Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Ezri Konsa Resmi Bergabung dengan Arsenal, Akhiri Masa 7 Tahun di Aston Villa

    25 Agustus 2026

    Iran ingatkan negara Teluk: Bantuan ke AS dianggap keterlibatan bersama

    24 Agustus 2026

    Trump Kembali Lunak ke Korut, Korsel Gelar Rapat Khusus dengan Tiongkok

    24 Agustus 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Selasa, 25 Agustus 2026
    Trending
    • Ezri Konsa Resmi Bergabung dengan Arsenal, Akhiri Masa 7 Tahun di Aston Villa
    • Iran ingatkan negara Teluk: Bantuan ke AS dianggap keterlibatan bersama
    • Trump Kembali Lunak ke Korut, Korsel Gelar Rapat Khusus dengan Tiongkok
    • Persela Lamongan Target 9 Poin, Tiga Laga Awal Digelar di Surajaya
    • Pro-kontra Surat Edaran MA: Hak Terdakwa vs Korupsi Yudisial
    • Dalil praperadilan Febrie Adriansyah dibantah Kejagung, tegaskan soal penyalahgunaan jabatan
    • Praperadilan Febrie: Polisi Pastikan Pemeriksaan Tersangka Tak Sesuai KUHAP
    • Jadwal KM Lambelu Agustus 2026: Berlabuh di Pantoloan Besok, Tujuan NTT dan Kalimantan
    • Nagan Juara Inovasi di TTG Aceh 2026
    • Asuransi Mobil BYD Denza D9 EV: Perlindungan Terkini dan Premi Terjangkau
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Uncategorized»Catatan seorang jurnalis: Kembali pada fitrah

    Catatan seorang jurnalis: Kembali pada fitrah

    adm_imradm_imr27 Maret 202613 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Ringkasan Berita:

    • Setiap Lebaran, saya selalu terkenang sosok ini. Dia Ali Marjuni. Napi di Lapas Bitung. Ali dihukum berat. Pidana penjara seumur hidup.
    • Dosanya memang sulit termaafkan. Ali divonis mengotaki pembunuhan anak dan istrinya. Peristiwa itu terjadi 2008 silam. 
    • Kala Ali masih berstatus polisi. 

     

    Setiap Lebaran, saya selalu terkenang sosok ini. Dia Ali Marjuni. Napi di Lapas Bitung. Ali dihukum berat. Pidana penjara seumur hidup.

    Dosanya memang sulit termaafkan. Ali divonis mengotaki pembunuhan anak dan istrinya. Peristiwa itu terjadi 2008 silam. 

    Kala Ali masih berstatus polisi. 

    Saat istri dan anaknya ditemukan tewas, Ali sempat bikin seisi Sulut berduka ; saat ia menangis tersedu – sedu di pelukan Kapolda Sulut kala itu.

    Semua di Sulut prihatin pada Ali. Bahkan, meminjam istilah Permesta, batu, pasir dan daun pun berpihak pada Ali. 

    Ini berubah setelah polisi menangkap Rojak. Dari mulut Rojak keluar pengakuan mengejutkan. Otak pembunuhan itu ternyata Ali.

    Order pembunuhan datang dari Ali. Imbalannya segepok uang, yang kata Ali untuk modal usaha Rojak. Publik berbalik memusuhi Ali.

    Ia dikutuk beramai – ramai. Hukuman seumur hidup belum memuaskan rasa keadilan publik.

    Mereka minta Ali dihukum mati dengan cara tersadis.

    Nah 2017 lalu, saya meliput pemberian remisi Lebaran di Lapas Tewaan Bitung.

    Saat tengah foto – foto, seseorang yang tak bisa saya sebut namanya, mengajak saya ke suatu ruangan.

    “Ada orang mau ketemu,” katanya. 

    Ternyata orang itu Ali. Saya terkejut.

    Agak merinding berhadapan dengan seorang pembantai anak bini sendiri. Ali mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah foto.

    “Ini foto istri dan anak saya,” kata dia sambil meneteskan air mata. 

    “Setiap Lebaran saya selalu terkenang mereka, biasanya saat lebaran kami makan bersama,”.

    Rasanya saya ingin menonjok dia. Mereka dulu kau bunuh, kini kau rindu. 

    Mungkin Ali membaca pikiran saya. 

    Ia memperjelas duduk perkara.

