Pernyataan Jusuf Kalla yang Menimbulkan Kontroversi
Pernyataan mantan presiden RI, Jusuf Kalla (JK), yang menyebut bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden karena jasanya, telah menarik perhatian publik. Pernyataan ini memicu berbagai reaksi dari berbagai pihak, termasuk analisis dari pengamat politik dan respons dari partai politik.
Penjelasan JK Mengenai Perannya dalam Karier Jokowi
Dalam wawancara yang diadakan di Kebayoran Baru, JK mengungkapkan bahwa tanpa dukungan dan bantuan yang diberikannya, Jokowi mungkin tidak akan pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta maupun Presiden. Ia menjelaskan bahwa dirinya yang membawa Jokowi ke Jakarta untuk menjadi Gubernur. “Saya bawa ke Ibu Mega, ‘Ibu ini ada calon baik orang PDIP’. (Megawati menjawab) ‘Ah jangan’. Saya datang lagi, akhirnya beliau setuju jadilah Gubernur,” ujar JK.
JK juga menegaskan bahwa tanpa peran sebagai gubernur, Jokowi tidak akan bisa menjadi presiden. “Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden?” tegas JK dengan nada lantang.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa pada Pilpres 2014, Megawati sempat bersikeras tidak akan memberikan tiket capres jika JK tidak bersedia mendampingi sebagai cawapres. “Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang jangan, ‘Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf’ Ya bukan saya minta, bukan,” kenang JK.
Analisis Pengamat Politik
Menurut Adi Prayitno, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, pernyataan JK tersebut mencerminkan dua pesan utama. Pertama, JK ingin menegaskan bahwa hubungan historis antara dirinya dan Jokowi cukup panjang ketika keduanya menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Kedua, Adi menyebut bahwa pernyataan JK juga ditujukan kepada pihak terkait pelaporan dirinya ke polisi gara-gara pidato dan orasinya di UGM yang teridentifikasi ke salah satu kader partai politik tertentu dan partai ini sangat dekat dengan Jokowi.
Adi menegaskan bahwa hal ini bukan masalah imbal balik politik. Ia menilai bahwa JK hanya ingin menegaskan bahwa hubungannya dengan Jokowi tidak perlu diperkeruh dengan urusan-urusan lapor-melapor atau saling menyerang.
Tanggapan PDIP
Politisi PDIP, Guntur Romli, menegaskan bahwa secara kepartaian, hubungan dengan Jokowi telah berakhir sejak pemecatan yang dilakukan pada 16 Desember 2024 lalu. Pemecatan tersebut juga mencakup Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution.
“PDI Perjuangan sudah tutup buku dengan Pak Jokowi, sudah dipecat. Tidak mau lagi membahas dan dikaitkan dengan Jokowi,” ujar Guntur.
Namun, ia tidak menampik bahwa pernyataan JK menunjukkan luka mendalam bagi pihak-pihak yang dulu membantu karier politik Jokowi. “Tapi kesan dari pernyataan Pak JK, Jokowi itu memang berkhianat dan melukai pada orang-orang yang berjasa besar padanya,” lanjutnya.
Guntur kemudian menyebutkan beberapa nama besar yang dinilainya memiliki kontribusi signifikan terhadap kesuksesan Jokowi, mulai dari Megawati Soekarnoputri, Hasto Kristiyanto, Pramono Anung, hingga FX Hadi Rudyatmo. Bahkan, ia juga menyebut nama-nama di luar PDIP seperti Anies Baswedan dan Tom Lembong yang menurutnya turut merasakan dampak serupa.
“[Nama-nama] yang saya sebut itu semua berkontribusi besar terhadap karier Jokowi. Tapi apa balasannya? Pengkhianatan dan menyakitkan,” tegasnya.







