Kritik dan Saran Dino Patti Djalal terhadap Kunjungan Presiden ke Luar Negeri
Sebagai mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dr. Dino Patti Djalal memberikan sejumlah saran penting terkait kunjungan Presiden RI, Prabowo Subianto, ke luar negeri. Ia menilai bahwa frekuensi kunjungan presiden ke luar negeri terlalu sering dan tidak sesuai dengan kondisi ekonomi yang sedang mengalami tekanan.
Dino Patti Djalal mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Data yang dimilikinya menunjukkan bahwa satu dari enam hari dihabiskan oleh presiden di luar negeri. Hal ini memicu berbagai kritik dari masyarakat dan pengamat politik.
Alasan Mengapa Dino Memberikan Saran
Dino menyampaikan saran-saran tersebut karena ia merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai sahabat lama Prabowo. Selain itu, ia juga mendapatkan anugerah bintang mahaputera dari Presiden Prabowo, yang menunjukkan bahwa presiden mempercayai pandangan dan kredibilitasnya dalam hal politik luar negeri.
Ia ingin agar rakyat Indonesia dapat melihat bahwa Presiden tidak hanya fokus pada kemegahan protokoler, tetapi juga pada kepekaan dan kepatutan dalam menjalankan tugasnya.
Lima Saran yang Disampaikan oleh Dino Patti Djalal
1. Gunakan Video Call untuk Komunikasi dengan Pemimpin Dunia
Dino menyarankan Presiden Prabowo lebih mengandalkan video call atau zoom call untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia. Menurutnya, kunjungan bilateral biasanya hanya berlangsung selama satu jam atau dua jam, sementara sisanya hanya basa-basi dan acara seremonial yang tidak perlu.
Dengan menggunakan video call, negara dapat menghemat biaya yang sangat besar. Contoh yang diberikan adalah Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang sudah 17 kali menelpon Presiden AS Donald Trump tanpa pernah melakukan pertemuan bilateral.
2. Manfaatkan Forum Internasional untuk Bertemu Banyak Pemimpin
Dino menyarankan Presiden Prabowo memanfaatkan kunjungan ke forum internasional seperti PBB, G20, atau ASEAN untuk bertemu banyak pemimpin negara lain. Ia mengusulkan penerapan Formula 1 + 8, yaitu dalam menghadiri forum internasional, Presiden bisa menerima atau bertemu dengan delapan kepala negara lain yang hadir.
3. Rencanakan Kunjungan Secara Profesional dan Transparan
Dino menilai bahwa beberapa kunjungan presiden dilakukan secara spontan tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas. Ia menyarankan agar rencana kunjungan presiden dipetakan setahun sebelumnya dan diumumkan satu bulan sebelumnya.
Ia mencontohkan kunjungan ke Pakistan dan Rusia yang dilakukan tanpa informasi apapun kepada publik sebelum berangkat. Ia menilai diperlukan azas akuntabilitas dan transparansi dalam menjalankan tugas presiden.
4. Lebih Banyak Menerima Tamu di Tanah Air
Dino menyarankan Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di tanah air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri. Ia mencontohkan Presiden China Xi Jinping yang lebih banyak menerima tamu di Beijing ketimbang pepergian ke luar negeri.
5. Delegasikan Misi Taktis ke Menteri Luar Negeri
Dino mengusulkan agar ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dioper ke Menteri Luar Negeri Sugiono. Menurutnya, cara ini akan menghemat biaya karena biaya perjalanan Menlu mungkin hanya didampingi oleh tiga orang staf, yang jauh lebih hemat daripada biaya perjalanan presiden.
Ia mencontohkan mantan Menlu Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa, dan Retno Marsudi yang tidak pernah menempatkan diri sebagai bagian dari rombongan pengiring presiden, tetapi fokus total untuk menangani politik luar negeri.
Kesimpulan
Dino Patti Djalal menyampaikan saran-saran tersebut sebagai bentuk dari suara rakyat yang murni dari nurani mereka. Ia percaya bahwa rakyat Indonesia tidak lagi terpukau dengan kemegahan protokoler dalam dunia diplomasi, tetapi mengharapkan pemimpin mereka bisa menunjukkan kepekaan dan kepatutan dalam melakukan perjalanan ke luar negeri.






