Studi Baru Mengungkap Dampak Paparan Radiasi WiFi pada Perkembangan Bayi

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Cureus pada Juli 2025 menunjukkan bahwa paparan radiasi frekuensi radio (RF-EMF) dari perangkat nirkabel seperti router WiFi dan ponsel dapat memengaruhi perkembangan saraf bayi. Temuan ini mengundang perhatian orang tua, terutama mereka yang tinggal di lingkungan dengan sinyal internet kuat.
Penjelasan Studi tentang Risiko Paparan Radiasi WiFi dan Ponsel pada Bayi
Studi ini dilakukan di Navi Mumbai, India, dengan melibatkan lebih dari 100 bayi baru lahir beserta ibunya selama satu tahun. Para peneliti menggunakan alat pengukur industri untuk mengukur tingkat paparan RF-EMF di dalam rumah peserta, lalu menghubungkannya dengan hasil perkembangan bayi menggunakan alat asesmen yang terkenal, yaitu Ages and Stages Questionnaire (ASQ).
Yang membuat studi ini unik adalah pendekatan langsungnya: mengukur radiasi di lingkungan nyata, bukan laboratorium, serta menggunakan perangkat sehari-hari seperti yang ada di rumah-rumah umum.
Seberapa Tinggi “Paparan Tinggi” Itu?

Untuk memudahkan analisis, para peneliti membagi keluarga peserta ke dalam tiga kelompok berdasarkan tingkat paparannya (dalam satuan mW/m²):
- Paparan Rendah: ~0,62 mW/m²
- Paparan Sedang: ~8,66 mW/m²
- Paparan Tinggi: ~32,36 mW/m²
Kelompok “paparan tinggi” rata-rata mencapai 32 mW/m², dengan rentang antara 23–45 mW/m². Angka ini tidak termasuk ekstrem — ini adalah tingkat yang bisa ditemukan di rumah-rumah biasa yang memiliki WiFi aktif, beberapa gadget menyala, atau lokasi dekat menara sinyal.
Batas aman internasional yang ditetapkan oleh WHO dan ICNIRP adalah 10.000 mW/m² — jauh di atas angka yang diukur dalam studi ini. Artinya, secara regulasi, semua rumah dalam penelitian ini masih dianggap “aman”. Namun, dampak pada perkembangan bayi sudah terdeteksi pada tingkat paparan yang dianggap normal sehari-hari.
Apa Temuannya?
Hasil studi menunjukkan bahwa bayi yang tinggal di rumah dengan paparan radiasi RF-EMF lebih tinggi cenderung memiliki skor perkembangan yang lebih rendah, terutama dalam tiga area utama:
- Motorik halus — kemampuan menggenggam, memegang benda kecil, dan koordinasi jari.
- Pemecahan masalah — kemampuan berpikir dan merespons situasi baru.
- Interaksi sosial — kemampuan mengenali wajah, merespons senyum, dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Lebih lanjut, bayi di kelompok paparan tertinggi hampir 4 kali lebih berisiko mengalami kekhawatiran dalam kemampuan pemecahan masalah dibandingkan bayi di kelompok paparan rendah.
Selain itu, ada kelompok yang memerlukan perhatian khusus: bayi dengan berat lahir rendah. Studi ini menemukan bahwa bayi-bayi tersebut menunjukkan risiko yang jauh lebih besar mengalami keterlambatan, baik dalam motorik halus maupun kemampuan kognitif secara umum.
Apakah Ini Berarti Harus Langsung Matikan WiFi?
Tenang, studi ini tidak berarti WiFi harus dihapus dari rumah. Ini adalah salah satu studi awal yang mengukur paparan RF-EMF secara langsung dan menghubungkannya dengan perkembangan bayi. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memperkuat kesimpulan.
Namun, para peneliti menekankan bahwa temuan ini penting untuk mendorong orang tua, terutama yang memiliki bayi muda, untuk lebih bijak dalam mengelola paparan nirkabel di lingkungan rumah, terutama di ruang-ruang yang sering digunakan bayi seperti kamar tidur dan ruang bermain.
Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan
Beberapa langkah kecil yang bisa Anda terapkan tanpa mengubah gaya hidup secara drastis:
- Jauhkan router WiFi dari area tidur bayi. Tidak perlu dimatikan total, cukup pastikan tidak diletakkan tepat di dekat tempat tidur atau area bermain bayi.
- Matikan WiFi saat malam hari jika memungkinkan, terutama ketika bayi sedang tidur.
- Gunakan mode pesawat pada ponsel saat meletakkannya di dekat bayi.
- Perhatikan posisi ponsel Anda saat menyusui atau menggendong bayi — sesekali letakkan ponsel jauh dari jangkauan.
Langkah-langkah ini tidak rumit, tidak mahal, dan tidak perlu membuat Anda khawatir berlebihan. Ini hanyalah bentuk kehati-hatian yang wajar sebagai orang tua.






