Wabah Malaria Kembali Muncul di Wilayah Pesisir Bangka
Warga pesisir Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kini sedang dihantui wabah malaria. Penyakit yang sempat dinyatakan berhasil dieliminasi sejak tahun 2014 kini kembali muncul dan menyerang puluhan warga dalam beberapa hari terakhir ini. Kejadian ini memicu kekhawatiran besar di kalangan masyarakat, sehingga pemerintah setempat menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk mempercepat penanganan dan memutus rantai penularan.
Beberapa keluarga mengaku terdampak oleh wabah ini. Wika, seorang warga asal Sumatera Selatan yang tinggal di Pantai Batu Atap, mengungkapkan bahwa anaknya harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah hasil pemeriksaan darah menunjukkan positif malaria. Awalnya, ia hanya mengira demam biasa, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa penyakit tersebut adalah malaria. Hal serupa juga dialami oleh Mawar, yang dua anaknya dinyatakan positif setelah mengalami gejala menggigil setelah pulang dari laut.
Status KLB dan Upaya Penanganan
Peningkatan kasus malaria memicu tindakan cepat dari pemerintah Kabupaten Bangka. Bupati Fery Insani menyampaikan bahwa daerah tersebut sebelumnya telah dinyatakan bebas malaria sejak tahun 2014. Namun, kini muncul kembali dengan jumlah kasus yang meningkat secara signifikan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah melakukan berbagai langkah seperti pengasapan (fogging), pemeriksaan kesehatan massal, hingga penyediaan stok obat malaria. Selain itu, biaya pengobatan bagi pasien malaria ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka juga gencar melakukan survei darah massal di kawasan Pantai Batu Atap. Kegiatan ini melibatkan Dinkes, Satpol PP, Linmas, serta perangkat daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah jemput bola dari rumah ke rumah untuk memastikan penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan. Hasil dari survei siklus kedua di Dusun Bubus menunjukkan bahwa delapan orang dinyatakan positif malaria dan langsung mendapatkan pengobatan, sementara 91 warga lainnya negatif.
Meski demikian, tidak semua warga bisa diperiksa karena banyak yang masih bekerja di lokasi tambang. Tim akan kembali melakukan pemeriksaan dan sudah berkoordinasi dengan ketua RT setempat. Survei juga akan diperluas ke kawasan Pantai Bubus yang menjadi salah satu titik dengan jumlah kasus cukup tinggi.
Kendala dalam Pemeriksaan Kesehatan
Di tengah upaya penanganan, pemerintah menghadapi kendala karena sebagian penambang enggan menjalani pemeriksaan kesehatan. Alasan utama mereka adalah takut aktivitas kerja mereka terganggu. Untuk mengatasi masalah ini, Satpol PP bersama perangkat RT setempat akan menghentikan sementara aktivitas penambangan pada waktu tertentu agar seluruh pekerja dapat mengikuti pemeriksaan kesehatan. Langkah ini murni untuk kepentingan kesehatan masyarakat dan bukan bagian dari penertiban aktivitas tambang.
Hubungan Kolong Bekas Tambang dengan Malaria
Sejumlah ahli menilai bahwa keberadaan kolong bekas tambang timah memiliki hubungan kuat dengan peningkatan risiko penularan malaria. Menurut Muhammad Putra Kusuma dari IAKMI Bangka Barat, kolong bekas tambang dapat membentuk ekosistem ideal bagi nyamuk Anopheles untuk berkembang biak. Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Erpan Muchtedi dari Dinas ESDM Provinsi Bangka Belitung. Ia menyatakan bahwa tidak semua bagian kolong cocok sebagai habitat nyamuk anopheles, dan perlu penelitian lebih komprehensif untuk memastikan hubungan sebenarnya antara kolong bekas tambang dan peningkatan kasus malaria.
Tindakan Lanjutan
Untuk mengurangi risiko penularan, pemerintah dan masyarakat diminta untuk bekerja sama dalam menjaga lingkungan sekitar. Selain itu, penting untuk terus melakukan survei dan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan wabah malaria dapat segera dikendalikan dan tidak lagi mengancam kesehatan masyarakat.







