Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Satu Keluarga Tewas di Temanggung, Hobi BBQ Jadi Sorotan

    3 Juni 2026

    9 tanda maag parah yang tidak boleh diabaikan!

    3 Juni 2026

    8 Kebiasaan Pagi yang Mengubah Hidup Anda dalam 60 Hari

    3 Juni 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 3 Juni 2026
    Trending
    • Satu Keluarga Tewas di Temanggung, Hobi BBQ Jadi Sorotan
    • 9 tanda maag parah yang tidak boleh diabaikan!
    • 8 Kebiasaan Pagi yang Mengubah Hidup Anda dalam 60 Hari
    • Saige Luncurkan Pabrik Kedua di Karawang, Perkenalkan Lima Motor Listrik Baru di Indonesia
    • Jadwal Kapal Pelni Voyage 10: Jakarta-Bitung via Surabaya-Ambon-Ternate 2-15 Juni
    • Sutradara Pesta Babi Buka-bukaan Soal Pendanaan Film
    • Imam soroti ketidaksesuaian kebijakan FIFA menjelang Piala Dunia 2026
    • Pandangan: Sekolah Jauhkan Siswa dari Layar
    • Siaran Langsung Moto3 MotoGP Italia 2026: Aksi Veda Pratama Pukul 16.00 WIB
    • Anggota DPR RI Soroti Vonis Jonas Salean, Putusan Perdata Tak Boleh Diabaikan
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Politik»Demo No Kings Guncang AS, 8 Juta Demonstran Menentang Trump di Tengah Perang Iran

    Demo No Kings Guncang AS, 8 Juta Demonstran Menentang Trump di Tengah Perang Iran

    adm_imradm_imr2 April 20268 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Gelombang Demonstrasi Besar di Berbagai Wilayah Amerika Serikat

    Pada hari Sabtu (28/3/2026), terjadi gelombang demonstrasi besar yang melibatkan sekitar 8 juta warga di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat. Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap Presiden Donald Trump, yang dinilai oleh banyak pihak memiliki kepemimpinan bergaya otoriter serta kebijakan militer yang menyeret Amerika Serikat ke konflik dengan Iran.

    Demonstrasi ini disebut sebagai aksi akar rumput ketiga dalam satu tahun terakhir sejak Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025. Aksi tersebut berlangsung di lebih dari 3.300 titik, mulai dari kota besar hingga kota kecil.

    Aksi protes ini tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga menyebar hingga kota-kota besar di Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma. Di Roma, sekitar 20.000 orang dilaporkan ikut berunjuk rasa dengan pengamanan ketat aparat.

    Aksi Menyebar dari New York Hingga Alaska

    Di New York City, puluhan ribu orang berkumpul untuk menyuarakan protes. Aksi tersebut turut dihadiri aktor peraih Oscar Robert De Niro yang dikenal sebagai pengkritik keras Trump dan kerap menyebut presiden tersebut sebagai ancaman bagi kebebasan dan keamanan.

    Aksi serupa berlangsung dari Atlanta hingga San Diego, bahkan warga Alaska ikut bergabung pada hari yang sama. “Tidak ada negara yang dapat memerintah tanpa persetujuan rakyat,” kata veteran militer berusia 36 tahun, Marc McCaughey, kepada AFP.

    Di West Bloomfield, Michigan, warga tetap menggelar aksi meski suhu berada di bawah titik beku. Sementara itu, di Washington DC, ribuan massa memenuhi National Mall sambil membawa spanduk bertuliskan “Trump Harus Mundur Sekarang!” dan “Lawan Fasisme”.

    “Dia terus berbohong dan berbohong dan berbohong dan berbohong, dan tidak ada yang mengatakan apa pun. Jadi ini situasi yang mengerikan yang kita alami,” kata Robert Pavosevich, seorang pensiunan berusia 67 tahun.

    Gerakan “No Kings” dan Tekanan Politik Jelang Pemilu

    Aksi protes nasional bertajuk “No Kings” pertama kali digelar pada Juni tahun lalu, bertepatan dengan ulang tahun Trump ke-79 dan parade militer di Washington. Saat itu, jutaan warga turun ke jalan dari New York hingga San Francisco.

    Aksi kedua pada Oktober disebut diikuti sekitar tujuh juta orang. Demonstrasi ini menjadi simbol perlawanan terhadap Trump, yang di satu sisi memiliki basis pendukung kuat melalui gerakan “Make America Great Again”, namun di sisi lain juga menghadapi penolakan besar.

    Tingkat popularitas Trump dilaporkan turun di bawah 40 persen menjelang pemilihan paruh waktu November, dengan Partai Republik terancam kehilangan kendali atas Kongres.

    Kritik Terhadap Kebijakan Trump

    Para pengkritik menyoroti sejumlah kebijakan Trump, mulai dari penggunaan dekrit eksekutif, penggunaan Departemen Kehakiman terhadap lawan politik, dukungan terhadap bahan bakar fosil, hingga penolakan terhadap perubahan iklim.

    “Sejak terakhir kali kami berdemonstrasi, pemerintahan ini telah menyeret kami lebih dalam ke dalam perang,” kata Naveed Shah dari Common Defense, sebuah asosiasi veteran yang terkait dengan gerakan “No Kings”.

    “Di dalam negeri, kami telah menyaksikan warga sipil dibunuh di jalanan oleh pasukan militer. Kami telah melihat keluarga-keluarga tercerai-berai dan komunitas imigran menjadi sasaran. Semua itu dilakukan atas nama satu orang yang mencoba memerintah seperti seorang raja,” tambahnya.

    Minnesota Jadi Titik Fokus

    Negara bagian Minnesota menjadi salah satu pusat demonstrasi. Kota Minneapolis dan St Paul sebelumnya menjadi sorotan nasional terkait kebijakan penindakan imigrasi pemerintah Trump.

    Politisi sayap kiri AS, Bernie Sanders, sempat berpidato di Minnesota. “Kita tidak akan pernah menerima presiden yang merupakan pembohong patologis, kleptokrat, dan narsisis yang setiap hari merusak Konstitusi Amerika Serikat dan supremasi hukum,” ujarnya.

    Musisi rock legendaris Bruce Springsteen juga tampil di St Paul dengan membawakan lagu protes berjudul Streets of Minneapolis. Lagu tersebut ditulis hanya dalam 24 jam untuk mengenang Renee Good dan Alex Pretti, dua warga AS yang ditembak mati oleh agen federal.

    “Keberanian, pengorbanan, dan nama-nama mereka tidak akan dilupakan,” kata Springsteen sebelum mulai bernyanyi.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Anggota DPR RI Soroti Vonis Jonas Salean, Putusan Perdata Tak Boleh Diabaikan

    By adm_imr3 Juni 20260 Views

    Lirik dan Terjemahan Lagu Goals – Lisa, Anitta, Rema, Lagu Tema Piala Dunia 2026

    By adm_imr3 Juni 20261 Views

    Bandingkan Ferdy Sambo, Roy Suryo: Kasus Ijazah Jokowi Tidak Relevan

    By adm_imr2 Juni 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Satu Keluarga Tewas di Temanggung, Hobi BBQ Jadi Sorotan

    3 Juni 2026

    9 tanda maag parah yang tidak boleh diabaikan!

    3 Juni 2026

    8 Kebiasaan Pagi yang Mengubah Hidup Anda dalam 60 Hari

    3 Juni 2026

    Saige Luncurkan Pabrik Kedua di Karawang, Perkenalkan Lima Motor Listrik Baru di Indonesia

    3 Juni 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?