Perjalanan Seorang Remaja dari Sabah ke Indonesia
Nur Sahati Sahara, seorang siswi kelas XI IPS di SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Jawa Timur, memiliki mimpi besar untuk melanjutkan studi di Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan jurusan Psikologi. Meski masih ada satu tahun lagi hingga ia bisa mewujudkan impian tersebut, ia tidak ingin berpangku tangan.
Selain rajin belajar, Sahara juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti English Club, menghafal Al Quran, dan berkuda. Ia mengatakan bahwa keinginannya menjadi psikolog berasal dari kecintaannya untuk memahami permasalahan orang lain dan membantu mereka.
Namun, jika cita-citanya kuliah di Unhas tidak terwujud, Sahara memiliki rencana cadangan. Ia ingin melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan jurusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Tujuannya adalah ingin mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar yang sulit diakses, seperti para guru yang dulu menginspirasinya.
Kehidupan di Tengah Keterbatasan
Sahara lahir pada tahun 2008 di Sabah, Malaysia, di sebuah kawasan perkebunan sawit. Orang tuanya bekerja sebagai tukang kayu yang membuat rumah bagi pekerja migran Indonesia di ladang tersebut. Kedua orang tua Sahara merantau sejak tahun 1998 dan masih bekerja di Negara Bagian Sabah hingga saat ini.
Sahara tumbuh sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Satu kakaknya saat ini sedang kuliah di Yogyakarta, sementara kakak kedua memilih bekerja di Balikpapan untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Salah satu adiknya saat ini bersekolah di Jawa Tengah dengan fasilitas beasiswa dari program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).
Sahara menghabiskan masa kecil dan remajanya di Community Learning Center (CLC), sekolah formal bagi anak-anak TKI di Sabah. Dari kelas 3 SD hingga kelas 9, ia belajar di CLC yang jauh dari gambaran sekolah ideal. Jumlah guru sangat terbatas, dan hanya tiga guru yang mengajar semua kelas, dari SD sampai kelas 9.
Salah satu guru yang memberikan inspirasi bagi Sahara adalah Pak Adi Arkono, seorang guru Indonesia yang mengabdi tanpa mengambil gaji sepeser pun. Ia mengajar di ruang kelas yang dibuat dari bekas bangunan perusahaan, sehingga menanamkan pentingnya pendidikan bagi anak-anak di tengah keterbatasan fasilitas.
Masa Depan yang Diusahakan
Sahara mengaku tidak percaya ketika akhirnya bisa menginjakkan kaki di Indonesia dan masuk ke SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan. Dari 14 siswa rekannya di Sabah hanya 7 siswa yang bisa melanjutkan sekolah ke Indonesia.
Fasilitas di sekolah baru ini jauh lebih baik dibandingkan CLC di Sabah. Di CLC, pelajaran TIK hanya menggunakan tiga laptop untuk semua kelas, sementara di SMA IIS PSM Magetan semuanya tersedia.
Sahara mengatakan bahwa mendapatkan beasiswa adalah tiket untuk mencapai masa depan. Ia mengakui bahwa mencari sekolah menengah atas di ladang sawit Negara Bagian Sabah Malaysia tidak mudah. Selain harus berada di kota besar, biaya yang diperlukan juga cukup besar.
Pesan dari Orang Tua
Di balik keteguhan Sahara, ada pesan keras dari ayahnya yang meskipun hanya lulusan SD, namun selalu mendorong anak-anaknya untuk bisa mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Ayahnya pernah melarang kakak pertama Sahara berhenti sekolah karena demi membantu ekonomi keluarga. Ia bilang, biar bapak saja yang kerja, kalian fokus sekolah.
Prinsip itu dipegang teguh oleh seluruh anak dalam keluarga. Pendidikan menjadi satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan kerja kasar di ladang sawit di Sabah Malaysia.
Sahara juga memperkuat sisi spiritual dengan hafalan Al Quran sebagai bukti bahwa ia tekun membekali diri dengan semua ilmu yang dibutuhkan untuk menyambung cita-citanya di perguruan tinggi pilihan.
Meski 3 tahun tak akan pernah bertemu dengan orang tuanya, Sahara mengaku keberhasilannya akan menjadi investasi yang penting bagi kehidupan kedua orang tuanya. Aturannya memang 3 tahun tidak boleh pulang, tapi masih bisa video call seminggu bisa 3 kali.
Perjuangan yang Berbuah Harapan
Gebya, Kepala SMA IIS PSM, yang juga merupakan penggagas gerakan Sabah Bridge pada tahun 2015 lalu, melihat banyak lulusan SMP di CLC terancam menikah muda, bekerja di kebun, atau terjebak dalam lingkar kemiskinan karena tidak memiliki akses pendidikan lanjutan.
Upaya pertama pada tahun 2016 berhasil membawa 27 anak pulang meski penuh rintangan, mulai dari ketiadaan paspor hingga kegagalan terbang karena visa. Perjuangan itu akhirnya mendapat perhatian pemerintah dan menjadi cikal bakal Beasiswa Repatriasi yang kemudian masuk dalam program ADEM Repatriasi dengan pembiayaan penuh bagi anak-anak TKI.
Program ini memutus rantai pernikahan dini di lingkungan pekerja ladang sawit di Sabah. Anak-anak punya alasan yang kuat untuk menolak dinikahkan dan memilih sekolah. Dengan pendidikan, mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.







