Sebuah bangunan yang memiliki nuansa khas Tionghoa berdiri megah di sudut Kota Tegal, Jawa Tengah. Dengan dominasi warna merah dan sentuhan keemasan, tempat ini menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi komunitas Tionghoa peranakan di kawasan tersebut. Nama dari bangunan tersebut adalah Kelenteng Tek Hay Kiong.
Bangunan ini dikelilingi oleh aksara Tionghoa yang dipadukan dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Di sekitar area kelenteng, terdapat patung-patung dewa yang tampak begitu hidup, seolah melangkah masuk ke dalam bangunan. Banyak umat keturunan Tionghoa juga terlihat berdoa di sana. Lokasi lengkapnya berada di Jl. Gurami No. 2, Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat.
Adrian, salah satu pengunjung setia, menceritakan bahwa Kelenteng Tek Hay Kiong menjadi tempat berkumpul bagi warga peranakan di wilayah Tegal. Di sini, ia menjelaskan, berbagai perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh sering digelar. “Di hari-hari besar, tempat ini sangat ramai,” katanya saat ditemui di lokasi pada Kamis, 23 April 2026.
Selain itu, ada pula perayaan lain yang dilaksanakan di kelenteng ini. Contohnya, pada bulan Juni mendatang, akan diadakan perayaan ulang tahun Ceng Gwan Cin Kun, yaitu dewa pembasmi siluman, roh jahat, serta pelindung dari mara bahaya dalam tradisi Tionghoa. “Perayaannya selalu digelar di sini,” ujarnya.
Destinasi Wisata Budaya
Tidak hanya sebagai rumah ibadah, Kelenteng Tek Hay Kiong juga menjadi destinasi wisata budaya yang menarik minat wisatawan. Bangunannya yang megah dengan ornamen khas Tionghoa serta berbagai ritual dan perayaan rutin yang diadakan menjadi daya tarik tersendiri.
Namun, bagi pengunjung yang ingin mengambil foto atau video, hanya boleh dilakukan dari luar bangunan. Izin untuk memasuki kelenteng hanya diberikan dalam beberapa kesempatan tertentu. Aktivitas dokumentasi di dalam bangunan sangat dilarang keras.
Sejarah Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal
Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal menjadi saksi perjalanan komunitas Tionghoa di Indonesia, khususnya di Kota Tegal. Tempat ini merupakan rumah ibadah bagi umat Konghucu, Taoisme, dan Buddha.
Berdasarkan informasi dari situs tegalkota.go.id, Kelenteng Tek Hay Kiong menyimpan tradisi yang sangat menyatu dengan budaya lokal. Salah satu contohnya adalah keberadaan Gamelan Naga Mulya, yang mencerminkan akulturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa. Gamelan ini dibuat pada tahun 1860 di Purworejo dan digunakan dalam berbagai upacara adat serta perayaan keagamaan di kelenteng.
Kelenteng Tek Hay Kiong merupakan salah satu rumah ibadah tertua bagi komunitas Tionghoa di Indonesia. Diperkirakan, bangunan ini berdiri sejak tahun 1760. Pembangunan kelenteng ini dipengaruhi oleh peran Kapiten Souw Pek Gwan. Ia bersama masyarakat setempat mendirikan rumah ibadah tersebut sebagai pusat aktivitas spiritual dan sosial. Nama “Tek Hay Kiong” memiliki makna “Istana Kebajikan Samudra”.
Menurut situs Wisata Tegal, Kelenteng Tek Hay Kiong kemudian direstorasi pada tahun 1837. Perbaikan dilakukan untuk memperkuat struktur bangunan yang mulai rusak. Selain itu, sejumlah ornamen khas Tionghoa juga ditambahkan.
Simbol Harmoni Budaya
Bukan sekadar cermin keberagaman budaya di Tegal, Kelenteng Tek Hay Kiong turut menjadi simbol kehidupan harmonis antara masyarakat Cina peranakan dan Jawa yang telah berlangsung selama berabad-abad.







