Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mengalami penurunan signifikan pada pembukaan perdagangan hari Senin (8/6/2026) pagi. Penurunan ini dipicu oleh laporan peluncuran salvo rudal dari Iran ke wilayah Israel, yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kesepakatan gencatan senjata di Timur Tengah.
Sentimen geopolitik ini semakin memperburuk kondisi pasar setelah akhir pekan lalu ketika Wall Street mengalami aksi jual masif pada indeks Nasdaq. Di pasar saham regional, bursa Korea Selatan menjadi yang paling terpuruk dengan indeks acuan Kospi merosot hingga 8,4%, sementara indeks saham kapitalisasi kecil Kosdaq anjlok lebih dari 7%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun sebesar 3,4%. Kontrak berjangka Osaka dan Chicago juga terkoreksi ke kisaran 63.800 dari penutupan sebelumnya di 66.588,12. Sementara itu, indeks berjangka Hang Seng Hong Kong bergerak melemah ke level 24.544. Pasar keuangan Australia hari ini ditutup karena memperingati hari libur nasional.
Indeks Berjangka Wall Street Ikut Tertekan
Gejolak di Timur Tengah langsung berdampak pada pasar berjangka (futures) AS pada Minggu malam waktu setempat:
- Dow Jones Futures: Melemah 80 poin atau sekitar 0,2%.
- S&P 500 Futures: Terkoreksi sebesar 0,2%.
- Nasdaq 100 Futures: Turun sebesar 0,2%.
Serangan balasan dari Iran mencuatkan kekhawatiran baru mengenai stabilitas diplomasi antara Washington dan Teheran. Eskalasi militer ini menyusul pernyataan keras Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, melalui platform X. Ia menuding bahwa blokade angkatan laut AS serta dugaan pelanggaran kesepakatan di Lebanon merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang ada.
Evaluasi Rapor Merah Wall Street Akhir Pekan
Aksi jual di awal pekan ini memperpanjang luka bursa saham AS dari perdagangan Jumat lalu. Indeks Nasdaq Composite turun 4,18% ke level 25.709,43, menjadi penurunan satu hari terdalam sejak April 2025. Indeks S&P 500 ikut merosot 2,64% ke level 7.383,74, dan Dow Jones Industrial Average kehilangan 695 poin (turun ke level 50.866,78) hanya sehari setelah mencetak rekor tertinggi barunya.
Sepanjang pekan lalu, S&P 500 merosot lebih dari 2% dan Nasdaq jatuh 4,7%. Koreksi tajam pada hari Jumat dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan (payrolls) periode Mei yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut mengerek imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) dan memicu kecemasan bahwa tingginya biaya pinjaman (financing costs) dapat membebani korporasi besar yang tengah jor-joran berinvestasi pada ekspansi teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Pasar saham mungkin sedang menjadi korban dari kesuksesannya sendiri,” ujar Callie Cox, Kepala Strategi Pasar di Ritholtz Wealth Management. “Pasar tenaga kerja memang berbalik menguat, namun ancaman inflasi yang persisten tinggi kini menjadi risiko yang membayangi pikiran semua orang.”
Cox menambahkan bahwa strategi investasi yang mengandalkan pertumbuhan dan momentum (growth and momentum) telah melesat melampaui hampir semua aset sejak titik terendah pada Maret lalu. Menurutnya, pertumbuhan agresif seperti itu tidak biasa terjadi di lingkungan suku bunga dan inflasi tinggi, sehingga strategi ini sangat rentan terhadap kekecewaan jika tekanan biaya terus meningkat.
Agenda Krusial Sepekan ke Depan: Data Inflasi dan IPO SpaceX
Fokus para investor di seluruh dunia sepanjang pekan ini akan tertuju pada dua sentimen besar:
- Rilis Data Inflasi AS: Data Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) bulan Mei akan dirilis pada hari Rabu, diikuti oleh Indeks Harga Produsen (IHP/PPI) pada hari Kamis. Kedua data ini diperkirakan masih akan menunjukkan tekanan inflasi yang kuat.
- Lantai Bursa SpaceX: Debut publik perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, dijadwalkan pada hari Jumat. Melantainya SpaceX diproyeksikan menjadi salah satu penawaran umum perdana (IPO) terbesar dalam sejarah Wall Street, sekaligus menjadi ujian terbesar pasar terhadap valuasi sektor teknologi dan AI.
“Dalam siklus pasar historis, penawaran saham bernilai fantastis (blockbuster offerings) sering kali menandai puncak dari ekses pasar. Oleh karena itu, ada kecemasan tersendiri mengenai sinyal apa yang dibawa oleh IPO ini terhadap sentimen pasar ke depan,” pungkas Callie Cox.







