Kritik terhadap Kebijakan FIFA yang Dianggap Tidak Adil
Guru Besar FIO Unesa, Prof Imam Syafi’i, menyampaikan kritik terhadap kebijakan FIFA yang dinilai tidak adil dalam menangani konflik geopolitik yang terjadi di berbagai negara. Ia menilai bahwa FIFA memiliki sikap yang berbeda ketika menghadapi Rusia dibandingkan AS dan Israel.
Perbedaan Sanksi untuk Rusia dan Negara Lain
FIFA memberikan sanksi tegas kepada Rusia karena agresinya terhadap Ukraina, termasuk larangan bagi Timnas Rusia untuk mengikuti semua kegiatan sepak bola internasional. Namun, menurut Prof Imam, FIFA tidak memberikan sanksi serupa terhadap AS dan Israel meskipun keduanya juga melakukan tindakan yang dianggap melanggar prinsip-prinsip aturan FIFA dan hukum internasional.
“Terjadi anomali kebijakan FIFA, tidak ada sanksi untuk AS yang awal tahun melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Begitu juga sikap FIFA terhadap Israel yang telah melakukan genosida di Palestina, namun masih diizinkan mengikuti kegiatan sepak bola berskala internasional,” ujar Prof Imam.
Anomali Kebijakan FIFA di Tahun 2023
Anomali kebijakan FIFA juga terlihat pada tahun 2023 ketika FIFA mencabut hak Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 dan menggantinya dengan Argentina. Penyebabnya adalah penolakan beberapa pihak terhadap kehadiran Israel dalam turnamen tersebut.
[GAMBAR-0]
Komentar Prof Imam mengenai hal ini menunjukkan bahwa FIFA dinilai tidak konsisten dalam menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang melakukan pelanggaran, baik itu dalam konteks politik maupun militer.
Dampak dari Konflik Geopolitik pada Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 akan digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko. Namun, kondisi memanasnya konflik atas agresi militer AS-Israel terhadap Iran memicu reaksi keras dari berbagai kalangan. Beberapa negara seperti Jerman, Spanyol, dan Denmark bahkan menyatakan kecaman dan ancaman boikot terhadap gelaran Piala Dunia 2026.
Menurut Prof Imam, situasi keamanan di AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Ia menegaskan bahwa jaminan keamanan setiap peserta dan suporter serta kelancaran jalannya penyelenggaraan harus menjadi prioritas utama.
Tiket yang Dibatalkan dan Pengaruhnya terhadap Hotel
Laporan dari Ticket News dan Roya News menyebutkan bahwa sudah ada 16.800 tiket pertandingan yang dibatalkan dalam semalam sebagai bentuk protes dan kekhawatiran terhadap situasi politik dalam negeri AS. Selain itu, jumlah pemesanan hotel di kota-kota besar seperti Los Angeles, New York, Miami, Dallas, Mexico City, Monterrey, Guadalajara, Toronto, dan Vancouver juga mengalami penurunan signifikan.
[GAMBAR-2]
Sementara itu, kondisi keamanan di Meksiko juga sedang tidak baik-baik saja. Pasca kericuhan sebagai imbas dari kematian bos kartel Jalisco New Generation, Nemesio Oseguera alias El Mencho, kondisi keamanan di Meksiko masih dipertanyakan.
Kritik terhadap Kebijakan Trump
Prof Imam menyoroti bahwa kesuksesan Piala Dunia 2026 sangat bergantung pada sikap dan kebijakan Donald Trump terkait dengan perang melawan Iran. Jika konflik ini terus berlanjut hingga pelaksanaan Piala Dunia, maka dipastikan akan mengganggu pelaksanaan kegiatan tersebut dan tidak menutup kemungkinan ditunda atau dialihkan ke negara lain.
[GAMBAR-3]
Ia menegaskan bahwa langkah ini diperlukan untuk menepis rasa tidak aman bagi siapa pun yang akan menyaksikan pertandingan sepak bola Piala Dunia. Sikap Trump yang sering menuai kontroversial karena arogansinya harus bisa dikendalikan oleh FIFA.





