Kematian Seorang Ibu Rumah Tangga Akibat Suspek Rabies
Seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Jembrana, Bali, meninggal dunia setelah diduga terinfeksi rabies akibat serangan kucing liar. Korban, yang bernama Ni Ketut Sari atau NKS (38), dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSU Negara. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran akan penyebaran virus rabies di sekitar lokasi kejadian.
Kronologi Kejadian
Peristiwa bermula pada bulan April 2026 saat Ni Ketut Sari sedang melakukan aktivitas rumah tangga berupa menjemur pakaian di depan kediamannya. Tiba-tiba, muncul seekor kucing liar yang tidak diketahui asal-usulnya dan langsung menyerang korban. Kucing tersebut dilaporkan menggigit atau mencakar bagian betis kaki kanan korban.
Karena menganggap luka yang dialaminya berukuran kecil dan cenderung sepele, Ni Ketut Sari memutuskan untuk tidak memeriksa diri atau berobat ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat. Korban hanya melakukan penanganan mandiri dengan mencuci luka gigitan/cakaran tersebut menggunakan sabun di bawah air mengalir. Selain itu, ia juga tidak melaporkan kejadian tersebut sehingga sama sekali tidak mendapatkan suntikan Vaksin Antirabies (VAR).
Hewan liar yang menyerang korban langsung dieksekusi oleh warga sekitar tanpa adanya laporan ke instansi terkait. Hal ini menyebabkan petugas tidak dapat mengambil sampel otak hewan untuk diuji di laboratorium guna memastikan status positif atau negatif rabies pada kucing tersebut.
Gejala Muncul Sebulan Kemudian
Memasuki pertengahan Mei, masa inkubasi virus diduga mulai selesai hingga memicu timbulnya gejala klinis. Tepat sebulan setelah insiden serangan, yakni pada Sabtu, 23 Mei 2026, kondisi kesehatan Ni Ketut Sari mendadak memburuk secara drastis. Korban mulai mengalami gejala khas hidrofobia (takut air), aerofobia (takut hembusan angin), gelisah, hingga sesak napas.
Melihat kondisi yang mengkhawatirkan, pihak keluarga bergegas melarikan korban ke Puskesmas setempat, sebelum akhirnya dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Negara pada sore menjelang malam hari pukul 18.42 WITA. Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Kendali Mutu RSU Negara, dr. Gusti Ngurah Putu Adnyana, membenarkan situasi darurat saat pasien pertama kali tiba di rumah sakit.
“Saat datang, pasien mengeluhkan takut air, gelisah saat terkena angin, dan sesak napas sejak satu hari sebelumnya. Kondisi pasien bahkan sudah memberontak saat diberikan air minum dan oksigen,” kata Putu Adnyana saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026).
Setelah melalui pemeriksaan awal, pasien didiagnosis mengalami ensefalitis atau peradangan pada otak akibat infeksi virus. Tim medis pun langsung memindahkan korban ke ruang perawatan khusus untuk mendapatkan penanganan sesuai prosedur operasional standar (SOP) rumah sakit.
Langkah Dinas Kesehatan dan Sosial
Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Jembrana, dr. I Gusti Bagus Ketut Oka Parwata, menambahkan bahwa pascakematian korban, tim medis langsung bergerak melakukan tracing dan memberikan proteksi dini kepada lingkaran terdekat. “Setelah itu kita langsung melakukan penelusuran di sekitar tempat tinggal korban kasus suspek rabies tersebut. Kemudian untuk VAR kita sudah berikan ke keluarga terdekat sebagai antisipasi,” tegas Oka Parwata.
Kematian warga Desa Tukadaya ini langsung direspons cepat oleh Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana. Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, menyatakan pihaknya langsung menggelar program eliminasi dan vaksinasi darurat. “Sejak menerima laporan (adanya warga meninggal dunia suspek rabies), kita lakukan vaksinasi emergency di sekitar lokasi atau rumah warga tersebut,” kata Sugiarta.
Dari operasi darurat tersebut, petugas di lapangan berhasil menyuntikkan vaksin rabies kepada 21 ekor Hewan Penular Rabies (HPR) di sekitar permukiman korban, serta melakukan kontrol populasi terhadap 4 ekor hewan.







