Perselisihan Publik Amerika Serikat Mengenai Serangan ke Iran
Publik Amerika Serikat sedang terbelah mengenai alasan serangan yang dilakukan oleh pemerintah AS terhadap Iran. Pertanyaan utama muncul: apakah tindakan militer tersebut hanya dilakukan karena “menuruti” kemauan Israel, atau justru sebagai hak bela diri AS terhadap ancaman dari Teheran.
Menurut pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Paman Sam sebenarnya sudah mengetahui bahwa Israel akan melakukan serangan terlebih dahulu ke Iran. Artinya, AS tidak secara langsung terancam oleh Iran, tetapi lebih melihat ancaman terhadap pasukan mereka jika Israel bertindak tanpa intervensi.
“Kami tahu akan ada aksi (serangan) Israel,” katanya kepada wartawan pada Senin. “Kami tahu bahwa itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kami tahu bahwa jika kami tidak menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka melancarkan serangan tersebut, kami akan menderita korban yang lebih besar.”
Pernyataan ini menimbulkan spekulasi besar bahwa sebenarnya tidak ada ancaman langsung dari Iran terhadap AS. Faktanya, Israel merasa terancam oleh Iran dan meminta bantuan dari AS. Penjelasan Rubio menunjukkan bahwa AS tidak memiliki alasan untuk mengjustifikasi perang terhadap Iran lantaran tidak ada ancaman langsung terhadap negara tersebut.
“Tidak ada ancaman langsung terhadap Amerika Serikat dari Iran,” kata Mark Warner, politikus Demokrat di komite intelijen Senat, yang telah menerima pengarahan rahasia dari Rubio. “Yang ada adalah ancaman terhadap Israel.”
Menurutnya, jika pemerintah menyamakan ancaman terhadap Israel dengan ancaman langsung terhadap AS, maka AS berada di ranah perkara yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Kita harus mengadakan debat di Senat Amerika Serikat mengenai otorisasi penggunaan kekuatan militer,” kata Chris Murphy, seorang senator Demokrat, setelah ia dan anggota parlemen lainnya menerima pengarahan rahasia dari Rubio dan pejabat tinggi pemerintahan lainnya.
Ia menyatakan anggota Kongres seharusnya tidak memberikan suara untuk melanjutkan operasi militer ini. Dewan tidak bisa menjustifikasinya ke dalam sebuah rancangan undang-undang sampai ada berdebat tentang perang yang sangat tidak populer, tidak bermoral, dan ilegal dengan Iran ini.
Donald Trump berupaya meluruhkan pernyataan Rubio. Ia menangkal gelombang protes anti-Israel yang memanas di Kongres, termasuk di antara pendukungnya sendiri, MAGA. Trump menyangkal anggapan bahwa ia dipaksa untuk menyerang Iran karena Israel telah memutuskan untuk melakukannya terlebih dahulu.
Ketika ditanya apakah Israel telah mendorongnya untuk melancarkan aksi militer, Trump mengatakan kepada wartawan, “Tidak. Mungkin saya telah memaksa mereka.” “Kami sedang bernegosiasi dengan orang-orang gila ini, dan menurut pendapat saya, mereka akan menyerang lebih dulu. Mereka akan menyerang. Jika kami tidak melakukannya, mereka akan menyerang lebih dulu. Saya sangat yakin akan hal itu.”
Trump telah melontarkan beragam klaim untuk menyerang Iran. Klaim itu seperti Iran membangun rudal yang bisa menyasar Amerika hingga senjata nuklir. Teheran disebut semakin dekat dengan membantu senjata nuklir. Namun klaim Trump itu telah dibantah oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Kepala IAEA Rafael Grossi mengatakan bahwa tidak ada bukti Iran sedang membangun bom nuklir. Meski ia, tak menampikan penolakan negara Iran untuk memberikan akses penuh kepada inspektur IAEA ke fasilitas-fasilitas tersebut. Langkah Iran ini dinilai merupakan masalah yang “sangat mengkhawatirkan”.
“Saya telah sangat jelas dan konsisten dalam laporan saya tentang program nuklir Iran: meskipun tidak ada bukti Iran sedang membangun bom nuklir, persediaan uranium yang diperkaya tingkat hampir senjata nuklir yang besar dan penolakan untuk memberikan akses penuh kepada inspektur saya merupakan penyebab kekhawatiran serius,” kata Grossi dalam sebuah unggahan di media sosial.
“Karena alasan ini, laporan saya sebelumnya menunjukkan bahwa kecuali dan sampai Iran membantu IAEA dalam menyelesaikan masalah pengamanan yang belum terselesaikan, badan tersebut tidak akan dapat memberikan jaminan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai.”
Senat AS dijadwalkan akan melakukan pemungutan suara atas resolusi kekuasaan perang yang akan melarang Trump melakukan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran. Resolusi ini digulirkan seiring meningkatnya kritik atas keputusan Trump untuk melanjutkan serangan tanpa persetujuan Kongres. Debat mengenai RUU tersebut dijadwalkan akan dimulai pukul 11 pagi waktu setempat (16:00 GMT) hari ini, dengan pemungutan suara akan berlangsung pukul 4 sore (21:00 GMT).
Negosiasi Berbuah Pengkhianatan
Sebelum serangan terjadi, AS dan Iran sebenarnya sedang melakukan negosiasi dengan mediasi Oman terkait program nuklir. Kedua pihak saling mengajukan tawaran masing-masing. Namun di tengah mediasi yang belum rampung itu, Amerika mendukung Israel menyerang terlebih dahulu.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi yang telah menjadi mediator dalam beberapa putaran pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran baru-baru ini merasa kecewa dengan serangan Israel. Dalam unggahan media sosial, Albusaidi mengatakan ia terkejut dengan serangan itu. “Negosiasi yang aktif dan serius sekali lagi telah dirusak. Baik kepentingan Amerika Serikat maupun tujuan perdamaian global tidak terlayani dengan baik oleh hal ini. Dan saya berdoa untuk orang-orang tak berdosa yang akan menderita,” tambahnya.
Menurut Badr Albusaidi para negosiator dari AS dan Iran telah mencapai kemajuan substansial menuju kesepakatan untuk mengekang program nuklir Iran. Albusaidi kepada CBS News mengatakan bahwa kesepakatan perdamaian sudah berada dalam jangkauan. Iran, kata ia, telah setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki material nuklir yang dapat menciptakan bom. Persediaan uranium yang diperkaya yang ada di negara itu akan dicampur ke tingkat terendah yang mungkin dan diubah menjadi bahan bakar, dan bahan bakar itu tidak dapat diubah kembali.
Iran juga bersedia memberikan inspektur dari Badan Energi Atom Internasional PBB “akses penuh” ke situs nuklirnya untuk memverifikasi ketentuan kesepakatan tersebut. “Tidak akan ada akumulasi, tidak ada penimbunan, dan verifikasi penuh,” katanya. Albusaidi mengatakan bahwa jika ada kesepakatan yang adil dan berkelanjutan, dia cukup yakin “bahwa bahkan inspektur Amerika akan memiliki akses pada suatu titik dalam proses tersebut.”







