Peran Laut dalam Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan
Laut menjadi salah satu sumber daya alam yang memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Di satu sisi, laut dilihat sebagai ruang produksi yang dapat memberikan lapangan kerja, devisa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, di sisi lain, laut juga merupakan sistem alami yang memiliki batasan-batasan ekologis yang tidak bisa diabaikan. Ketika kebijakan publik terlalu fokus pada peningkatan kapasitas penangkapan tanpa memperhatikan keberlanjutan, maka risiko krisis sumber daya akan semakin tinggi.
Dalam konteks ini, setiap tawaran investasi dan kerja sama internasional di sektor kelautan perlu dipertimbangkan secara hati-hati. Meskipun investasi penting, tidak semua bentuk investasi otomatis membawa manfaat ekonomi dan sosial yang optimal. Khususnya di sektor perikanan tangkap, sumber daya utama seperti stok ikan bersifat terbarukan namun tetap terbatas. Penambahan modal tanpa pengendalian yang tepat justru berpotensi menurunkan produktivitas, mempersempit ruang hidup nelayan, dan merusak fondasi keberlanjutan.
Konsep Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Maximum Economic Yield (MEY)
Di dalam teori bioekonomi perikanan, konsep Maximum Sustainable Yield (MSY) sering digunakan sebagai acuan dalam menentukan tingkat hasil tangkapan maksimum yang masih memungkinkan stok ikan pulih secara alami. Namun, MSY sering disalahartikan sebagai target yang aman untuk terus dikejar, padahal secara ekonomi titik ini sudah berada pada tingkat upaya penangkapan yang lebih tinggi dan rentan terhadap tekanan stok ikan.
Lebih lanjut, pendekatan MSY tidak secara eksplisit mempertimbangkan aspek biaya dan keuntungan. Di sinilah konsep Maximum Economic Yield (MEY) menjadi relevan. MEY menggambarkan kondisi di mana keuntungan ekonomi bersih dari perikanan berada pada tingkat maksimum dengan tetap menjaga kelestarian stok ikan. Pada titik ini, jumlah kapal dan effort justru lebih rendah dibanding MSY, sehingga stok ikan relatif lebih sehat, biaya operasional lebih efisien, dan kesejahteraan pelaku usaha perikanan lebih baik.
Risiko Over-Investasi dan Kesejahteraan Nelayan
Masalah muncul ketika kebijakan mendorong penambahan armada secara masif tanpa terlebih dahulu memetakan posisi perikanan nasional. Jika penambahan kapal dilakukan pada kondisi di mana effort sudah tinggi, maka yang terjadi adalah over-investment. Modal terus bertambah, tetapi hasil tangkapan per kapal menurun, biaya meningkat, dan konflik pemanfaatan sumber daya tak terhindarkan.
Dalam situasi over-investasi, janji penciptaan lapangan kerja juga perlu ditafsirkan secara kritis. Bertambahnya jumlah kapal memang berarti bertambahnya jumlah nelayan dan hari melaut, tetapi tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan. Tanpa stok ikan yang memadai, yang terjadi justru pembagian hasil yang makin kecil di antara makin banyak pelaku. Akibatnya, laut dipaksa bekerja melampaui kemampuannya, sementara manfaat ekonomi yang dijanjikan tidak sepenuhnya terwujud.
Strategi Investasi yang Berkelanjutan
Oleh karena itu, kerja sama dan investasi di sektor perikanan seharusnya tidak diukur dari seberapa banyak kapal yang dibangun, melainkan dari seberapa cerdas investasi tersebut dirancang. Penguatan tata kelola, peningkatan efisiensi armada yang sudah ada, pengembangan industri pengolahan, serta peningkatan nilai tambah hasil perikanan sering kali memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibanding sekadar menambah kapasitas tangkap.
Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan dan kerja sama internasional di sektor kelautan selaras dengan prinsip bioekonomi, dengan menjadikan MEY sebagai rujukan utama, bukan sekadar mengejar angka produksi atau jumlah armada. Pendekatan ini bukan berarti menolak investasi, melainkan menempatkan investasi pada jalur yang tepat agar manfaatnya berkelanjutan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, kekuatan maritim Indonesia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kapal yang berlayar, tetapi oleh kemampuan negara mengelola laut secara bijak. Laut yang sehat, stok ikan yang terjaga, dan nelayan yang sejahtera adalah hasil dari kebijakan yang menghormati batas alam sekaligus memahami logika ekonomi. Dalam konteks ini, kehati-hatian bukanlah penghambat pembangunan, melainkan fondasi bagi masa depan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.







