Pengalaman Pahit dan Manis Umarulfaruq dalam Mencari Ilmu
Ketua Majlis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten, Jawa Tengah, Dr Umarulfaruq Abubakar Lc., M.H.I pernah menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang. Ketika itu, Umarulfaruq masih menimba ilmu di Mesir.
Hidup di Mesir bukan perkara mudah bagi Umarulfaruq. Selama tujuh kali Idulfitri, ia tidak dapat pulang. Komunikasi dengan keluarga masih melalui surat yang balasannya bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untuk mencukupi kebutuhan, ia bekerja sambil belajar. Ia menjadi petugas kebersihan, membantu pekerjaan di masjid, serta menerjemahkan buku. Semua dilakukan agar tetap dapat bertahan dan melanjutkan studi.
“Pengalaman itu membentuk pikiran dan perasaan,” ujar Umarulfaruq yang juga Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia (Formaqi). Ujian terberat datang pada 2005. Dua tahun setelah keberangkatannya, sang ayah wafat. Ia masih mengingat pesan terakhir yang diterimanya, “Selamat belajar, Nak.” Keesokan harinya, kabar duka itu datang. Ia ingin pulang, tetapi terkendala visa dan biaya. Sejak saat itu, Ramadhan, rindu, dan kehilangan menjadi bagian dari proses pendewasaannya.
Masa Kecil Umarulfaruq
Umarulfaruq berasal dari sebuah desa kecil di Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Di kampung yang tenang itu, cahaya Ramadhan selalu datang dengan cara yang istimewa. Lampu-lampu minyak dinyalakan pada tiga malam terakhir bulan suci dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya kecil berkelip di sepanjang jalan, seolah menjadi penanda harapan.
Masa kecil Umar dihabiskan di lingkungan religius. Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, tempat ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas. Lantunan Ayat Suci dan nasihat para guru menjadi irama keseharian. “(Masa kecil) dihabiskan di Gorontalo sampai SMA, baru berangkat ke Mesir,” ujar Umarulfaruq saat ditemui di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026).
Tradisi Tumbilotohe menjadi kenangan yang selalu ia bawa. Pada malam ke-27 Ramadan, meski telah jauh dari kampung halaman, ia tetap menyalakan lampu sebagai simbol harapan. Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan penanda mimpi yang mulai tumbuh sejak kecil.
Mimpi ke Negeri Para Ulama
Di pesantren, Umar kecil bertemu sejumlah guru dari Mesir. Salah satunya adalah Syekh Abdussalam Fatkhi Harun. Suatu hari, ketika usianya sekitar 12 tahun, sang syekh berkata, “Umar, nanti kalau sudah besar belajar ke Mesir. Saya yang jemput.” Kalimat itu terpatri kuat. Terlebih, ayahnya pernah memiliki mimpi yang sama, tetapi terhalang biaya. Mimpi itu kemudian menjadi amanah keluarga.
Tujuh tahun berselang, ia benar-benar berangkat ke Mesir pada 2003. Pertemuan kembali dengan sang guru menjadi momen haru sekaligus awal ujian perantauan. Pesan ayahnya sebelum berangkat selalu ia ingat, agar tidak menangis supaya tidak meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Menjaga Sanad dan Menghafal Kalam Ilahi
Bagi Umar, belajar di Mesir bukan sekadar meraih gelar akademik. Ia memanfaatkan kesempatan untuk menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan menempuh sanad qiraat. Menurutnya, Mesir adalah salah satu pusat keilmuan Al-Qur’an dengan jaringan sanad yang kuat. Proses itu kemudian ia lanjutkan di Indonesia bersama Syekh Abdul Hamid Isa Qurqur Al-Mishri.
Menghafal Al-Qur’an, menurutnya, adalah jalan menuju kebahagiaan batin. Ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan sarana pembersihan jiwa.
Cinta dan Kepulangan
Pada 2011, ia kembali ke Indonesia. Namun, langkahnya tidak langsung menuju Gorontalo. Ia bertolak ke Banjarmasin untuk melamar perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pada 4 Syawal 2011, keduanya resmi menikah. Kini, di tengah kesibukan sebagai pengajar dan pimpinan lembaga, ia berusaha menyediakan waktu untuk keluarga. Selepas salat Isya, ia memilih berada di rumah, menyimpan telepon genggam, dan bercengkerama dengan anak-anaknya.
Menulis sebagai Warisan
Selain berdakwah, Umar juga menulis. Setidaknya 18 buku telah ia terbitkan. Menulis, baginya, adalah cara merawat gagasan agar tetap hidup. “Menulis itu bekerja untuk keabadian,” katanya. Ia ingin ilmu yang dituliskan dapat menjadi warisan manfaat ketika dirinya kelak tiada.
Merawat Batin di Tengah Distraksi
Di era yang serba cepat, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati. Menurutnya, manusia perlu memiliki rasa takut yang melahirkan harapan takut yang menuntun pada perbaikan diri, bukan kecemasan yang melemahkan. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Sebab, ketika sandaran hidup hanya pada uang, kegelisahan mudah tumbuh.
Bagi Umar, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk kembali membersihkan jiwa, mengurangi distraksi, dan meneguhkan tujuan hidup. Perjalanannya membuktikan bahwa mimbar dakwah tidak selalu dimulai dari panggung yang tinggi. Kadang, ia berawal dari lantai masjid yang disapu dengan sabra dari kerja sunyi seorang perantau yang memelihara mimpi dan menjaga cahaya di dalam hati.







