Bandara Ben Gurion Israel: Perubahan Fungsi yang Memicu Kekhawatiran
Bandara Ben Gurion, salah satu gerbang udara internasional utama Israel, kini menjadi pusat perhatian akibat kehadiran besar pesawat militer Amerika Serikat. Sejak konflik antara Israel dan Iran memuncak pada akhir Februari 2026, bandara ini mulai dipenuhi oleh pesawat pengisian bahan bakar militer AS. Hal ini menyebabkan gangguan serius terhadap aktivitas penerbangan sipil, serta menimbulkan kritik dari berbagai pihak di dalam Israel.
Puluhan Pesawat Tanker AS Berada di Bandara
Laporan Financial Times berdasarkan citra satelit menyebutkan bahwa sekitar 50 pesawat pengisian bahan bakar militer AS berada di Bandara Ben Gurion selama Mei 2026. Jumlah ini meningkat secara signifikan sejak perang dimulai. Pada awal Maret, hanya tercatat sekitar 36 pesawat, lalu naik menjadi 47 saat gencatan senjata April, hingga mencapai lebih dari 50 pesawat dalam beberapa pekan terakhir.
Situs militer The War Zone menyebutkan bahwa sebelum perang pecah, hanya ada sekitar 14 pesawat tanker AS di Israel. Karena kapasitas Ben Gurion mulai penuh, sebagian pesawat akhirnya dipindahkan ke Bandara Ramon di selatan Israel. Namun, hal ini justru memindahkan kepadatan ke bandara lain.
Menurut data penerbangan Flightradar24 yang dikutip Al Jazeera, sekitar sepertiga pesawat yang terpantau di Ben Gurion merupakan pesawat militer AS. Jumlah itu bahkan melampaui armada maskapai nasional Israel, El Al.
Mengapa Ben Gurion Dipilih?
Ada dua alasan utama mengapa Amerika Serikat menggunakan Bandara Ben Gurion sebagai pusat operasi udara. Pertama, faktor logistik. Bandara ini memiliki landasan pacu panjang, fasilitas bahan bakar besar, dan terhubung langsung dengan sistem pertahanan Israel.
Namun, ada juga dugaan lain yang lebih sensitif. Beberapa analis menilai penggunaan bandara sipil menandakan pangkalan militer Israel seperti Nevatim dan Tel Nof mengalami kerusakan akibat serangan Iran. Jika dugaan itu benar, maka penggunaan Ben Gurion menjadi solusi darurat bagi operasi udara AS dan Israel.
Pesawat tanker sangat penting dalam perang modern karena memungkinkan jet tempur melakukan operasi jarak jauh tanpa harus kembali mengisi bahan bakar. Menurut laporan The War Zone, armada tanker Amerika di kawasan bahkan memiliki kapasitas dua kali lebih besar dibanding kemampuan pengisian bahan bakar udara milik Israel sendiri.
Dampak pada Sektor Penerbangan Sipil
Kepadatan pesawat militer mulai menimbulkan dampak besar bagi sektor penerbangan sipil Israel. Data April 2026 menunjukkan jumlah penumpang di Ben Gurion anjlok lebih dari 73 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan juga terjadi pada penerbangan internasional dan layanan kargo.
Maskapai nasional El Al disebut kehilangan sekitar 68 persen penumpangnya, sementara ratusan pegawai dirumahkan sementara tanpa bayaran. Masalah terbesar terjadi pada keterbatasan area parkir pesawat. CEO maskapai Israir, Uri Sirkis, mengatakan perusahaannya hanya mendapat empat slot parkir malam dari sebelumnya 17 slot. Akibatnya, sejumlah maskapai Israel terpaksa memarkir pesawat di negara lain seperti Yunani, Siprus, bahkan Italia.
Kritik dari Dalam Israel
Direktur Otoritas Penerbangan Sipil Israel, Shmuel Zakai, menjadi salah satu pejabat paling vokal mengkritik situasi tersebut. Dalam surat kepada Menteri Transportasi Israel, ia memperingatkan bahwa otoritas keamanan tidak memahami besarnya kerugian terhadap sektor penerbangan sipil dan harga tiket pesawat. Ia meminta sebagian pesawat tanker AS segera dipindahkan ke pangkalan militer agar ruang bandara bisa kembali digunakan maskapai komersial.
Zakai bahkan menyebut Ben Gurion telah berubah menjadi “bandara militer dengan aktivitas sipil terbatas”.
Risiko Hukum dan Keamanan
Perubahan fungsi Bandara Ben Gurion juga memunculkan persoalan hukum internasional. Profesor hukum internasional dari University of Reading, Marko Milanovic, mengatakan penggunaan bandara sipil untuk operasi militer berpotensi menjadikannya target sah dalam konflik bersenjata. Menurut Konvensi Jenewa, fasilitas sipil seharusnya dijauhkan dari target militer sejauh mungkin untuk melindungi warga sipil.
Kekhawatiran ini semakin besar karena Ben Gurion sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan rudal yang berhasil dicegat Israel. Aktivis hukum Israel, Snir Schwartz, juga menilai perubahan fungsi bandara belum memiliki dasar hukum yang jelas dari pemerintah.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Hingga kini belum ada kepastian mengenai berapa lama pesawat-pesawat militer AS akan tetap berada di Ben Gurion. Jerusalem Post melaporkan sebagian pesawat mungkin bertahan hingga 2027. Namun media Turki Anadolu mengutip laporan Channel 12 Israel bahwa AS berencana menarik seluruh pesawat setelah tercapai kesepakatan dengan Iran.
Jika kesepakatan itu tercapai, proses pemindahan disebut bisa dilakukan dalam waktu 72 jam ke pangkalan-pangkalan Amerika di Eropa.
Dampak Buruk Bagi Israel
Kehadiran besar militer AS di Bandara Ben Gurion mencerminkan betapa pentingnya dukungan Amerika dalam operasi Israel menghadapi Iran. Pesawat tanker menjadi elemen vital karena memungkinkan jet tempur Israel dan AS melakukan operasi udara jarak jauh secara terus-menerus di kawasan Timur Tengah.
Namun penggunaan bandara sipil juga menunjukkan tekanan besar yang dihadapi Israel akibat perang berkepanjangan. Selain memukul sektor ekonomi dan penerbangan, situasi ini memperlihatkan bagaimana konflik modern dapat mengaburkan batas antara fasilitas sipil dan militer. Jika kondisi terus berlangsung, Israel berisiko menghadapi tekanan ekonomi lebih besar sekaligus meningkatnya ancaman keamanan terhadap infrastruktur sipil pentingnya.





