Peringatan Iran terhadap Negara-negara Teluk
Iran telah memperingatkan negara-negara di kawasan Teluk Persia agar tidak memberikan bantuan atau memfasilitasi operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap negara tersebut. Peringatan ini disampaikan oleh Panglima Militer Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, yang menekankan bahwa setiap bentuk bantuan akan dianggap sebagai partisipasi bersama dengan pasukan AS.
Abdollahi menyatakan bahwa Iran sedang memantau aktivitas militer di pangkalan-pangkalan regional secara cermat. Ia menyinggung beberapa negara Teluk yang sebelumnya mengklaim bahwa mereka tidak akan mengizinkan AS menggunakan wilayah mereka untuk menyerang Iran. Namun, ia menegaskan bahwa Teheran akan memantau tindakan negara-negara tersebut dengan hati-hati.
Keberadaan Pesawat Militer dan Pesawat Pengisi Bahan Bakar
Menurut Abdollahi, keberadaan sejumlah besar pesawat militer di pangkalan-pangkalan kawasan sulit berlangsung tanpa sepengetahuan negara tuan rumah. Ia secara khusus menyebut pesawat pengisi bahan bakar di udara, yang digunakan untuk memasok bahan bakar kepada pesawat militer saat berada di udara. Keberadaan pesawat tanker memungkinkan pesawat militer melakukan penerbangan lebih jauh tanpa harus kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar.
“Kehadiran sejumlah besar pesawat militer, khususnya pesawat pengisi bahan bakar di udara, di pangkalan-pangkalan regional tanpa sepengetahuan negara tuan rumah tampaknya tidak mungkin,” ujarnya. Karena itu, Iran menyoroti keberadaan pesawat tersebut di pangkalan-pangkalan regional yang menjadi tempat operasi militer AS.
Peringatan terhadap Bantuan yang Diberikan ke Militer AS
Abdollahi kemudian menyampaikan peringatan mengenai bantuan yang diberikan kepada militer AS. “Kami memperingatkan bahwa setiap bantuan dan fasilitasi yang diberikan kepada militer AS yang agresif sama saja dengan berpartisipasi dengan pasukan militer AS,” tegasnya.
Perkembangan Terkini di Timur Tengah
Dilansir dari Al Jazeera, perkembangan terbaru di Timur Tengah mencakup tekanan ekonomi AS terhadap Iran, aktivitas militer di kawasan, serta situasi kemanusiaan yang memburuk di Palestina. Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara juga menyerukan penolakan terhadap eskalasi dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur damai.
Sanksi AS untuk Iran
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan kepada CNBC bahwa Washington akan menjatuhkan “sanksi terberat dalam sejarah” dengan tujuan menekan hingga meruntuhkan pemerintahan Iran. Bessent juga memperingatkan negara-negara yang tetap mempertahankan hubungan ekonomi dengan Teheran akan menghadapi “konsekuensi yang mengerikan.”
China Tolak Tekanan AS
Beijing mengecam kampanye tekanan ekonomi yang disebut sebagai “Hari-H ekonomi” oleh Presiden AS terhadap Iran. China menilai penambahan sanksi tidak akan menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung.
Iran Kecam Ancaman Sanksi
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam rencana sanksi ekonomi baru dari Amerika Serikat. Teheran menyebut langkah yang diusulkan Washington sebagai tindakan “ilegal dan tidak manusiawi.”
AS Alihkan Kapal di Pelabuhan Iran
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukan Amerika yang menerapkan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran telah mengalihkan 67 kapal komersial. Pasukan AS juga dilaporkan melumpuhkan tiga kapal dan menaiki dua kapal lainnya.
Ambulans Palestina Dihalangi
Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan pasukan Israel menghalangi ambulans mencapai warga Palestina yang terluka dalam serangan pemukim di Tepi Barat yang diduduki.
Kapal Dibajak di Lepas Pantai Yaman
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan enam orang bersenjata menaiki dan membajak sebuah kapal di lepas pantai Yaman. Kapal tersebut kemudian dipaksa berlayar menuju Somalia.
Oman Tolak Eskalasi Hormuz
Oman menyatakan keamanan jangka panjang di Selat Hormuz hanya dapat terjamin melalui perdamaian regional yang berkelanjutan. Muscat menolak eskalasi dan konflik lebih lanjut di kawasan.
1,98 Juta Warga Gaza Butuh Bantuan
Dewan Pengungsi Norwegia melaporkan sekitar 1,98 juta warga Palestina, atau sekitar 94 persen populasi Gaza, membutuhkan dukungan dasar untuk kebutuhan rumah tangga dan bantuan tempat tinggal.
107 Komunitas Palestina Terdampak
Laporan Human Rights Watch menyebut meningkatnya serangan pemukim Israel menyebabkan 107 komunitas Palestina di Tepi Barat yang diduduki mengungsi seluruhnya maupun sebagian sejak Januari 2023.







