Program Hospital Literacy di Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang
Di ruang perawatan IRNA IV, Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang, terdapat sebuah program yang mengubah wajah rumah sakit menjadi tempat yang lebih hangat dan penuh harapan. Program tersebut dikenal dengan nama Hospital Literacy. Tidak hanya sebagai ruang baca, program ini menjadi wadah yang memadukan literasi, bermain, dan harapan bagi anak-anak yang sedang menjalani perawatan jangka panjang.
Menciptakan Ruang Alternatif untuk Anak-Anak
Celotehan dan tawa anak-anak sering kali terdengar di tengah kesibukan dokter dan perawat. Di sini, pendongeng bercerita sambil menari-nari, membuat suasana klinik menjadi lebih hidup. Ini adalah wajah lain dari rumah sakit yang tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada kesejahteraan emosional pasien.
Program Hospital Literacy dilahirkan dari kepedulian dokter Spesialis Anak RSSA, dr Kurniawan Taufiq Kadafi SpA(K) M BIMOED. Ia melihat bahwa anak-anak yang menjalani terapi berulang sering merasa bosan dan kehilangan aktivitas. Dari situ, ia mencoba menyediakan buku dan ruang membaca agar mereka bisa memiliki aktivitas selain proses pengobatan.
Awal Mula Program Hospital Literacy
Cikal bakal Hospital Literacy dimulai sekitar tahun 2017. Saat itu, Kurniawan sedang menempuh pendidikan subspesialis dan melihat langsung bagaimana anak-anak pasien sering kehilangan aktivitas selama masa perawatan. Ia kemudian bersama rekan alumni dan komunitas menginisiasi pengumpulan buku.
Respons masyarakat sangat positif. Dalam waktu singkat, terkumpul tiga karung buku yang kemudian didistribusikan ke pasien menggunakan troli. Awalnya, buku-buku ini ditempatkan di kamar-kamar pasien, sehingga anak-anak bisa membacanya di tempat atau membawanya pulang.
Pengembangan Program dan Kolaborasi
Seiring berjalannya waktu, program ini tidak lagi berjalan sendiri. RSSA berkolaborasi dengan komunitas Sahabat Anak Kanker yang telah memiliki ruang bermain dan koleksi buku. Kolaborasi ini melahirkan konsep Hospital Literacy yang lebih terstruktur.
Buku tidak hanya tersedia di troli, tetapi juga ditempatkan di berbagai titik seperti gazebo dan ruang baca khusus anak. Di ruang yang disebut “markas jagoan”, anak-anak bisa membaca, bermain, bernyanyi, hingga mengekspresikan diri. Di sini, mereka bebas berekspresi, baik membaca, bermain, atau sekadar berkumpul.
Selain itu, kegiatan seperti mendongeng, terapi bermain, dan perayaan Hari Anak rutin digelar. Meski belum sepenuhnya konsisten, program ini terus berkembang.
Literasi untuk Tenaga Medis
Hospital Literacy tidak hanya menyasar pasien anak, tetapi juga mendorong tenaga medis untuk terlibat dalam budaya literasi, khususnya menulis. Kurniawan ingin literasi ini tidak hanya untuk pasien, tetapi juga untuk tenaga medis. Membaca dan menulis merupakan bagian dari pengembangan diri.
Beberapa dokter bahkan telah menghasilkan buku yang dipajang dan dijual dalam kegiatan seminar atau komunitas medis. Di sisi lain, rumah sakit juga berencana membuka ruang baca khusus untuk mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan sebagai bagian dari pengembangan literasi internal.
Mengurangi Ketergantungan pada Gawai
Dalam praktiknya, Hospital Literacy menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai selama dirawat. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya terhibur, tetapi juga terstimulasi untuk belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Daripada hanya main gadget, mereka diajak membaca, bermain, atau mendengarkan cerita. Hal ini memberi mereka kesempatan untuk tetap aktif dan terlibat dalam aktivitas yang bermanfaat.
Hospital Schooling: Sekolah di Dalam Rumah Sakit
RSSA kini tengah mengembangkan konsep lanjutan, yakni hospital schooling, sebuah sekolah di dalam rumah sakit. Program ini ditujukan bagi pasien anak dengan penyakit kronis seperti kanker, gangguan ginjal, dan autoimun yang harus menjalani perawatan dalam jangka waktu lama hingga terpaksa meninggalkan sekolah.
Kurniawan ingin anak-anak tetap bisa belajar. Nanti akan ada koordinasi dengan sekolah asal, sehingga anak tidak tertinggal pelajaran. Guru akan mengajar di rumah sakit dengan menyesuaikan kondisi pasien, dan materi pembelajaran akan disinkronkan dengan kurikulum sekolah asal.
Namun, implementasi program ini masih menghadapi tantangan, terutama terkait keberlanjutan tenaga pengajar dan skema pendanaan. Kurniawan berharap bisa mendapatkan dukungan, termasuk dari CSR, agar program ini bisa berjalan secara konsisten.
Esensi Hospital Literacy
Di balik semua rencana besar tersebut, esensi Hospital Literacy tetap sederhana: menjaga harapan anak-anak agar tetap hidup. Mungkin ada seorang anak yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Namun di tangannya, sebuah buku bisa membawa imajinasi, semangat, dan kebahagiaan kecil yang berarti.
Kurniawan berharap anak-anak tetap punya dunia mereka. Dunia bermain, membaca, dan bermimpi. Walaupun mereka sedang sakit, mereka tetap bisa merasakan kehangatan dan harapan.






