Konflik Timur Tengah Memuncak Setelah Serangan Gabungan AS dan Israel ke Iran
Ketegangan global mencapai titik puncak setelah perang terbuka pecah akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Peristiwa ini mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah dalam hitungan jam, dengan operasi militer besar-besaran yang dilaporkan menghantam sejumlah target strategis, mulai dari fasilitas militer hingga pusat kekuasaan elite Iran.
Ledakan dahsyat menggema di berbagai wilayah, memicu kepanikan massal dan status siaga penuh di seluruh negeri. Situasi semakin memperburuk ketegangan ketika mantan Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut tewas dalam rangkaian serangan tersebut. Pernyataan Trump langsung memicu gelombang reaksi keras, baik dari dalam Iran maupun komunitas internasional.
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan pada Sabtu 28 Februari bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel ke Iran. Pernyataan Trump muncul sekitar satu jam setelah sumber dari Israel mengonfirmasi kematian Khamenei kepada USA TODAY. Berita ini juga dilaporkan oleh Reuters dan CNN.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” tulis Trump di platform Truth Social. Ia menambahkan, “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi bagi seluruh warga Amerika yang luar biasa, dan orang-orang dari berbagai negara di dunia yang telah dibunuh atau cacat akibat ulah Khamenei dan geng preman haus darahnya.”
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian dalam kondisi aman dan sehat. Khamenei, yang berusia 86 tahun, telah memimpin Iran sejak 1989. Ia sebelumnya menjabat sebagai Presiden Iran dari 1981 hingga 1989. Khamenei dikenal sebagai sosok yang menciptakan dan memberikan kekuasaan besar kepada Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Khamenei Menjadi Target Serangan AS-Israel
Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, Khamenei masih hidup. “Semua pejabat tinggi masih hidup,” katanya. “Jadi semua orang sekarang berada di posisinya, kami menangani situasi ini, dan semuanya baik-baik saja,” kata Abbas Aragchi.
Ia menyebut bahwa negara mungkin kehilangan ‘satu atau dua komandan, tapi itu bukan masalah besar’. Sementara itu, Trump dalam unggahannya di Truth Social, juga menulis: “Kami mendengar bahwa banyak dari IRGC, Militer, serta Pasukan Keamanan dan Polisi mereka, tidak lagi ingin berperang, dan mencari imunitas dari kami. Seperti yang saya katakan tadi malam, ‘Sekarang mereka bisa mendapatkan imunitas, nanti mereka hanya akan mendapatkan kematian!'”
Masa Depan Iran
Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi setelah kematian Ruhollah Khomeini pada Juni 1989. Ia menjadi penerus favorit setelah Khomeini mendepak Ayatollah Agung Hossein-Ali Montazeri, yang sempat kritis terhadap kebijakan Khomeini. Khamenei dikabarkan telah menunjuk tiga ulama senior sebagai kandidat untuk menggantikannya jika ia terbunuh pada Juni 2025.
Menurut memorandum perencanaan kontinjensi yang dikeluarkan oleh Council on Foreign Relations pada Februari 2026, kematian Khamenei akan menjadi perubahan kepemimpinan kedua di Iran sejak pendirian rezim tersebut hampir 50 tahun yang lalu. Dampaknya akan bergema di seluruh Timur Tengah dan dunia.

Sosok Khamenei
Khamenei lahir dari keluarga ulama pada tahun 1939. Ia menemukan panggilannya sebagai pemimpin agama saat menjadi oposisi politik terhadap Pahlavi, seorang otokrat yang didukung AS. Menurut biografi resminya, Khamenei pernah disiksa pada usia 24 tahun saat menjalani masa penjara pertamanya karena aktivitas politik di bawah kekuasaan Shah.
Setelah revolusi, posisi Khamenei naik dengan cepat hingga menjadi Wakil Menteri Pertahanan, yang membuatnya dekat dengan IRGC. Pada tahun 1981, dengan dukungan Khomeini, ia menjadi Presiden Iran. Di usia 50 tahun, Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Ia memegang otoritas penuh atas program nuklir Iran dan menafsirkan bagaimana hukum serta kode agama diterapkan.
Operasi Epic Fury
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS dan Israel meluncurkan “operasi tempur besar” terhadap Iran pada 28 Februari setelah pengerahan kekuatan Amerika terbesar di Timur Tengah sejak invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003. Trump juga menyerukan agar rakyat Iran menggulingkan pemerintah mereka.
Ledakan terlihat di Teheran dan sedikitnya lima kota lain di seluruh Iran, sementara militer Iran mulai membalas terhadap Israel. Ledakan dan sirene peringatan juga dilaporkan di beberapa negara Timur Tengah tempat AS memiliki pangkalan militer. Pentagon menamai operasi terhadap Iran sebagai “Epic Fury.” Militer Israel memberi sandi “Roaring Lion.”
Israel awalnya meluncurkan operasi tersebut dan kemudian bergabung dengan AS. Ledakan di Teheran dilaporkan pada dini hari waktu Timur AS pada 28 Februari, yang berarti pertengahan pagi di Iran. Dalam hitungan jam, Iran mulai mengirimkan rudal ke arah Israel dan muncul laporan tentang upaya serangan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Beberapa negara menyatakan rudal-rudal tersebut berhasil dicegat.
Jumlah korban dari serangan dan aksi balasan belum segera diketahui. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan satu warga sipil tewas akibat reruntuhan yang jatuh. Media pemerintah Iran melaporkan 36 anak, seluruhnya perempuan, tewas ketika sebuah rudal menghantam sekolah di Minab, di Iran bagian barat. USA TODAY tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut.
Tujuan Trump di Iran
Gedung Putih telah meningkatkan tekanan terhadap Iran selama berbulan-bulan. Trump beberapa kali mengatakan ia tidak puas dengan cara otoritas Iran menindak keras para demonstran pada Desember tahun lalu. Ia juga menyatakan ingin Iran menyetujui kesepakatan baru terkait program nuklirnya.
Pada 27 Februari, Trump mengatakan ia tidak senang dengan perkembangan upaya penyelesaian masalah secara diplomatik. Meski demikian, sejumlah pakar keamanan nasional mempertanyakan logika strategis Trump dalam menyerang Iran. Bagi Israel, alasannya mungkin lebih jelas: negara itu sejak lama memandang Iran sebagai ancaman eksistensial karena ancaman berulang untuk melenyapkan Israel.
Namun aneh bagi Trump. Apalagi Trump juga mengklaim bahwa akibat serangan sebelumnya terhadap Iran, AS telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran.






