratan, khususnya henti jantung, terjadi di luar fasilitas kesehatan sehingga membutuhkan respons cepat dari orang di sekitar.
“Penyelamat pertama bukanlah tenaga kesehatan di rumah sakit, melainkan masyarakat yang berada di lokasi kejadian. Dalam kondisi henti jantung, setiap detik sangat berharga. Keterlambatan penanganan pada menit-menit awal sering menjadi penyebab utama meningkatnya angka kematian,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, DPD PPNI Kota Surabaya berharap dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan sekaligus mendukung terwujudnya konsep safe community. Dalam konsep ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton saat terjadi insiden, tetapi mampu berperan aktif sebagai penolong pertama yang sigap, terampil, dan tepat dalam memberikan bantuan.
Materi Pelatihan yang Komprehensif
Pelatihan BHD ini dirancang secara komprehensif dengan pendekatan teori dan praktik. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh instruktur profesional dari PPNI dan HIPGABI Jawa Timur. Materi yang diberikan meliputi:
- Teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP)
- Penanganan tersedak dengan metode Heimlich maneuver
- Penanganan luka bakar
- Penanganan fraktur (patah tulang)
- Prosedur komunikasi darurat melalui layanan 112
Untuk memastikan efektivitas pembelajaran, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil saat sesi praktik. Mereka mendapatkan kesempatan melakukan simulasi langsung dengan pendampingan instruktur, sehingga dapat memahami langkah-langkah pertolongan secara lebih aplikatif.
Pengalaman Peserta dan Manfaat Pelatihan
Salah satu peserta, Siti (45), kader PKK Kota Surabaya, mengaku pelatihan ini memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. Ia merasa lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitarnya.
“Dulu saya takut kalau melihat orang pingsan atau kecelakaan karena tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang saya jadi lebih berani karena sudah memahami langkah-langkah pertolongan pertama,” ungkapnya.
Kesimpulan
Pelatihan BHD yang diselenggarakan oleh DPD PPNI Kota Surabaya ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi kegawatdaruratan. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku penting dalam menyelamatkan nyawa di tengah kondisi darurat.







