Kronologi Kematian Dokter Myta Aprilia Azmy

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengungkapkan kronologi lengkap kematian dr Myta Aprilia Azmy, seorang dokter internship di RSUD Kuala Tungkal, Jambi. Menurut penjelasan yang diberikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, dr Myta meninggal dengan kondisi penyakit paru berat setelah menjalani perawatan di beberapa fasilitas kesehatan.
Berikut adalah rangkaian kejadian yang terjadi sebelum kematian dr Myta:
Perjalanan Awal dan Pemeriksaan Kesehatan
Pada Agustus 2025, dr Myta mengikuti seleksi internship dan menjalani medical check up (MCU). Hasil pemeriksaan kesehatannya dinyatakan normal. Selama masa internship, ia tidak menunjukkan keluhan kesehatan yang signifikan.
Masa Internship di Puskesmas dan RSUD Daud Arif
Dari 11 Agustus 2025 hingga 10 Februari 2026, dr Myta menjalani stase di Puskesmas Kuala Tungkal II. Tidak ada keluhan kesehatan yang dilaporkan selama periode ini. Pada 11 Februari 2026, ia memulai stase di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, khususnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Menurut Rudi, peserta internship dibagi ke dua kelompok: IGD dan bangsal rawat inap, dengan masa rotasi masing-masing tiga bulan.
Awal Gejala Penyakit
Pada 26 Maret 2026, dr Myta mulai mengalami gejala sakit saat menjalani stase IGD, namun tetap bertugas. Ia melakukan pengobatan mandiri tanpa melaporkan kondisinya kepada dokter pendamping internship.
Pada 31 Maret 2026, kondisi dr Myta memburuk. Ia mengalami demam, batuk, dan pilek, tetapi masih menjalani jaga malam. Pada hari yang sama, Kemenkes juga menemukan adanya pemanggilan peserta internship oleh dokter pendamping terkait kritik terhadap program internship di media sosial dan situs pengaduan.
Peningkatan Keluhan dan Pergantian Jadwal
Pada 1 April 2026, dr Myta mengirim voice note kepada rekannya sesama peserta internship mengenai kondisi sakit yang dialaminya. Dalam rekaman tersebut, ia mengeluhkan panas tinggi, batuk pilek, menggigil, hingga mual.
Selama tanggal 11 hingga 12 April 2026, dr Myta masih menjaga IGD dalam kondisi sakit. Pada 13 April 2026, bertepatan dengan hari ulang tahunnya, ia kembali menjalani jaga malam dan mendapat infus setelah bertugas.
Keadaan Memburuk dan Pemindahan ke Rumah Sakit Lain
Pada 15 April 2026, dr Myta meminta pergantian jadwal jaga karena merasa tidak kuat dan mengalami sesak napas. Rekannya bersedia menggantikan jadwal jaga. Pada sore hari, ibu kandung dr Myta menghubungi rekan di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal karena tidak bisa menghubungi anaknya. Dr Myta kemudian ditemukan dalam kondisi linglung di bawah tangga tempat kos.
Pada malam harinya, dr Myta dibawa ke UGD RSUD Daud Arif Kuala Tungkal oleh rekan-rekannya menggunakan sepeda motor.
Proses Pemindahan dan Perawatan Lanjutan
Pada 20 April 2026, dokter penanggung jawab pasien memperbolehkan dr Myta pulang, meskipun ia sempat meminta observasi tambahan. Setelah pulang, kondisi dr Myta kembali memburuk karena mengalami demam tinggi.
Pada 21 April 2026, dr Myta kembali masuk UGD dengan keluhan sesak dan demam. Pada pagi harinya, keluarga datang dari Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan memutuskan membawa dr Myta ke RSUD Raden Mattaher Jambi. Proses pemindahan dilakukan menggunakan mobil pribadi, bukan ambulans.

Di siang hari, dr Myta tiba di RSUD Raden Mattaher Jambi dan masuk UGD dengan keluhan batuk serta sesak napas. Setelah dirawat selama tiga hari, dr Myta diperbolehkan pulang dan dijadwalkan kontrol ke poli paru pada 29 April. Namun hasil pemeriksaan belum diterima keluarga.
Kondisi Terus Memburuk dan Kematian
Setelah itu, dr Myta kembali dibawa ke Kuala Tungkal untuk melanjutkan internship. Pada 24-25 April 2026, karena kondisi belum pulih, keluarga meminta izin membawa dr Myta pulang ke OKU Selatan. Perjalanan dilakukan dari Jambi menuju Palembang terlebih dahulu untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Namun di Palembang, dr Myta kembali mengalami demam.
Pada 26 April 2026, dr Myta tiba di OKU Selatan dan sempat dibawa ke Klinik Ismada milik pamannya. Hanya dua jam berada di klinik tersebut, keluarga memutuskan membawa Myta kembali ke Palembang untuk dirujuk ke RSUP Mohammad Hoesin.
Pada 27 April 2026, dr Myta tiba di RSUP Mohammad Hoesin Palembang dan langsung dirawat di ruang isolasi infeksi. Kondisi dr Myta terus menurun hingga akhirnya dipindahkan ke ICU dan dipasangi ventilator.
Dr Myta meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di ICU RSUP Mohammad Hoesin Palembang. Kondisi penyakit paru berat menjadi penyebab utama kematian dr Myta.