    “Saya ini korban peradilan sesat,” kata Ali dengan suara bergetar, bercampur tangis dan amarah.

    Ali kemudian bercerita tentang rekayasa yang ia alami.

    Semua berbau plot. Banyak teori konspirasi. Tidak meyakinkan. 

    Tapi kata – katanya kemudian membuatku menimbang.

    “Saya dijebak, pembunuhnya sudah pernah mengakui itu, Komnas HAM pun sudah memberi rekomendasi, namun proses terhadap saya berjalan terus, saya prihatin,” kata dia.

    Ali terus curhat. Saya terus menimbang.

    “Kalau saya pembunuhnya mengapa keluarga istri saya rutin menjenguk saya kala lebaran, mereka meminta saya tabah,” kata dia.

    Ali bertekad mencari keadilan. Dia akan melakukan segala sesuatu yang mungkin, termasuk menyurat ke Presiden.

    “Kalau memang saya pembunuhnya, dihukum seperti ini saya pasti sudah terima, tapi ini bukan saya pelakunya, saya akan terus berjuang hingga keadilan datang,” kata dia.

    Kisah Sengkon Karta menjadi inspirasinya.

    Sengkon Karta adalah dua orang yang divonis bersalah melakukan pembunuhan dan telah menjalani hukuman, hingga pembunuh sebenarnya mengaku.

    Kasus Sengkon Karta menandai kelahiran upaya hukum peninjauan kembali.

    “Mungkin saja ada PK dengan mempertimbangkan faktor bahwa pembunuhnya sudah mengaku,” kata dia.

    Lebaran adalah hari Ali menyatu dengan kenangan sekaligus berpisahnya ia dengan para sahabat.

    Setiap lebaran, ada saja rekannya yang bebas karena remisi. Pun saat Natal.

    Sedang Ali dipastikan mati di penjara, mungkin juga dikuburkan di penjara. 

    Namun Ali tidak mengutuk kegelapan. 

    Ia justru coba menyalakan cahaya. Di Lapas, Ali terlibat dalam usaha batako yang kini menggeliat di Lapas.

    Ia juga aktif membangun Mesjid Lapas serta tempat jenguk keluarga.

    “Saya ingin berbuat baik untuk membuktikan saya tidak bersalah,” kata dia. 

    Ada kejujuran dalam kata kata Ali ini. Atau entahlah, mungkin ia hanya bersandiwara.

    Hanya Tuhan yang tahu. Saya hanya menunaikan tugas sebagai wartawan. 

    Saya menulis apa adanya. Saya percaya hukum. Hukum adalah bayangan sorga.

    Tapi saya tak percaya pada manusia yang mengaku tahu hukum lebih dari siapapun.

    Merekalah pelanggar hukum itu, yang pintar berakrobat untuk lolos jerat hukum, maupun membuat pasal untuk menjerat lawan politik. 

    Idul Fitri hendaknya membuat kita kembali pada fitrah.

    Hukum sesuai fitrahnya adalah menegakkan kehendak Allah di atas bumi. Bukan untuk menegakkan kehendak manusia untuk menguasai manusia lainnya. (Arthur Rompis)

    Baca Berita Tribun Manado di Google News

    WhatsApp Infomalangraya.com: KLIK 

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Cara Ampuh Menarik Perhatian dan Menciptakan Daya Tarik!

    By adm_imr21 Agustus 20261 Views

    Hadits tentang 3 golongan yang amalnya tidak diterima Allah, makna dan pelajaran bagi umat Islam

    By adm_imr5 Agustus 20265 Views

    Kecelakaan maut antara mahasiswa KKN dan truk BBM di Batulicin, 7 tewas

    By adm_imr3 Agustus 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Ezri Konsa Resmi Bergabung dengan Arsenal, Akhiri Masa 7 Tahun di Aston Villa

    25 Agustus 2026

    Iran ingatkan negara Teluk: Bantuan ke AS dianggap keterlibatan bersama

    24 Agustus 2026

    Trump Kembali Lunak ke Korut, Korsel Gelar Rapat Khusus dengan Tiongkok

    24 Agustus 2026

    Persela Lamongan Target 9 Poin, Tiga Laga Awal Digelar di Surajaya

    24 Agustus 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Gus Iqdam Bongkar Aksi Kapolresta Malang Saat Kanjuruhan Memanas, Ribuan Jemaah di Stadion Gajayana Menangis!

    4 Juni 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?