Tekanan APBN Akibat Kenaikan Harga Minyak Dunia
Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas berpotensi memberi dampak besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia yang terjadi akibat konflik tersebut diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara, sehingga pemerintah perlu menyiapkan berbagai opsi kebijakan untuk mengatasinya.
Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah rasionalisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut ekonom INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memangkas anggaran MBG lebih realistis dibandingkan menaikkan harga BBM subsidi. Hal ini karena dampak kenaikan harga BBM bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi, termasuk inflasi biaya, harga transportasi, logistik, serta daya beli masyarakat.
Program MBG sendiri diperkirakan membutuhkan anggaran mencapai Rp 335 triliun pada tahun 2026. Meskipun implementasinya masih dilakukan secara bertahap, pemerintah masih memiliki ruang untuk menyesuaikan skala program, target penerima, maupun kecepatan pelaksanaannya guna mengurangi tekanan terhadap APBN.
Rizal menekankan bahwa menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen PDB memerlukan langkah konsolidasi fiskal yang lebih struktural. Pemerintah perlu melakukan prioritisasi belanja melalui evaluasi program dan spending review agar anggaran difokuskan pada program dengan dampak ekonomi paling besar, terutama yang mendorong produktivitas dan penciptaan lapangan kerja.
Di sisi lain, penguatan penerimaan negara juga dinilai menjadi kunci untuk menjaga disiplin fiskal. Rasio pajak Indonesia yang masih sekitar 10 persen–11 persen terhadap PDB menunjukkan ruang peningkatan yang cukup besar dibandingkan negara emerging market lain yang rata-rata berada pada kisaran 15 persen–18 persen terhadap PDB.
“Karena itu perluasan basis pajak, peningkatan kepatuhan, serta perbaikan kualitas belanja menjadi langkah penting untuk menjaga disiplin fiskal tanpa mengorbakan pertumbuhan ekonomi,” ujar Rizal.
Simulasi Risiko Kenaikan Harga Minyak
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi risiko terhadap berbagai skenario kenaikan harga minyak dunia. Salah satu skenario yang diuji adalah jika harga minyak mentah rata-rata mencapai US$ 92 per barel dalam setahun. Dari simulasi tersebut, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6 persen terhadap PDB apabila pemerintah tidak mengambil langkah penyesuaian kebijakan.
Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah akan terlebih dahulu melakukan efisiensi belanja negara sebelum mempertimbangkan penyesuaian harga BBM subsidi. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah melakukan penghematan pada sejumlah komponen belanja dalam program MBG. Namun ia menegaskan efisiensi tersebut tidak akan menyentuh anggaran utama yang berkaitan langsung dengan penyediaan makanan bagi penerima manfaat.
“Yang jelas MBG programnya bagus, tapi kita ingin cegah kalau ada belanja yang tidak terlalu mendukung langsung makanan itu. Misalnya beli motor untuk seluruh SPPG atau pembelian komputer,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan untuk menunda sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years atau dapat digeser ke tahun berikutnya, termasuk sejumlah proyek di Kementerian Pekerjaan Umum.
Pertimbangan Efisiensi Belanja
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah memiliki pengalaman menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah melalui periode ketika harga minyak mencapai sekitar 150 dollar AS per barrel. “Waktu itu ekonomi memang melambat, tapi tidak jatuh. Kita punya pengalaman mengatasi situasi seperti itu,” ujarnya.
Dalam kondisi tertentu, pemerintah juga dapat mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan lain untuk menjaga stabilitas fiskal, termasuk berbagi beban dengan masyarakat apabila tekanan terhadap APBN menjadi sangat besar. Namun, ia menekankan bahwa skenario tersebut masih bersifat simulasi dan pemerintah akan terlebih dahulu menempuh langkah-langkah penyesuaian belanja agar defisit tetap terkendali.







