Klarifikasi dari Kesbangpol Sulsel Mengenai Seleksi Paskibraka Nasional
Bustanul Arifin, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Selatan, memberikan pernyataan resmi terkait polemik yang muncul dalam proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional. Ia menegaskan bahwa kemampuan berbahasa daerah bukan menjadi faktor yang menggugurkan peserta.
Bahasa Daerah Hanya Bagian Tes Kepribadian
Menurut Bustanul, pertanyaan mengenai bahasa daerah muncul dalam tahapan tes kepribadian. Namun, tujuan dari tes tersebut adalah untuk melihat sejauh mana peserta memahami kearifan lokal daerah yang diwakilinya. “Jadi tes kepribadian salah satunya adalah melihat kearifan lokal yang bersangkutan, masa salah ketika kita bertanya tahu bahasa daerah tidak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kemampuan berbahasa daerah tidak menjadi indikator utama dalam pengambilan keputusan. Pernyataan ini sekaligus membantah tudingan bahwa Cathlyn Yvaine Lesmana gagal lolos karena tidak menguasai bahasa daerah tertentu.
Kesbangpol Bantah Ada Unsur Rasisme
Selain isu bahasa daerah, proses seleksi juga dikaitkan dengan dugaan diskriminasi etnis terhadap Cathlyn yang berlatar belakang Tionghoa. Namun, Bustanul menepis keras tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara objektif tanpa mempertimbangkan ras maupun latar belakang peserta.
“Terkait rasisme kalau yang disangkakan ke kami panitia tidak murni seleksinya saya tidur nyenyak tidak urusi, karena saya yakinkan ini berjalan objektif,” katanya. Menurutnya, bila sejak awal panitia mempertimbangkan faktor etnis, Cathlyn bahkan tidak akan lolos hingga tahapan seleksi tingkat provinsi menuju nasional.
Bantah Cathlyn Diganti Peserta Lain
Bustanul juga membantah narasi yang menyebut Cathlyn sempat ditetapkan lolos lalu digantikan oleh peserta lain. Ia menilai istilah “diganti” tidak tepat karena tidak pernah ada pengumuman resmi yang menyatakan Cathlyn lolos ke tingkat nasional.
“Perlu kami sampaikan bahwa kata diganti itu adalah sudah ditetapkan terus diganti, logikanya begitu, berarti ada pengumuman dulu, lolos ini bersangkutan terus diganti orang baru. Tapi ada tidak pengumuman yang dimaksud,” jelas Bustanul.
Ia bahkan menyebut bila mengacu pada peringkat nilai, peserta asal Makassar yang lebih tinggi justru bukan Cathlyn. “Kalau pun Makassar mau ngotot menganggap harusnya kan yang diprioritaskan itu Putri bukan Cathlyn karena lebih tinggi nilainya. Tetapi yang digoreng karena Tionghoanya,” imbuhnya.
Proses Seleksi Disebut Transparan
Mengenai tudingan bahwa proses penentuan peserta terbaik dilakukan secara tertutup, Bustanul menjelaskan bahwa tahapan final memang hanya diikuti peserta dan panitia sesuai ketentuan yang berlaku. Menurutnya, langkah itu dilakukan agar proses verifikasi nilai dapat diperiksa kembali secara detail.
“Dan, memang pada saat itu memang dikeluarkan semua pendamping dari kabupaten dan hanya seluruh peserta seleksi.” Ia bahkan menantang siapa pun yang dapat membuktikan adanya kecurangan dalam proses seleksi tersebut.
“Kalau ada bisa buktikan Cathlyn masuk tiga besar, saya siap apapun risikonya. Logikanya masa kita kasih gugur orang karena bahasa daerah, masuk akal tidak, kita mau kasih gugur orang karena dia Tionghoa, itu tidak,” pungkasnya.
PPI Makassar Soroti Kejanggalan Seleksi
Di sisi lain, Purna Paskibraka Indonesia melalui Ketua PPI Makassar, Muhammad Fahmi, justru mengaku menemukan sejumlah kejanggalan selama proses seleksi berlangsung. Fahmi mengatakan pihaknya menerima banyak informasi dari peserta yang mengikuti tahapan seleksi selama tiga hari di Kantor Gubernur Sulsel.
“Saya kemarin keluarkan opini, pendapat pribadi, opini itu kami dapat informasi dari adek adek di dalam. Adik-adik di dalam kami dapat informasi mengerucut ke opini yang saya keluarkan, waktu penyeleksian,” ujar Fahmi.
Menurutnya, nilai Cathlyn pada tahapan awal seperti Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU), hingga pemeriksaan kesehatan tergolong sangat baik. “Hari pertama kan TWK TIU, Cathlyn hampir sempurna, secara penilaian ok, hari kedua Dinkes, hari ketiga selesai kepribadian, nah ini yang janggal,” katanya.
Fahmi mempertanyakan mengapa peserta kembali diminta menunjukkan gerakan baris-berbaris saat tes kepribadian, padahal tahapan tersebut sebelumnya telah dilakukan. “Kenapa saat seleksi kepribadian adek kita masih ada dipanggil untuk dilihat geraknya, kan sudah ada diseleksi baris-berbaris di hari kedua, kenapa harus ditanyakan lagi di hari ketiga,” imbuh Fahmi.
Tes Bahasa Daerah Dipersoalkan
Fahmi juga menyoroti munculnya pertanyaan mengenai bahasa daerah dalam sesi wawancara peserta. Menurutnya, kemampuan tersebut tidak berkaitan langsung dengan tugas Paskibraka saat menjalankan upacara kenegaraan di Istana Negara. Ia bahkan menilai kemampuan Cathlyn berbahasa Inggris dan Mandarin seharusnya menjadi nilai tambah tersendiri.
Selain itu, Fahmi mengaku menerima informasi adanya penyebutan latar belakang etnis Cathlyn selama proses seleksi berlangsung. Ia juga mempertanyakan proses penentuan tiga peserta terbaik karena seluruh pendamping diminta keluar dari ruangan saat proses itu berlangsung.
“Mereka yang kami utus ini kan yang siap lolos dan gugur, yang disesalkan adanya praktik, apakah memang ada,” terang Fahmi. “Saat itu pendamping disuruh keluar semua, selama ini pelaksanaan kegiatan di GOR Sudiang bisa nonton semua, calon yang menang ini, nomor satu 3 besar ini Bone, Jeneponto, dan Gowa,” pungkasnya.







