Inovasi Digital di Sektor Pendidikan NTT
Transformasi digital di sektor pendidikan Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki babak baru dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam proses evaluasi pembelajaran. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah pengenalan Asisten Guru berbasis Kecerdasan Buatan (AI) oleh SMA Negeri 4 Kupang. Teknologi ini dirancang khusus untuk membantu tenaga pendidik menyusun soal ujian secara sistematis, dengan fokus pada pembuatan soal berdasarkan tingkatan Taksonomi Bloom, mulai dari level ingatan hingga kreasi.
Inisiatif ini dilakukan melalui kolaborasi dengan PT. Aiti Global Nexus, sebuah perusahaan rintisan teknologi lokal yang berbasis di Kupang. Tujuan dari kegiatan awal ini adalah untuk menjawab tantangan beban administratif guru sekaligus meningkatkan kualitas soal ujian agar lebih selaras dengan standar nasional namun tetap memiliki nilai kearifan lokal.
Pelaksana Tugas Kepala SMA Negeri 4 Kupang, Fransiskus X. Balu Lowa, melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Wasti F. Bolla, menyatakan bahwa adaptasi terhadap teknologi merupakan sebuah keharusan demi mendukung efektivitas pembelajaran. Menurut Wasti, kehadiran asisten AI ini diharapkan mampu memberikan ruang bagi guru untuk lebih fokus pada pendampingan karakter siswa daripada menghabiskan waktu terlalu lama pada urusan teknis penyusunan administrasi soal. Ia menekankan bahwa teknologi ini hadir sebagai pendukung profesionalisme guru di era digital.
Direktur PT. Aiti Global Nexus, Albert Sinlae, yang hadir langsung memimpin proses sosialisasi, menjelaskan bahwa platform yang mereka kembangkan memiliki algoritma yang mampu memahami konteks sosiokultural di NTT. Didampingi oleh tim teknis Andre Djemalu dan Oliv Lalus, Albert memaparkan bagaimana kecerdasan buatan dapat membantu guru mengklasifikasikan soal ke dalam enam level kognitif, yakni C1 hingga C6, dengan tingkat akurasi yang tinggi. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa ujian tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis siswa.
Respons positif mengalir dari para pendidik yang mengikuti simulasi penggunaan perangkat tersebut. Guru Sejarah SMAN 4 Kupang, Sofia Seubelan, mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan AI dalam menyisipkan narasi lokal NTT ke dalam soal-soal sejarah tanpa mengurangi esensi materi kurikulum. Baginya, integrasi konteks lokal sangat penting agar siswa merasa dekat dengan sejarah daerahnya sendiri sembari mengasah kemampuan analisis mereka pada level kognitif yang lebih tinggi.
Senada dengan Sofia, guru Biologi, Susana Simon, menyoroti aspek efisiensi waktu dan presisi ilmiah yang ditawarkan oleh teknologi ini. Dalam mata pelajaran Biologi, menyusun soal yang mampu merangsang daya nalar siswa pada level analisis dan evaluasi seringkali membutuhkan ketelitian ekstra. Dengan asisten AI, proses tersebut dapat dilakukan dengan lebih cepat namun tetap menjaga standar kurikulum yang berlaku. Kecepatan ini dinilai menjadi solusi atas padatnya jadwal mengajar di sekolah.
Di sisi lain, Pak Toni, guru Bahasa Inggris, melihat bahwa platform ini sangat relevan dengan penerapan kurikulum deep learning yang kini sedang digaungkan. Menurutnya, akurasi asisten AI dalam membedah struktur bahasa dan menyesuaikannya dengan tingkat kesulitan siswa sangat membantu dalam menciptakan evaluasi yang adil dan menantang. Ia meyakini bahwa penggunaan teknologi ini akan memicu guru-guru lain untuk terus berinovasi dalam memberikan pengajaran yang lebih mendalam dan bermakna bagi siswa di Kota Kupang.
Menutup rangkaian sosialisasi tersebut, Direktur PT. Aiti Global Nexus, Albert Sinlae, menitipkan harapan besar terhadap sinergi ekosistem digital di Nusa Tenggara Timur. “Kami berharap kolaborasi dengan SMAN 4 Kupang ini menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain untuk berani mengadopsi karya anak bangsa.” “Dukungan dari pemerintah dan sekolah bukan sekadar bentuk kerja sama bisnis, melainkan investasi strategis dalam membangun kedaulatan teknologi pendidikan di NTT. Kami ingin membuktikan bahwa dari Kupang, kita bisa menciptakan standar baru pembelajaran digital yang tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya,” pungkas Albert dengan optimis.







