Program Arjuna: Langkah Konkret Pemerintah Kabupaten Brebes dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusif
Pemerintah Kabupaten Brebes resmi meluncurkan Program Akselerasi, Responsif, Jaminan Layanan, Universal, dan Nondiskriminatif (Arjuna). Program ini menjadi langkah nyata dalam menghadirkan pendidikan inklusif yang berpihak pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Peluncuran program dilakukan di SD Negeri Klampok 01, Kecamatan Wanasari, dengan penandatanganan Rencana Aksi Perubahan Kinerja Organisasi oleh Bupati Brebes Hj Paramitha Widya Kusuma SE MM. Acara ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan setiap anak memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang layak.
Bupati Brebes menyampaikan apresiasi atas inisiatif Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) yang menciptakan program Arjuna sebagai bentuk keberpihakan pemerintah kepada seluruh anak tanpa terkecuali. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi anak yang merasa tertinggal atau terpinggirkan. Semua harus dirangkul, didampingi, dan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang.
Program Arjuna mengedepankan prinsip akselerasi, responsif, jaminan layanan, universal, dan nondiskriminatif. Dengan prinsip-prinsip tersebut, layanan pendidikan inklusi di Brebes diharapkan semakin kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan. Bupati juga mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah, sekolah, dan masyarakat, untuk bersama-sama mendukung pelaksanaan program ini. Keberhasilannya tidak hanya terletak pada konsep, tetapi juga pada komitmen bersama dalam menjalankannya.
Menurut Kepala Dindikpora Kabupaten Brebes Sutaryono, program Arjuna merupakan bentuk kehadiran negara dalam menjawab kebutuhan pendidikan bagi ABK. Program ini sekaligus menjadi strategi untuk menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) dan memperkuat pendidikan inklusif yang menjunjung tinggi kesetaraan.
Saat ini masih terdapat kesenjangan akses pendidikan bagi ABK. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan fasilitas, di mana Sekolah Luar Biasa (SLB) di Brebes baru tersedia di wilayah Brebes dan Bumiayu. Karena itu, Arjuna hadir sebagai solusi agar layanan pendidikan dapat menjangkau seluruh kecamatan, termasuk melalui integrasi dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dindikpora Kabupaten Brebes Aditya Perdana menjelaskan bahwa berdasarkan data, terdapat 513 anak berkebutuhan khusus di Brebes, namun 330 di antaranya belum terlayani secara optimal. Melalui program Arjuna, pihaknya menargetkan peningkatan layanan pendidikan inklusif secara bertahap. Program ini akan dimulai melalui pilot project di enam sekolah, kemudian dikembangkan menjadi 20 sekolah, hingga pada tahun 2027 ditargetkan seluruh sekolah di Kabupaten Brebes menjadi sekolah inklusif, termasuk lembaga pendidikan nonformal seperti PKBM.
Aditya juga menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia, khususnya guru pendamping khusus. Satu guru pendamping, kata dia, idealnya menangani maksimal lima anak ABK, sehingga kapasitas sekolah dalam menerima siswa juga menyesuaikan ketersediaan tenaga pendamping.
Di tengah semangat peluncuran program, suara harapan datang dari salah satu siswa ABK, Putri Maulida. Ia berharap ke depan anak-anak berkebutuhan khusus semakin mendapatkan perlakuan yang adil dan kesempatan untuk berkembang. “Semoga ke depannya makin baik, programnya sukses, dan anak-anak ABK bisa diperlakukan lebih adil,” ujarnya.
Putri yang kini duduk di kelas 6 itu sempat bersekolah di SDN Klampok 01 sejak kelas 1 hingga kelas 5, sebelum akhirnya pindah ke SDN Klampok 05 karena kendala jarak. Meski demikian, semangatnya untuk meraih cita-cita tidak surut. Ia bercita-cita menjadi pramugari.
Peluncuran Program Arjuna ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, adil, dan tanpa diskriminasi di Kabupaten Brebes, sehingga setiap anak, termasuk ABK, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.







