Perjalanan Budaya Kopi Gayo dalam Sengkewe Sepanjang Musim
Sengkewe Sepanjang Musim adalah perjalanan budaya yang menelusuri seluruh proses kopi Gayo, mulai dari kebun hingga ke meja pengolahan. Kegiatan ini tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan dunia kopi secara lebih mendalam, baik dari segi ekonomi maupun budaya.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Desember Kopi Gayo dengan dukungan Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan RI. Rangkaian acara ini mencakup berbagai aktivitas yang menggambarkan peran penting kopi dalam kehidupan masyarakat, terutama perempuan.
Belajar dari Kebun: Pegayon sebagai Sekolah Lapangan Kopi
Perjalanan Sengkewe Sepanjang Musim dimulai pada Jumat (3/4/2026) di Kebun Kopi Kem Pegayon, Bener Meriah. Di sana peserta diajak untuk memahami proses penanaman, perawatan, dan pemanenan kopi. Seluruh proses edukasi ini dipandu oleh Bang Roma, seorang ahli yang telah lama mengelola kebun kopi di kawasan Pegayon.
Peserta belajar tahapan demi tahapan, mulai dari pembibitan hingga proses menjadi green bean. Yang menarik adalah bahwa sebagian besar proses panen kopi di Tanah Gayo justru dilakukan oleh perempuan. Kebun Pegayon menjadi ruang belajar terbuka yang menunjukkan betapa pentingnya peran perempuan dalam industri kopi.
Dialog Sengkewe: Perempuan sebagai Pilar Ekonomi Kopi
Di kemudian hari, kegiatan dilanjutkan dengan Dialog Budaya Sengkewe: Perempuan Gayo dan Kopi. Dalam dialog ini, dua narasumber utama adalah Teri Enda Wahyuni dan Uni Inen Iko. Acara dimulai dengan pemutaran film dokumenter tentang kehidupan Bik Uni Inen Iko, perempuan kopi Gayo yang bekerja di kebun sekaligus melakukan sortir kopi.
Film tersebut memperlihatkan realitas kerja perempuan dalam dunia kopi yang sering kali tidak terlihat. Dalam dialog, Teri Enda Wahyuni menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam ekonomi kopi Gayo, sedangkan Uni Inen Iko berbagi kesaksian langsung tentang pengalaman hidupnya sebagai perempuan yang tumbuh bersama kopi sejak kecil.
Dialog ini memperkuat pesan utama rangkaian kegiatan Sengkewe: bahwa perempuan adalah jantung dari dunia kopi Gayo.
Teater Puisi di Taman Kota: Seni sebagai Bahasa Pemulihan
Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah pertunjukan Teater Puisi Sengkewe Sepanjang Musim di Taman Inen Mayak Teri Takengon. Pertunjukan ini menampilkan seniman perempuan yang sejalan dengan tema besar Sengkewe sebagai ruang kerja perempuan dalam dunia kopi.
Di panggung terbuka taman kota itu, tampil sebuku oleh Zuhra, didong banan Donang Banan Pegayon, tari kopi Sanggar Tajuk Kepies, tari munalo Sanggar Nayu, pembacaan puisi oleh penyair perempuan Gayo, musikalisasi puisi oleh musisi Tanah Gayo, doa budaya oleh Maestro Didong Ceh M Din.
Pertunjukan ini menjadi ruang kolektif tempat seni, ingatan bencana, dan harapan pemulihan bertemu dalam satu panggung terbuka yang bisa diakses masyarakat luas.
Ortega Coffee: Mengenal Dunia Depe dan Sangrai
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada Minggu (5/4/2026) di Rumah Produksi Kopi Ortega Coffee, Kebayakan, Aceh Tengah. Di sini peserta diperkenalkan pada proses depe, yaitu kegiatan sortir kopi yang sepenuhnya dilakukan oleh perempuan. Proses ini sangat menentukan kualitas kopi Gayo sebelum masuk ke tahap pengolahan lanjutan.
Selanjutnya, peserta diajak melihat proses sangrai kopi menggunakan mesin, sebuah tahap penting yang menentukan karakter rasa kopi sebelum disajikan. Kegiatan ini dipandu oleh Dini Malim Dewa, satu-satunya perempuan yang tergabung dalam Gayo Cupper Team, sekaligus ahli uji rasa kopi (cupping).
Melalui sesi ini, peserta memahami bahwa kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh kebun, tetapi juga oleh ketelitian perempuan di meja sortir dan kepekaan rasa di ruang cupping.
Sengkewe sebagai Perjalanan Budaya Kopi
Rangkaian kegiatan Sengkewe Sepanjang Musim menunjukkan bahwa kopi Gayo tidak berhenti pada produksi. Ia adalah pengetahuan, pengalaman perempuan, kerja kolektif masyarakat, dan ekspresi kebudayaan. Dimulai dari kebun Pegayon, berlanjut ke ruang dialog perempuan, menjelma menjadi teater puisi di taman kota Takengon, lalu ditutup di ruang produksi Ortega Coffee.
Perjalanan ini menghadirkan satu kesimpulan penting: kopi Gayo bukan hanya hasil panen. Ia adalah perjalanan hidup sepanjang musim.





