Pembicaraan mengenai gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus berlangsung, namun pihak Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hanya dengan imbalan gencatan senjata sementara. Seorang pejabat senior Iran menyampaikan pernyataan ini kepada Reuters pada Senin (6/4/2026), menunjukkan bahwa Washington belum siap untuk sebuah kesepakatan permanen.
Sumber tersebut juga membenarkan bahwa Iran menerima proposal dari Pakistan mengenai gencatan senjata segera, dan saat ini sedang dalam proses evaluasi. Pejabat itu menekankan bahwa Iran menolak tekanan untuk menerima tenggat waktu tertentu atau membuat keputusan cepat.
Sebelumnya, pada Ahad (5/4/2026), Kantor Presiden Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika pendapatan transit digunakan untuk mengganti kerugian akibat konflik. Wakil Bidang Komunikasi dan Informasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai, mengatakan dalam pernyataannya di platform media sosial X: “Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya jika sebagian pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi seluruh kerusakan akibat perang yang dipaksakan.”
Tabatabai juga menyoroti kritik terhadap Presiden AS Donald Trump, dengan menyebutnya sebagai orang yang melontarkan pernyataan tidak masuk akal karena putus asa dan marah. Ia menuduh Trump telah memulai perang skala penuh di kawasan dan tetap membanggakannya.
Kondisi kawasan tersebut berada dalam situasi siaga sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Iran merespons dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang memiliki aset militer AS sebagai bentuk pertahanan diri. Akibatnya, Iran membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Axios, AS, Iran, dan mediator regional sedang membahas kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari sebagai fase pertama dari rencana dua tahap untuk menyelesaikan konflik. Axios mengutip sumber-sumber terkait pada Ahad, menyebutkan bahwa pemerintahan Trump telah mengajukan beberapa pendekatan kepada Iran dalam beberapa hari terakhir, tetapi hingga saat ini belum ada satu pun yang diterima oleh pejabat Iran.
Menurut laporan tersebut, peluang tercapainya kesepakatan antara kedua pihak dalam 48 jam ke depan dinilai rendah. Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan serta menuntut agar Selat Hormuz dibuka kembali.
Rencana dua tahap untuk mengakhiri konflik saat ini sedang dibahas. Tahap pertama mencakup gencatan senjata selama 45 hari, di mana syarat-syarat perdamaian final akan dinegosiasikan. Sumber juga menyebutkan bahwa gencatan senjata dapat diperpanjang apabila para pihak membutuhkan waktu tambahan untuk perundingan.
Tahap kedua mencakup penandatanganan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Sumber Axios menilai bahwa isu pembukaan penuh Selat Hormuz serta kepemilikan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi oleh Iran hanya dapat diselesaikan dalam kerangka kesepakatan akhir.
Selain itu, menurut Axios, para mediator sedang berupaya membangun kepercayaan bagi AS dengan menjajaki langkah-langkah yang dapat diambil AS untuk memenuhi beberapa tuntutan Iran.
Pada Ahad, Trump mengatakan kepada media bahwa AS sedang dalam negosiasi mendalam dengan Iran dan kesepakatan dapat dicapai paling cepat pada Selasa (7/4/2026). Trump sebelumnya menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah mengadakan pembicaraan yang produktif.







