Kritik Zelenskyy terhadap Uni Eropa dan Peningkatan Koordinasi dengan Eropa
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengkritik Uni Eropa karena belum ada kemajuan dalam pembahasan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia serta bantuan senilai €90 miliar untuk Ukraina. Ia menyampaikan kritik tersebut dalam pidato malamnya, di tengah situasi perang yang masih berlangsung antara Ukraina dan Rusia.
Menurut Zelenskyy, kedua keputusan penting tersebut masih terhambat meskipun banyak negara Eropa mengakui bahwa bantuan tersebut sangat dibutuhkan oleh Ukraina. “Belum ada kemajuan terkait paket sanksi ke-20 Uni Eropa terhadap Rusia atas perang ini. Belum ada pula pergerakan terkait paket bantuan €90 miliar untuk Ukraina, meskipun Eropa mengakui bahwa itu sangat penting bagi kami. Namun demikian, paket tersebut tetap terblokir,” ujar Zelenskyy dalam pidatonya pada Sabtu (7/3/2026) malam.
Ia menambahkan bahwa Ukraina akan terus melakukan koordinasi dengan para pemimpin Eropa untuk mendorong keputusan tersebut segera direalisasikan. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah melakukan pembicaraan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron melalui sambungan telepon.
Zelenskyy mengatakan pekan depan akan difokuskan untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara Eropa. “Seluruh minggu mendatang akan didedikasikan untuk kerja sama dengan pihak Eropa guna memastikan bahwa keputusan yang diperlukan untuk melindungi Ukraina benar-benar mulai membuahkan hasil,” katanya.
Dukungan Internasional dan Ancaman Drone Shahed
Selain itu, Zelenskyy juga menyampaikan terima kasih kepada negara-negara yang berpartisipasi dalam program PURL, sebuah skema yang memungkinkan Ukraina membeli rudal Amerika Serikat untuk memperkuat pertahanan udara, termasuk sistem Patriot missile system.
Dalam pidatonya, Zelenskyy juga menyinggung dugaan kerja sama militer antara Rusia dan Iran. Ia menyebut adanya laporan bahwa Rusia memberikan dukungan intelijen kepada Iran yang dapat digunakan untuk menyesuaikan serangan terhadap Amerika Serikat. “Kami juga melihat bukti adanya komponen Rusia dalam drone Shahed yang digunakan di Timur Tengah. Drone tersebut dikerahkan melawan negara-negara Arab dan Amerika di wilayah itu,” ujarnya.
Menurut Zelenskyy, fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa Rusia dan Iran memiliki hubungan yang erat dalam konflik yang terjadi di berbagai kawasan. “Setiap fakta ini menunjukkan bahwa kita berhadapan dengan rezim yang tidak hanya saling terhubung, tetapi juga bertindak secara terkoordinasi, baik di Eropa maupun di Timur Tengah,” katanya.
Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina saat ini juga berupaya membantu negara-negara di Timur Tengah menghadapi ancaman drone Shahed. Karena itu, ia berharap dunia internasional juga memberikan dukungan yang sepadan bagi Ukraina dalam mempertahankan diri dari serangan Rusia.
Perkembangan Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina secara terbuka dimulai pada 24 Februari 2022, ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke sejumlah kota di Ukraina. Serangan ini menandai eskalasi konflik yang sebelumnya telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Akar ketegangan sebenarnya sudah muncul sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina secara bertahap mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kedekatan ini dipandang oleh Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan bekas wilayah Uni Soviet.
Situasi semakin memanas pada tahun 2014 setelah terjadi gelombang demonstrasi besar di Kyiv yang dikenal sebagai Revolusi Maidan. Pergantian pemerintahan Ukraina yang lebih condong ke Barat memicu reaksi keras dari Rusia, yang kemudian mencaplok wilayah Krimea. Pada waktu yang sama, konflik bersenjata juga pecah di wilayah Donbas antara militer Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.
Berbagai upaya diplomatik sempat dilakukan untuk meredakan konflik, tetapi belum berhasil menghentikan ketegangan secara permanen. Situasi akhirnya mencapai titik puncak pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar terhadap Ukraina.
Peristiwa Penting dalam Perang
Di tengah perang yang masih berlangsung, AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan. Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber:
11 Orang Tewas dalam Serangan Rusia di Kharkiv
Serangan rudal Rusia menghantam sebuah gedung bertingkat di distrik Kharkiv pada malam 7 Maret. Jumlah korban tewas terus bertambah hingga mencapai 11 orang, termasuk dua anak berusia 13 dan 9 tahun, sementara proses pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di lokasi kejadian. Selain korban tewas, sedikitnya 16 orang mengalami luka-luka atau reaksi stres, termasuk seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang dirawat di ruang intensif serta beberapa korban lainnya dari berbagai usia.Ukraina Luncurkan Registri Digital untuk Data Personel Militer
Kabinet Menteri Ukraina menyetujui pembentukan Daftar Negara Personel Militer, sebuah sistem digital yang menjadi sumber data resmi tentang prajurit. Registri ini akan mempermudah administrasi militer, mengurangi penggunaan dokumen kertas, serta mempercepat akses personel militer dan keluarganya terhadap jaminan sosial dan layanan digital melalui aplikasi Army+.Pengiriman Jet Tempur F-16 Belgia ke Ukraina Tertunda
Ukraina belum menerima satu pun dari 30 jet tempur F-16 Fighting Falcon yang dijanjikan oleh Belgia, meskipun sebelumnya direncanakan empat pesawat pertama dikirim pada 2024. Janji tersebut disampaikan oleh mantan Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo, namun hingga kini jadwal pengiriman belum ditetapkan secara pasti.Ukraina Pukul Mundur 11 Serangan Rusia di Arah Hulyaipil
Pasukan Pertahanan Ukraina berhasil memukul mundur 11 serangan pasukan Rusia di wilayah Hulyaipil pada 7 Maret. Serangan tersebut terjadi di beberapa daerah seperti Dobropillya, Zaliznychny, Varvarivka, Myrny, dan Zeleny, sementara dua pertempuran masih berlangsung.







