Orangutan Jantan Viral Karena Mencari Makan di Tumpukan Sampah
Video yang menampilkan seekor orangutan jantan mencari makan di tumpukan sampah di tepi jalan telah viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, orangutan itu terlihat mengais-ngais plastik-plastik limbah rumah tangga dengan tujuan mencari sisa makanan. Akhirnya, ia menemukan buah jeruk dalam sebuah plastik dan langsung memakannya. Video ini menimbulkan perhatian dari warganet yang merasa prihatin dan kasihan melihat kondisi satwa liar tersebut.
Orangutan jantan tersebut diberi nama Sam. Ia ditemukan di kawasan Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada 20 Januari 2026. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur segera melakukan penanganan dengan bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah seperti CAN Borneo dan Centre for Orangutan Protection (COP). Tim gabungan ini melakukan penelusuran intensif selama beberapa hari di titik-titik yang dilaporkan oleh warga.
Pada 27 Januari 2026, Sam berhasil ditemukan dan dievakuasi ke kawasan Jalan Poros Bengalon, Sangatta, Kutai Timur. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Sam berada dalam kondisi fisik yang relatif sehat. Meskipun usianya sudah dewasa, insting bertahan hidup di alam liar masih terjaga dengan baik. Oleh karena itu, tim medis memutuskan bahwa Sam tidak memerlukan proses rehabilitasi panjang di pusat penyelamatan satwa.
Rehabilitasi merupakan proses pemulihan kesehatan dan sifat alami satwa liar agar mereka siap kembali ke habitat aslinya setelah sempat berinteraksi terlalu dekat dengan manusia atau mengalami trauma. Karena Sam dianggap masih memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di alam liar, keputusan untuk segera melepasliarkannya menjadi prioritas utama.
Tim gabungan memilih lokasi yang jauh dari jangkauan aktivitas manusia agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Lokasi yang dipilih adalah Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat yang terletak di Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur. Kawasan ini dipilih karena memiliki ketersediaan pakan alami yang melimpah dan tingkat keamanan yang lebih terjamin dari gangguan aktivitas industri maupun pemukiman warga.
Fenomena Orangutan Masuk ke Kawasan Permukiman
Fenomena orangutan masuk ke kawasan permukiman bukanlah kejadian baru di Kalimantan. Orangutan dikenal sebagai satwa yang hidup di hutan tropis dan sangat bergantung pada keberadaan pohon-pohon besar sebagai tempat berlindung, bergerak, dan mencari makan. Ketika habitat mereka terganggu atau menyusut, orangutan dapat terdorong keluar dari kawasan hutan dan memasuki wilayah yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.
Orangutan hanya ditemukan di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Nama “orang utan” berasal dari bahasa Melayu yang berarti “orang hutan”, merujuk pada kebiasaan hidupnya yang sebagian besar menghabiskan waktu di pepohonan. Secara ilmiah, orang utan termasuk dalam genus Pongo dan merupakan satwa yang dilindungi karena populasinya terus menurun akibat berbagai faktor.
Dalam kehidupan sehari-hari, orangutan dikenal sebagai satwa pemakan buah atau frugivora. Mereka memakan berbagai jenis buah hutan seperti rambutan, durian, nangka, ficus atau buah ara. Selain itu, mereka juga memakan daun muda, kulit kayu, bunga, dan serangga dalam jumlah kecil.
Orangutan biasanya hidup soliter atau menyendiri, terutama individu jantan dewasa. Mereka jarang hidup dalam kelompok besar seperti kera lainnya. Aktivitas harian orangutan sebagian besar dihabiskan untuk mencari makan, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, serta beristirahat di sarang yang mereka buat di atas pohon. Sarang tersebut biasanya digunakan untuk tidur pada malam hari maupun beristirahat di siang hari.
Kondisi hutan yang berkurang akibat alih fungsi lahan, pembukaan perkebunan, atau aktivitas manusia lainnya membuat orangutan kesulitan menemukan buah-buahan hutan. Dalam situasi seperti itu, kawasan permukiman yang memiliki pohon buah sering kali menjadi alternatif bagi satwa liar untuk mencari makan.







