Pengembangan Savate di Bali: Dari Olahraga Baru Menjadi Kiblat Bela Diri yang Menarik
Di tengah semangat masyarakat Bali yang terus berkembang dalam bidang olahraga dan pariwisata, sebuah cabang olahraga bela diri asal Prancis mulai menarik perhatian publik. Savate, yang dikenal dengan penggunaan sepatu dan celana panjang, kini sedang mempersiapkan langkah-langkah strategis melalui Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Provinsi Bali tahun 2026.
Meskipun masih tergolong baru, Savate menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat di Bali. Ketua Umum Savate Bali, Rolly Poldandos, menyatakan bahwa Rakerda menjadi momentum penting untuk mewujudkan hasil dari Raker Nasional ke tingkat bawah di Bali. Fokus utamanya adalah penerapan program kompetisi yang masif di tingkat kabupaten dan kota.
Ketertarikan masyarakat Bali terhadap Savate sangat besar karena uniknya tampilan bela diri ini dibandingkan dengan yang konvensional. “Kami sudah dan akan terus melakukan sosialisasi di pantai, GOR, sekolah, hingga instansi pemerintahan. Kami ingin masyarakat Bali tahu apa itu Savate,” ujar Rolly saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Sejak berdiri pada 23 September 2025, Savate Bali telah aktif menggelar acara di destinasi wisata ikonik seperti Uluwatu. Mereka juga berencana menyisir Ubud serta area pantai lainnya setiap bulan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat.
Target besar telah dipancang, yaitu ikut serta dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2027 sebagai kategori ekshibisi pertama. Tidak berhenti di sana, ambisi mereka meluas hingga panggung nasional.
“Targetnya di tahun 2027 kita ikut dalam Porprov sebagai eksibisi pertama. Nantinya, Astungkara mudah-mudahan di tahun 2028 kita juga bisa ekshibisi untuk PON. Itu target utama kita,” tegas Rolly.
Kesiapan organisasi Savate Bali ini mendapat apresiasi tinggi dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali. Komang Suantara, Anggota Bidang Organisasi KONI Bali, mengaku terkesan dengan struktur kepengurusan yang sudah terbentuk di tujuh kabupaten/kota.
Menurutnya, pencapaian ini tergolong sangat cepat dibandingkan dengan cabang olahraga bela diri lainnya yang sudah lebih dulu ada. Ia melihat Savate memiliki potensi besar untuk bersinergi dengan industri sport tourism di Bali, terutama di wilayah seperti Canggu dan Pecatu yang didominasi wisatawan mancanegara.
“Saya tadi melihat, dengan pakai sepatu ini luar biasa. Apalagi kalau daerah Badung ya, daerah Canggu, seperti itu dunia pada senang melihat dan ikut beraktivitas, apalagi ini cabor dari Prancis ya,” ungkap Komang Suantara.
Ia pun berpesan agar para pengurus menjaga semangat “hobi menjadi prestasi” agar konsistensi atlet tetap terjaga. Terkait aspek legalitas, KONI Bali memberikan sinyal hijau karena Savate telah memenuhi syarat minimal kepengurusan di lima kabupaten/kota serta telah menyumbangkan medali emas, perak, dan perunggu pada ajang nasional di Jawa Barat.
“Jadi mudah-mudahan tahun 2027 kita ada event Porprov ya. Nah, di situ ekshibisi dilaksanakan oleh Savate. Ya, itu harapan kami sehingga di sana kita akan bisa menunjukkan seperti apa. Saya tadi lihat tayangan, luar biasa,” ungkapnya.
Pihaknya segera memproses pendaftaran Savate sebagai anggota KONI karena secara syarat sudah terpenuhi yakni minimal ada di 5 kabupaten/kota. “Sementara Savate sudah punya 7. Savate juga sudah punya prestasi nasional dengan meraih medali emas, perak, dan perunggu saat bertanding di Jawa Barat. Kami akan pupuk terus atlet-atletnya,” jabarnya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Umum Savate Bali, Deva Putra, memaparkan data pertumbuhan atlet yang cukup signifikan. Dari semula hanya 14 orang di tahun 2025, kini jumlah atlet telah melonjak menjadi hampir 40 orang yang tersebar di Buleleng, Tabanan, Badung, dan Denpasar.
Baginya, Rakerda ini adalah ajang pemantapan agar strategi yang dirumuskan tidak berhenti menjadi wacana di atas kertas semata. “Yang kita bahas pada hari ini tidak hanya persiapan, juga pemantapan. Kami ingin menunjukkan bahwa kami siap secara organisasi, prestasi, maupun regenerasi atlet,” tutur dia.
“Kami percaya dengan adanya raker ini, hal-hal strategis yang kita rumuskan itu bisa terlaksana dengan baik, bukan hanya wacana tapi kita bisa lakukan dengan aksi nyata,” pungkas Deva.







