Iran Memperketat Kontrol di Selat Hormuz
Pada hari Sabtu (18/4), Iran kembali memperkuat posisi militer mereka di jalur energi paling penting dunia, yaitu Selat Hormuz. Armada laut Islamic Revolutionary Guard Corps Navy (IRGC Navy) dilaporkan memaksa sedikitnya dua kapal untuk berbalik arah keluar dari wilayah tersebut. Tindakan ini dilakukan dengan menembakkan tembakan peringatan sebagai bentuk ancaman.
Selat Hormuz merupakan jalur yang sangat vital, karena menjadi penghubung sekitar seperlima perdagangan minyak global. Dengan tindakan ini, Iran menunjukkan pengetatan kontrol terhadap wilayah tersebut. Menurut laporan pelayaran, kapal-kapal yang melintas menerima pesan radio dari IRGC Navy yang menyatakan bahwa selat kembali ditutup dan tidak ada kapal yang diperbolehkan melewati wilayah tersebut.
Di sisi lain, UK Maritime Trade Operations (UKMTO) yang berbasis di Dubai mengungkapkan bahwa dua kapal patroli bersenjata Iran melepaskan tembakan ke arah sebuah kapal tanker dan kapal lain di wilayah timur laut Oman. Laporan dari TankerTrackers juga menyebutkan bahwa dua kapal asal India dipaksa mundur dari Selat Hormuz. Salah satunya adalah supertanker VLCC berbendera India yang mengangkut sekitar dua juta barel minyak Irak. Namun, dampak insiden ini terhadap muatan maupun kapal masih belum dapat dipastikan.
Pemerintah Iran sendiri telah menyatakan kembali memberlakukan pengelolaan militer ketat di Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional, komando militer pusat Iran menuduh Amerika Serikat melanggar komitmen dengan tetap menjalankan blokade laut terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran.
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan menegaskan kesiapan angkatan laut negaranya untuk memberikan “kekalahan pahit baru” kepada musuh-musuh Iran melalui pesan di kanal Telegram resminya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sempat menyebut ada “kabar cukup baik” terkait Iran, meski tidak merinci lebih jauh. Ia juga memperingatkan bahwa konflik bisa kembali pecah jika tidak ada kesepakatan damai sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir pada Rabu mendatang.
“Hal utama adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Itu melampaui segalanya,” ujar Trump kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga kesepakatan resmi ditandatangani. “Begitu perjanjian ditandatangani, blokade berakhir,” katanya.
Upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat masih menemui jalan buntu. Media semi-resmi Iran melaporkan bahwa Teheran belum menyetujui putaran negosiasi baru, meski sebelumnya muncul kabar kedua pihak akan bertemu dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyelesaikan rangkaian kunjungan diplomatik ke beberapa negara, termasuk Turki, dalam upaya mendorong perdamaian kawasan. “Saya meninggalkan Antalya dengan komitmen baru untuk memperkuat hubungan persaudaraan dan mendorong dialog demi stabilitas kawasan,” tulis Sharif.
Selain itu, Panglima militer Pakistan Asim Munir juga melakukan kunjungan ke Teheran dan menekankan pentingnya de-eskalasi serta penyelesaian damai konflik. Namun hingga kini, prospek dimulainya kembali perundingan AS-Iran maupun kesepakatan terkait program nuklir Iran masih belum jelas.
Komando Pusat AS juga menyebut sedikitnya 23 kapal telah mematuhi perintah untuk berbalik sejak blokade maritim diberlakukan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.






