Penjelasan Pihak Kecamatan tentang Kondisi Suderajat
Kasus yang melibatkan Suderajat, penjual es kue viral di Bogor, kembali menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai tudingan kebohongan. Pihak kecamatan akhirnya memberikan penjelasan mengenai kondisi sebenarnya dari Suderajat (49 tahun) yang sempat menjadi sorotan media sosial.
Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menjelaskan bahwa Suderajat tidak tinggal di kontrakan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumahnya sedang direhabilitasi melalui program Rutilahu. Proses rehabilitasi ini dimulai sejak Desember 2025 dan dilakukan oleh pemerintah kabupaten. Selama proses pembangunan berlangsung, Suderajat dan keluarganya diungsikan sementara ke kontrakan.
“Dari hasil asesmen, Pak Suderajat sebagai warga kategori miskin. Dia memang punya rumah sendiri. Tapi saat ini rumahnya rusak dan sedang diperbaiki oleh Pemkab melalui program Rutilahu itu, sehingga dia tinggal sementara di kontrakan,” ujar Tenny kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Selain itu, hasil asesmen lintas instansi menunjukkan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma, sehingga kemampuan komunikasi verbal keduanya terbatas. Hal ini juga membuat beberapa pernyataan Suderajat dianggap berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong.
Indikasi Disabilitas dan Gangguan Mental
Tenny menyebutkan bahwa hasil asesmen menemukan adanya indikasi disabilitas baik pada Suderajat maupun istrinya. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh trauma akibat difitnah oleh aparat serta tekanan psikologis akibat banyaknya orang yang datang ke rumahnya.
“Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah,” katanya. Ia menambahkan bahwa keterangan dari ketua RT dan RW setempat juga menunjukkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat.
“Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak),” bebernya.
Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yakni upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.
Perlu Pendekatan yang Lebih Bijak
Menurut Tenny, kasus ini dinilai perlu disikapi secara lebih bijak dan manusiawi. Masyarakat perlu memahami bahwa Suderajat bukan hanya sekadar penjual es kue, tetapi juga seorang warga yang sedang menghadapi tantangan hidup yang cukup berat.
“Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya,” tambahnya. Dengan demikian, pihak kecamatan berharap masyarakat tidak lagi melakukan penilaian terburu-buru tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi yang sebenarnya.
Penjelasan ini diharapkan bisa membantu mengurangi stigma dan cemoohan yang dialami Suderajat. Pemerintah kecamatan juga akan terus memantau perkembangan kondisi Suderajat dan memberikan dukungan sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Dengan begitu, masyarakat bisa lebih memahami bahwa setiap individu memiliki cerita dan tantangan yang unik, serta perlu diperlakukan dengan rasa empati dan pengertian.






