Berita Internasional Terkini
Dalam beberapa hari terakhir, berbagai peristiwa global menarik perhatian publik dan menjadi fokus utama dalam berita internasional. Mulai dari penggunaan senjata yang kontroversial hingga pernyataan politik penting, berikut adalah rangkuman berita terkini.
1. Iran Menembakkan Rudal ke Negara Tetangga, Trump Yakin Masih Ada 22 Persen yang Tersisa
Pernyataan Donald Trump mengenai kemampuan rudal Iran menjadi topik perdebatan. Ia menyebut bahwa Iran masih memiliki “21-22 persen” rudal yang tersisa, meskipun telah terjadi serangan besar-besaran dari pihak AS dan Israel. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks konflik yang sedang berlangsung di kawasan Teluk.
Di sisi lain, militer Iran mengklaim telah menembakkan “rudal peringatan” ke dua kapal perusak AS di Teluk Oman, sebuah klaim yang segera dibantah oleh militer AS. Dua hari sebelumnya, Kuwait melaporkan telah mencegat 30 rudal balistik yang ditembakkan sebagai bagian dari “agresi Iran yang keji.”
Bahrain dan Kuwait menjadi sasaran serangan Iran. Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa mereka menargetkan pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait dan Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain. Bahrain merespons dengan mengutuk serangan tersebut dan menegaskan bahwa keamanan tidak bisa dibangun dengan rudal dan stabilitas tidak bisa dijaga dengan menanam ranjau.
2. Tak Suka Didesak Akhiri Perang, Trump: Negosiasi Iran Bisa Berlangsung Bertahun-tahun
Presiden AS Donald Trump mengkritik pihak-pihak yang mendesaknya untuk segera mencapai kesepakatan dengan Iran. Ia menekankan bahwa proses negosiasi dapat memakan waktu bertahun-tahun. Trump membandingkan durasi konflik saat ini dengan Perang Vietnam yang berlangsung selama 19 tahun.
Ia menuduh pemerintah Iran telah “memerangi” dan “menargetkan” warga Amerika selama 47 tahun. Trump mengklaim bahwa AS telah menghancurkan sepenuhnya kemampuan militer Iran, termasuk sebagian besar pabrik drone, landasan peluncuran, dan lokasi pembuatan rudal. Meski begitu, ia menyatakan bahwa Iran masih memiliki kemampuan rudal sekitar 21-22 persen.
3. Terbukti Gunakan Bom Fosfor Putih di Lebanon, Israel Bakal Hadapi Investigasi Hukum
Tindakan zionis Israel yang menggunakan bom fosfor putih di Lebanon selatan kini bukan lagi isapan jempol. Laporan investigasi dari lembaga kemanusiaan internasional menunjukkan adanya bukti tak terbantahkan mengenai penggunaan bom fosfor putih oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di kawasan padat penduduk, khususnya di Kota Yohmor.
Penggunaan bom fosfor putih dinilai melanggar Hukum Humaniter Internasional. Fosfor putih memiliki karakteristik unik yang sangat berbahaya. Ketika bersentuhan dengan oksigen di udara bebas, zat ini akan menyala secara spontan dengan suhu mencapai lebih dari 800 derajat Celsius. Paparan kimia ini berdampak buruk bagi manusia, baik melalui uap maupun serpihan padat yang mengenai kulit.
4. Putin Jawab Surat Zelenskyy, Sebut Isinya Kasar dan Picu Kontroversi
Presiden Rusia Vladimir Putin menanggapi surat terbuka dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengenai tawaran pertemuan langsung dan membahas gencatan senjata. Putin menganggap surat tersebut mengandung unsur kasar karena menimbulkan pertanyaan mengenai keseriusan Ukraina dalam membuka dialog.
Putin menegaskan bahwa Rusia tidak pernah menolak kemungkinan pertemuan langsung dengan Zelenskyy. Namun, ia menekankan bahwa pertemuan tersebut tidak akan memberikan hasil jika masalah utama belum diselesaikan. Ia juga menyinggung posisi politik Zelenskyy, yang masih menjabat karena keadaan darurat militer.
5. Rusia Perkirakan Terima 13,6 Miliar Dolar AS dari Lonjakan Produksi Minyak di Selat Hormuz
Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov menyatakan bahwa Rusia memperkirakan krisis maritim di Selat Hormuz dapat menghasilkan pendapatan tak terduga sebesar 1 triliun rubel Rusia (sekitar 13,6 miliar dolar AS) bagi anggaran negara. Kenaikan harga minyak global membalikkan kondisi anggaran yang tidak menguntungkan di awal tahun ini.
Iran dan Oman bersama-sama akan mengelola Selat Hormuz sesuai dengan hukum internasional. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kedua negara memiliki “hak alami” untuk berkoordinasi dan mengambil keputusan terkait pengelolaannya.
Inggris dan Prancis telah menyelesaikan rencana untuk memimpin misi pembersihan ranjau multinasional di Selat Hormuz beberapa hari setelah kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali jalur air tersebut.





